Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Berantas Prostitusi Pembatuan, Banjarbaru Mengaku Kesulitan

izak-Indra Zakaria • Senin, 17 Juli 2023 - 05:48 WIB
MASIH BERAKTIVITAS: Petugas Satpol-PP Kota Banjarbaru menemukan alat kontrasepsi dari salah satu rumah di kawasan Pembatuan pada razia 2 Mei 2023 lalu (FOTO: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
MASIH BERAKTIVITAS: Petugas Satpol-PP Kota Banjarbaru menemukan alat kontrasepsi dari salah satu rumah di kawasan Pembatuan pada razia 2 Mei 2023 lalu (FOTO: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

 Kasus pembunuhan terhadap seorang wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) berinisial N (33) di eks lokalisasi Pembatuan, Kecamatan Landasan Ulin, pada Kamis (13/07) dini hari, cukup menyita perhatian.

Pasalnya, kabar kematian N akibat dicekik oleh teman kencannya itu menimbulkan tanda tanya atas kinerja Pemko Banjarbaru dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas prostitusi di kawasan tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh Wahyu, warga Kelurahan Loktabat Utara itu bingung dengan sebutan ‘eks-lokalisasi’ di kawasan Pembatuan tersebut. “Emang benar masih buka? Infonya beberapa tahun lalu sudah ditutup. Tapi gara-gara ada berita (kematian PSK) kemarin saya jadi tahu kalau (prostitusi) di sana masih aktif ” ujarnya. 

Apa yang membingungkan Wahyu tersebut, sepertinya wajar terjadi. Sebab pada tahun 2016, Pemko Banjarbaru dan Kementerian Sosial sudah melakukan upaya penutupan lokalisasi di wilayah Pembatuan. Yakni dengan cara memulangkan pekerja seks ke daerah asal sekaligus menutup aktivitas prostitusi terlarang di wilayah tersebut.

Bahkan Pemko Banjarbaru setelah membeli sebagian lahan dan membangun kantor kecamatan Landasan Ulin di eks lokalisasi Pembatuan. Namun langkah tersebut seperti tidak ada dampaknya, pasalnya saat ini para pekerja seks dan mucikari tetap beraktivitas di sana. 

Selain kematian N, hal itu juga terbukti dari operasi Satpol-PP Kota Banjarbaru pada awal Mei 2023 lalu. Waktu itu, Satpol-PP mengamankan seorang PSK bersama barang bukti berupa sejumlah kondom dan tissue magic yang disediakan di dalam kamar.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Banjarbaru M Aditya Mufti Ariffin mengakui, pihaknya agak kesulitan dalam memberantas praktik prostitusi di Pembatuan tersebut. “Karena petugas kita (Satpol-PP) seperti kucing-kucingan dengan para PSK di sana, hal itulah yang membuat kami agak kesusahan,” ungkapnya saat ditemui Radar Banjarmasin di Gedung DPRD Kota Banjarbaru, Jumat (14/07) siang.

Kendati demikian, orang nomor satu di Kota Idaman itu menegaskan, pihaknya selalu mengingatkan Satpol-PP untuk tidak lengah dalam mengawasi lokasi Pembatuan. “Dari pemerintah kota dan secara pribadi, saya sudah meminta Satpol untuk bertindak jika ada informasi baik dari masyarakat terkait aktivitas prostitusi di sana (Pembatuan),” ungkapnya.

“Jika ada yang melihat, laporkan saja, kami akan langsung menugaskan Satpol PP untuk melakukan tindakan. Untuk sekarang saya sudah minta Satpol untuk meningkatkan pengawasan termasuk pengecekan di lapangan,” tambahnya. Selain itu pihaknya juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian dalam setiap kali melakukan pengawasan eks lokalisasi Pembatuan tersebut. “Tujuannya tidak lain agar tidak ada lagi PSK yang menjajakan diri di Ibu Kota Provinsi Kalsel ini,” tukasnya. 

“Kita berharap tempat-tempat prostitusi ini bisa benar-benar ditutup dengan berbagai cara yang sudah kami lakukan,” harapnya.

Kemudian, Aditya menambahkan, upaya membasmi prostitusi di sana juga dilakukan dengan membangun fasilitas ruang publik yang bertujuan meramaikan lokasi tersebut. Seperti pembuatan lapangan dan ruang terbuka hijau (RTH).

“Pembangunan itu sedang berlangsung di sana, sehingga kalau tempat itu ramai, orang datang ke sana akan segan, ini yang kita harapkan. Sehingga prilaku-prilaku ini (prostitusi) bisa kita hentikan,” jelasnya. Meski diakuinya jika penyakit masyarakat ini tak mudah dihentikan hanya dengan penutupan dan pemberian bantuan. “Pada saat penutupan dulu sudah ada bantuan-bantuan untuk alih profesi dan lain-lain. Ternyata ini (prostitusi) masih berjalan, jadi mungkin opsi lain yang kita perlukan untuk menyelesaikan masalah ini,” ucap Wali Kota.

Lantas, bagaimana langkah Pemkot dalam menindaklanjutinya? Terkait hal itu, Aditya bilang, selain terus melakukan pengawasan melalui instansi terkait, pihaknya perlu lebih gencar dalam mengedukasi masyarakat agar menjauhi perilaku menyimpang tersebut. 

“Dengan mengedukasi dan membangun fasilitas umum seperti membuka RTH tadi, kita berharap daerah tersebut ramai dan pelaku PSK ini bisa beralih profesi, mungkin karena ramai bisa bikin rumah makan atau lainnya, intinya beralih dari bidang itu,” lugasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian Operasi Satpol PP Banjarbaru Yanto Hidayat memastikan, pihaknya akan menindaklanjuti perihal keberadaan PSK di Pembatuan tersebut. “Yang jelas pengawasan kamu akan lebih intensif. Khususnya patroli ke arah eks lokalisasi Pembatuan Jalan Kenanga,” ujarnya saat dihubungi Radar Banjarmasin, Jumat (14/07) malam. 

Ia menekankan, agar para pemilik rumah di sana tidak menyewakan kamar kepada sembarang orang. Terutama kepada para PSK untuk menjajakan jasanya kepada pria hidung belang. “Kami harap warga di sana bisa mematuhi himbauan yang sebenarnya sudah lama dikeluarkan. Sekali lagi, jangan menyediakan kamar untuk dipergunakan sebagai tempat prostitusi,” tandasnya. (zkr/yn/ram)

Editor : izak-Indra Zakaria