Gerhana Bulan Penumbra terjadi saat posisi Matahari-Bumi-Bulan sejajar. Hal ini membuat Bulan hanya masuk ke bayangan penumbra Bumi.
“Akibatnya, saat puncak gerhana terjadi, cahaya Bulan akan terlihat lebih redup dari saat purnama,” ujar Karmana, Minggu (24/03) siang. Meski demikian, Karmana mengungkapkan, Kalsel termasuk wilayah yang tidak bisa mengamati seluruh fase Gerhana Bulan Penumbra ini, lantaran posisi Bulan masih di bawah horizon saat peristiwa itu terjadi.
“Karena fase gerhananya terjadi pada siang hingga sore hari, sehingga kita tidak bisa melihat secara mata telanjang,” jelas Karmana.
Pasalnya, untuk wilayah Kalsel, fase Gerhana Bulan Penumbra ini dimulai pada pukul 12.50 WITA. Kemudian puncak gerhana pada pukul 15.12 WITA, dan berakhir pada pukul 17.34 WITA.
“Kalau ditotal Gerhana Bulan Penumbra ini akan terjadi selama 4 jam 43 menit 39 detik,” ucapnya. Gerhana Bulan Penumbra di Indonesia pada hari ke 15 Bulan Ramadan tersebut hanya dapat terlihat di Papua, Papua Barat, dan sebagian Maluku.
Itu pun tidak untuk seluruh prosesnya, melainkan hanya pada saat bulan terbit hingga Gerhana Bulan Penumbra berakhir. "Warga Kalsel tidak bisa mengamati fenomena ini karena bulan masih berada di bawah horizon, saat peristiwa itu terjadi," katanya.
Diungkapkan Karmana bahwa, seluruh proses gerhana hanya dapat dilihat di sebagian besar Amerika dan Kanada. Proses gerhana pada saat bulan terbit dapat diamati di sebagian kecil Asia, sebagian Australia, Selandia Baru, dan sebagian kecil Rusia.
Sedangkan proses gerhana pada saat Bulan terbenam dapat diamati di sebagian Eropa dan sebagian Afrika. Gerhana itu pun tidak akan dapat diamati di sebagian besar Asia, sebagian Australia, sebagian besar Rusia, sebagian Afrika, dan sebagian Eropa.
"Walau tidak seluruh wilayah dapat mengamati gerhana, namun tetap menimbulkan dampak cuaca, yakni pasang surut laut, banjir rob, gelombang laut," ujarnya.
Ia menuturkan, bahwa Gerhana Bulan Penumbra 25 Maret 2024 ini merupakan anggota ke 64 dari 71 anggota pada seri Saros 113. Gerhana bulan sebelumnya yang berasosiasi dengan gerhana ini adalah Gerhana Bulan Penumbra 14 Maret 2006.
Fenomena ini termasuk sangat langka, sebab Gerhana Bulan Penumbra berikutnya akan terjadi pada 5 April 2042, yang juga akan dapat diamati dari Indonesia, termasuk Kalsel.
Pada tahun ini, lanjut Karmana, terjadi 4 empat kali gerhana, yaitu 2 kali gerhana Matahari dan 2 kali gerhana Bulan. Pertama Gerhana Bulan Penumbra (GBP) yang terjadi pada 25 Maret 2024 dan dapat diamati dari Indonesia.
Kedua, Gerhana Matahari Total (GMT) pada 8 April 2024. Ketiga Gerhana Bulan Sebagian (GBS) 18 September 2024. Terakhir, adalah fenomena Gerhana Matahari Cincin (GMC) pada 2 Oktober 2024.
“Tetapi dari empat gerhana itu baik matahari atau maupun bulan, semuanya tidak dapat diamati dari Indonesia," jelasnya,” tukasnya. Lantaran tidak terlihat secara kasat mata, fenomena Gerhana Bulan Penumbra ini belum ditindaklanjuti oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banjarbaru.
Sebab, hingga saat ini Kepala Kemenag Kota Banjarbaru Mahruz mengaku belum menerima perintah atau imbauan dari Dirjen Bimas Islam di Kemenag RI. Apakah diarahkan untuk mengerjakan Salat Khusuf atau Salat Gerhana.
“Kami masih menunggu perintah dari Dirjen Bimas Islam pusat, dan kemudian nanti kami koordinasikan dengan Masjid Agung untuk pelaksanaannya (Salat Gerhana), Insyaallah,” jelas Mahruz singkat. (*)