Dari Januari sampai November 2023, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Banjarmasin mencatat 160 kasus kebakaran. Itu lebih banyak dari jumlah kasus kebakaran dua tahun sebelumnya. Rinciannya, 38 kebakaran terjadi di Kecamatan Banjarmasin Tengah, 33 kebakaran di Banjarmasin Selatan, dan 31 kebakaran di Banjarmasin Utara.
Lalu 30 kebakaran di Banjarmasin Barat, terakhir 28 kebakaran di Banjarmasin Timur. "Peningkatannya hampir 70 persen dari tahun 2022. Saat itu sebanyak 106 kasus," ungkap Plt Kepala DPKP Banjarmasin, Husni Thamrin, belum lama ini. "Sedangkan pada 2021 hanya 97 kebakaran," tambahnya.
Husni menilai, lonjakan jumlah kasus kebakaran itu dipicu musim kemarau yang lebih panjang dan lebih panas.
Walaupun penyebab paling dominan tetap korsleting listrik. "Hasil diskusi dengan PLN, tegangan listrik di bawah 900 kwh memang rentan korslet," ujarnya.
Menurutnya, banyak warga yang mengganti sendiri MCB (alat pembatas dan pemutus arus listrik) untuk menaikkan tegangan listriknya.
"Ketika itu terjadi, bisa membuat MCB-nya panas. Memicu percikan api," jelasnya.
"Di samping akibat kelalaian sendiri," sambung Husni yang merangkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin itu.
Rencananya, DPKP Bersama PT PLN (Persero) akan turun ke permukiman rawan kebakaran. "Kami akan berikan edukasi kepada masyarakat, secepatnya," pungkasnya. (*)