Di Banjarmasin, pemuda 25 tahun gantung diri. Pada hari yang sama, di Tabalong, remaja 12 tahun ditemukan ayahnya bun*h diri. MUI khawatir dengan maraknya kasus ini, pihaknya mengajak agar warga bersabar dan lebih dekat dengan Yang Kuasa. Bagaimana pendapat Psikolog?
****
Pemuda 25 tahun ditemukan tergantung di rumahnya di Jalan Gatot Subroto Gang Rama, Banjarmasin Timur kemarin (5/7) pagi. Tragis, yang pertama kali menemukan MR adalah kekasihnya sendiri, TN.
Perempuan itu curiga karena sang pacar tak kunjung membalas pesan yang ia kirimkan. MR meninggalkan selembar surat. Di atas kertas HVS itu, dengan tulisan tangan, MR meninggalkan pesan berisi ucapan terima kasih atas kebaikan hati keluarga dan TN.
Penuturan keluarga, MR memang anak yang pendiam. Pandai menyimpan masalah sendiri. Kapolsek Banjarmasin Timur, Kompol M Taufiq Qurahman melalui Kanit Reskrim, Ipda Partogi Hutahaean mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir MR sempat tinggal di rumah kerabat pacarnya di Jalan Manunggal II Gang 7, Banjarmasin Timur.
Ia ditampung di situ karena menganggur setelah berhenti bekerja. “Sebelumnya, MR dan kekasihnya sempat jalan berdua. Ia sempat mengajaknya makan malam,” kata Partogi.Pada malam terakhir itu, MR curhat, mengaku malu dengan keluarga TN. “MR menyebut keluarga TN terlalu baik, mau menampung dirinya,” sambungnya. Kepada TN, MR mengaku terpikir untuk mengambil pinjaman online. Duitnya dipakai untuk menyenangkan sang kekasih.
“Jadi bisa disimpulkan, motifnya karena korban tak tahan menahan beban hidup. Terlihat dari isi surat yang ditinggalkannya,” jelas Partogi. “Selama tiga bulan ini, ia sudah ke sana kemari mencari pekerjaan baru. Tetapi tak kunjung dapat,” tambahnya. Perihal kondisi jenazah, tubuh MR belum sempat lebam dan kaku. “Diperkirakan dua tiga jam setelah ditemukan,” ujarnya. Kakak kandung MR, Reza menceritakan, rumah di Gatot Subroto itu merupakan milik orang tua mereka. Sudah kosong selama setahun terakhir.
“Terakhir bertemu sehari sebelum dia gantung diri. Dia minta uang dan saya kasih,” bebernya. Diceritakannya, adiknya selama ini memilih hidup mandiri. Memilih tinggal di indekos. Reza menyesalkan mengapa MR sampai mengambil keputusan ini. “Tekanan hidup yang terlalu berat. Dia akhirnya tak tahan,” tutupnya.
Ditemukan Ayahnya
Remaja 12 tahun ini gantung diri menggunakan tali ayunan yang disambungkan dengan ikat pinggang. Anak malang ini bunuh diri di rumahnya di Kecamatan Tanta Kabupaten Tabalong. Informasi yang beredar di grup WhatsApp emergency, korban ditemukan ayahnya pukul 18.15 Wita, menjelang Rabu (5/7) malam.
Setelah memarkir mobil dan membuka pintu rumah, sang bapak melihat anaknya tergantung di ruang tengah.
Ia segera menurunkan anaknya. Setelah diperiksa bidan setempat, dipastikan denyut nadi korban sudah tak berdetak. Korban dinyatakan meninggal dunia.
Sampai berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari kepolisian. (lan/ibn/gr/fud)
Bertahanlah… Walau Berat
ARW berkali-kali berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Syukur, perempuan 22 tahun itu masih bertahan. Sewaktu berkonsultasi dengan ahli, ARW disebut mengidap bipolar. Pengidap bipolar kerap menghadapi perubahan emosi drastis. “Kadang sewaktu lagi capek-capeknya, ada masalah lain yang timbul, seperti pertengkaran keluarga,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin (5/7).
Perempuan kelahiran Tangerang itu meluapkan emosinya dengan melukai dirinya sendiri: menyayat tangannya dengan benda tajam. ARW bukan tak punya teman untuk bercerita. Tapi masukan yang datang kepadanya mental. Tak semua masukan bisa ia terima dengan mudah. Ia juga pernah berkonsultasi rutin selama setahun dengan ahli. “Aku diberi obat penenang juga. Tapi aku berhenti karena takut ketergantungan,” ujarnya. ARW sekarang tinggal di Kabupaten Tanah Bumbu. Seorang karyawan di perusahaan swasta di Batulicin.
Kendati terpikir bunuh diri karena masalah keluarga, tetapi keluarga pula yang membuatnya mengurungkan niat itu. “Aku masih memikirkan adik-adikku,” ungkapnya. Sampai sekarang, suatu waktu, ARW masih meluapkan emosinya dengan cara yang sama: melukai diri sendiri.
Ditanya apa yang ia pikirkan saat di fase emosional itu, ARW menjawab tak begitu memikirkan risiko ke depan. Ia merasa sayatan itu dapat membuatnya lebih tenang.
“Kalau sudah sakit, ya sudah, aku berhenti,” tukasnya.
Kurang Berdoa dan Kurang Curhat
TREN bunuh diri di Banua membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) khawatir. “Ini menyedihkan. Apalagi remaja, yang masih muda, gampang sekali putus asa,” kata Wakil Ketua MUI Kalsel, Prof Hafiz Anshari (5/7).Dari sudut agama, Hafiz menegaskan hukumnya tak perlu lagi diperdebatkan. “Sudah jelas (haram). Tak boleh berputus asa hingga bunuh diri,” tegasnya.
Dia menyebut, Allah takkan pernah membebani seseorang melebihi batas kemampuannya. “Jika mau bersabar, Allah pasti akan memberikan jalan keluar dari cobaan,” ujarnya. “Bunuh diri bukan jalan terbaik. Karena bunuh diri bukan akhir dari perjalanan. Justru menambah masalah baru di hadapan Tuhan,” sambungnya.
Hafiz memandang ada banyak faktor yang mendorong seseorang bunuh diri. Seperti masalah lingkungan hidup, keluarga, ekonomi, dan kurangnya pengetahuan agama. “Sebagai orang yang beragama, mestinya bisa berpikir jernih. Kalau sedang ada cobaan, justru harus mendekatkan diri. Memohon pertolongan-Nya,” pungkasnya.
Terpisah, psikolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Sukma Noor Akbar mengatakan, ada banyak faktor hingga seseorang memutuskan bunuh diri. Seperti didera gangguan psikologis, depresi, stres berat, gangguan kecemasan, trauma, psikotik, atau pengaruh narkotika.
Masalah kesehatan mental itu bisa dipicu oleh persoalan ekonomi, sakit keras, perundungan, percintaan dan karir. “Bahkan faktor kepribadian seperti introvert, kurang bersosialisasi juga rentan memunculkan ide bunuh diri,” terangnya.Bagaimana menekan ide bunuh diri itu? Sukma menjawab, selain pendekatan spiritual, kuncinya adalah curhat. Memiliki seseorang yang bisa dipercaya untuk tempat bercerita. “Kepedulian akan membuat dia menjadi lebih kuat dalam menghadapi dan mencari jalan keluar dari persoalannya,” tutupnya. (lan/ibn/mof/dza/gr/fud)
Editor : izak-Indra Zakaria