Wacana Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Barito Kuala ke Handil Bakti, Mimpi Liar yang Tertolak
izak-Indra Zakaria• 2023-01-06 12:35:32
JEMBATAN BASIT: Jembatan Sungai Alalak yang menghubungkan antara Banjarmasin dan Barito Kuala, dipotret pada malam hari (5/1). | FOTO: WAHYU RAMADHAN RADAR BANJARMASIN
Unggahan anggota Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda di Instagram menyulut kegaduhan di Kabupaten Barito Kuala. Hanya berjarak dua hari dari perayaan hari jadi Batola ke-63, mantan dosen Universitas Lambung Mangkurat itu menyarankan pemindahan ibu kota kabupaten.
Dari Kecamatan Marabahan ke Kecamatan Alalak. “Alalak ini, dia kecamatan, tapi karakteristiknya perkotaan. Saya bermimpi, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Marabahan, suatu hari ibu kota harus pindah ke Alalak,” ujarnya dalam video tersebut.
“Kenapa? Karena kalau pusat pembangunannya di sini, tidak terlalu sulit membangun kota metropolitan Banjarbakula. Tidak njomplang antara Banjarmasin, Banjarbaru dan Handil Bakti atau Alalak,” tambahnya. Rifqi bahkan menyebut Handil Bakti sebagai masa depan Batola. Dan mengundang para arsitek lokal untuk mengeroyoki rancangan pembangunannya.
Terakhir, Rifqi merasa perlu perkantoran bupati dan pemkab dipindahkan ke sekitar kampus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin di Jalan Gubernur Syarkawi. Namun, wacana itu ditentang. Penolakan bahkan datang dari sesama kader PDIP.
Anggota DPRD Kalsel, Fahrin Nizar menolak usulan Rifqi. “Secara tegas menolak. Dan ulun (saya) bicara sebagai warga Batola,” ujarnya (5/1). “Mohon maaf, saya lebih paham tentang Barito Kuala ketimbang beliau,” tambahnya. “63 tahun kabupaten ini berdiri, tidak pernah ada masalah dengan ibu kota berada di Marabahan,” lanjutnya. Fahrin khawatir, pernyataan Rifqi akan membentur-benturkan warga Marabahan dan Alalak. “Jangan sampai terjadi (perpecahan). Tidak elok, pada perayaan harjad, ada riak yang dipicu oknum politisi,” tegasnya.
“Mohon teman-teman politisi, mohon bijak saat menyampaikan statement kepada masyarakat,” pintanya.
Namun, ia tak menolak pengembangan kawasan Handil Bakti. Dia menyebut Alalak sebagai kota satelit bagi Banjarmasin. “Alalak punya peluang untuk berkembang tanpa harus menjadi ibu kota,” ujarnya. “Sebab memindahkan ibu kota perlu kajian komprehensif, anggaran besar, dan energi yang terkuras. Kita tahu Batola jauh dari kata maju. Banyak hal yang lebih penting. Seperti infrastruktur, itu lebih urgen,” pungkasnya.
Penolakan juga datang dari dosen sosiologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Nasrullah.
Akademisi asli Bakumpai itu mengatakan, tidak ada kebutuhan atau kejadian mendesak hingga harus ada pemindahan ibu kota kabupaten. “Jadi memang benar-benar cuma mimpi,” cecarnya.
Dia bahkan mencapnya sebagai mimpi liar yang berbahaya. Rawan memecah belah penduduk Alalak dan Marabahan. Nasrullah juga tak menangkap wacana itu sebagai aspirasi masyarakat, datang dari bawah ke atas. Sebaliknya, disodorkan dari atas ke bawah.
Argumen lainnya, mengabaikan aspek sejarah. Sebab Marabahan adalah kota perjuangan. Dan pernah menjadi bandar dagang internasional pada masa Kesultanan Banjar. “Jadi pandangan si wakil rakyat ini ahistoris,” tegasnya.
Sedangkan dari segi pembangunan, posisi Marabahan sudah pas. Terhubung dengan Kapuas. Lalu terkoneksi dengan Tapin dan HSU melalui proyek Kutabamara. “Dia buta dinamika yang berkembang, di mana akses Hulu Sungai justru menggunakan jalan alternatif di seberang Marabahan,” tutupnya. (bar/gr/fud)