Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ponpes Ini Pertahankan Papan Tulis Kapur dan Duduk Lesehan

izak-Indra Zakaria • Jumat, 13 Januari 2023 - 20:24 WIB
LESEHAN: Suasana belajar mengajar di Ponpes Al-Mubarok Putra, masih mempertahankan cara belajar pondok salafiah, meski tetap memfasilitasi santri untuk mengikuti pembelajaran umum. | FOTO: NORSALIM YAHYA/RADAR BANJARMASIN
LESEHAN: Suasana belajar mengajar di Ponpes Al-Mubarok Putra, masih mempertahankan cara belajar pondok salafiah, meski tetap memfasilitasi santri untuk mengikuti pembelajaran umum. | FOTO: NORSALIM YAHYA/RADAR BANJARMASIN

Diantara rumah-rumah warga yang berjejer rapi di wilayah Kelurahan Sarang Halang, Kecamatan Pelaihari terdapat sebuah pondok pesantren (Ponpes) yang masih berdiri kokoh. Ponpes itu ialah Ponpes Al-Mubarok yang didirikan oleh salah satu orang ulama kharismatik di Bumi Tuntung Pandang, yakni Almarhum KH Askani Sahrim.

 

Norsalim Yahya, Pelaihari

Kini, ponpes yang didirikan pada tahun 1993 itu dipimpin oleh Guru H Khairussadi. Disamping itu, Guru Sadi sapaan akrabnya juga aktif menjadi tenaga pendidik di Ponpes yang berjarak 50 meter dari Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Sarang Halang. Pada awal berdiri, ponpes ini berada di Desa Tampang, Kecamatan Pelaihari dengan ponpes putri yang jadi paling pertama berdiri. Setelah berjalan kurang lebih dua tahun, kemudian ponpes putra dibangun di sekitaran Jalan Ahmad Yani pada tahun 1995 dan aktif hingga sekarang.

Di tahun 2003 ponpes putri di Desa Tampang terpaksa tutup, karena murid-muridnya tidak ada, serta guru-gurunya juga banyak yang sibuk mengajar di ponpes putra. Setelah beberapa tahun ditutup, seiring dengan bangkitnya semangat warga di Pelaihari menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan agama, ponpes putri kembali dibangun oleh pihak yayasan, tetapi lokasinya tidak lagi di Desa Tampang, lagi melainkan di Kelurahan Sarang Halang, tidak jauh dari Ponpes Putra.

Letaknya sekitar 150 meter dari Jalan Ahmad Yani Kelurahan Sarang Halang, dekat lingkungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rumah Potong Hewan Pelaihari. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tahun 2018. Setelah satu tahun berjalan, pembangunan Ponpes Al-Mubarok Putri akhirnya selesai pada tahun 2019, berselang satu tahun yakni 2020 ponpes itu resmi beroperasi.

Guru Sadi menceritakan, awal berdirinya pesantren tersebut mengalami pasang surut, namun hal itu bukan menjadi penghalang untuk tetap eksis bersaing dengan ponpes-ponpes baru berdiri. “Al-Mubarok ini merupakan salah satu ponpes salafiyah yang ada di Kota Pelaihari,” ucapnya.

Meski bertipe salafiyah, ponpes ini juga mengikutkan murid-muridnya untuk mengikuti ujian paket, tujuannya agar murid-murid yang lulus disana bisa meneruskan ke sekolah-sekolah umum. Disana juga tidak melulu belajar ilmu agama, melainkan juga ada pelajaran umum.

“Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum diniyah, dan tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang,” beber Guru Sadi yang juga Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Syuhada Pelaihari ini. Adapun mata pelajaran yang di pesantren ini diantaranya, tata bahasa arab, nahwu, shorof, lughot, hadits, fiqih, tauhid, dan tafsir. Sedangkan pelajaran umum itu sama dengan pelajaran yang diujian pada program paket.

Di ponpes ini ada tiga tingkatan, yaitu ibtidaiyah, wustho, dan aliyah. Untuk ekstrakulikulernya adalah maulid dan juga burdahan. Dalam mendidik murid-murid yang bersekolah di sana, Guru Sadi dibantu tenaga pengajar berjumlah 15 orang.

Di Ponpes Al-Mubarok, baik putra maupun putri ada disediakan asrama untuk tempat tinggal murid. Di ponpes putra ada dua bangunan asrama yang didirikan, lokasinya berada tepat di belakang ruang kelas. Sedangkan untuk ponpes putri lokasi asramanya berseberangan dengan ruang kelas. “Murid-murid disini sebagian besar tinggal di asrama dan ada yang pulang,” ungkapnya.

Terdapat hal unik di ponpes ini, dalam kegiatan belajar-mengajar ponpes ini masih menggunakan kapur tulis dan murid-murid duduk di lantai (lesehan).

Di dalam lingkungan ponpes, selain ada bangunan kelas dan asrama, juga ada sebuah musala yang menjadi tempat kegiatan murid-murid untuk salat, membaca selawat, burdah, latihan habsyi dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Di dalamnya juga terpajang foto pendiri pesantren tersebut yaitu Alm KH Askani Sahrim, selain itu juga ada sebuah kantor yang posisinya berhadapan dengan musala.

Saat ini Ponpes Al-Mubarok Putri yang berjarak 100 meter dari Ponpes Putra sudah memiliki fasilitas yang cukup lengkap, disana sudah berdiri ruang kelas dan ruang asrama. Namun ada beberapa bangunan yang belum selesai, yakni ada beberapa ruang asrama yang belum memiliki atap, serta musala yang belum selesai.

Oleh karena itu, ada beberapa ruang kelas yang difungsikan untuk sementara waktu menjadi musala, kantor, dan aula untuk pertemuan. “Insya Allah tahun ini akan diselesaikan bangunan asrama putri dan musala,” ungkap Jauhari, salah satu pengurus yayasan Ponpes Al-Mubarok. Setelah selesai bangunan asrama dan musala, maka ruang kelas selama ini digunakan untuk musala akan dikembalikan fungsinya menjadi ruang kelas. “Pada tahun selanjutnya akan di bangun kantor beserta aula,” pungkasnya. (sal/ij/bin)

Editor : izak-Indra Zakaria