Nama acaranya adalah Deklarasi Kebangkitan Kayu Tangi untuk Demokrasi yang Bermartabat.
Rencana semula, deklarasi dibacakan di open space (lapangan terbuka) ULM. Namun, karena cuaca mendung, bergeser ke depan gedung Rektorat.
ULM mengajak semua pihak yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pemilu agar memperhatikan dan melaksanakan empat poin ini.
Pertama, laksanakan pemilu sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku. Kedua, jangan memisahkan etika dari proses berdemokrasi. Karena etika adalah pedoman penting, bahkan lebih penting dari aturan yang tertulis.
Ketiga, wujudkan pemilu yang langsung, umum dan bebas. Pemilu yang rahasia, jujur dan adil (luber dan jurdil). Terakhir, pelihara persatuan sebelum dan sesudah pemilu. Indonesia harus tetap aman dan damai. "Yang disampaikan adalah sebuah kejujuran, tidak ada mengadu domba, atau menyerang.
Sifatnya keilmuan seperti yang kami berikan kepada mahasiswa di bangku kuliah," kata Ketua Senat ULM Banjarmasin, Prof Hadin Muhjad usai pembacaan deklarasi.
Sudah sewajarnya sivitas akademika memberikan masukan kepada pemerintah jika ada hal yang melenceng dari jalur. Dan mimbar bebas adalah tradisi kampus. Menurut Hadin, maraknya pernyataan sikap perguruan tinggi itu menandakan anak bangsa yang sedang resah dengan kondisi republik hari ini. "Kita hanya ingin pelaksanaan Pemilu 2024 berjalan luber dan jurdil,” harap Guru Besar Fakultas Hukum ini.
Ditekankannya, sendi-sendi bangsa ini berdiri di atas hukum dan demokrasi. Dan konstitusi dibuat untuk menjadi pondasinya.
"Maka ketika konstitusi mau dikoyak-koyak, tidak bisa dan tidak boleh dibiarkan. Harus disikapi," tegas Hadin. Setelah deklarasi, selanjutnya apa? Hadin mengaku sedang menunggu langkah kampus-kampus besar lainnya. "Kita akan ikut dengan kampus besar lainnya," jawabnya.
Konteks
Kampus-kampus di Indonesia bergejolak setelah Jokowi mengeluarkan pernyataan bahwa presiden dan menterinya boleh memihak dan berkampanye.
Sebelum itu, kritik sudah ramai. Gara-gara Mahkamah Konstitusi diacak-acak untuk memuluskan langkah anak sulung presiden, Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres.Pada hari yang sama, selain ULM, UI juga membacakan petisi di depan gedung rektorat.
Usai penyampaian petisi, Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UI, Harkristuti Harkrisnowo mengungkap dirinya menghadapi intimidasi. Intimidasi itu berupa pesan WhatsApp dari seorang alumni UI. Yang meminta kritik disampaikan lewat audiensi saja kepada pejabat yang berwenang. "Kami sudah agak diintimidasi juga sebenarnya," kata Harkristuti.
Dalam petisi itu, UI meminta pemerintah melakukan pemulihan demokrasi.