MS merasa penat, kemudian meminta izin dengan dokter untuk duduk. Betapa kagetnya ia melihat tubuh bayinya tanpa kepala. "Langsung tidak karuan dan lemas saya melihat. Posisinya tengkurap," ujarnya.
Petugas terlihat panik. Dokter-dokter itu diduga dokter muda yang residen. Ciri-cirinya mengenakan jas berwarna biru. "Orangnya muda-muda semua,” sebutnya.
Ada delapan orang. Ada perempuan, dan laki-laki. “Tetapi yang melakukan tindakan pertama mengeluarkan bayi menarik dokter laki-lakinya. Lalu ada dua orang lagi perempuan, dan laki-laki membantu proses mengeluarkan kepala bayi saya," kisahnya.
Awalnya melakukan secara manual, petugas tersebut berusaha mengeluarkan kepala bayi. Namun, MS mengaku tak kuat lagi. Tenaga medis mengambil tindakan dengan cara divakum. "Setelah keluar, wajah bayi saya miring-miring. Kepalanya biru karena divakum itu," tambahnya.
Setelah kepala bayi keluar, kemudian dikembalikan ke tubuh dengan cara dijahit. Sementara MS dipindahkan ke ruang inap. "Besoknya setelah satu malam rawat inap diarahkan pulang. Padahal kondisi saya masih perlu penanganan, banyak jahitan tetapi tidak tahu berapa banyak," sesalnya.
Dari awal penanganan, MS menduga tak seusai SOP. Penindakan di ruang IGD, tidak di ruang persalinan. Kemudian setelah datang, hanya dipasang oksigen. Sementara tidak ada pemasangan infus. Itu baru dilakukan setelah melahirkan.
Kedatangan MS pada saat masih cuti bersama lebaran. "Salah satu dokter berucap tidak sempat lagi menuju ruang persalinan, harus segera. Padahal masih bisa, seandainya dibawa ke ruang persalinan di lantai dua. Diduga mereka menyembunyikan peristiwa itu dari pimpinan rumah sakit," sebut MS.
Menurutnya, bayinya diminta dibawa keluar lewat IGD. “Pintu di mana kami awal masuk. Tidak melalui kamar pemulasaraan jenazah. Bayi itu dibungkus, dan dilapis tikar berwarna hijau, persis seperti dadar gulung," tambah MS.
Keluarga berharap polisi bisa mengusut tuntas kasus ini. "Kita lihat proses penyelidikan, dan RSUD Ulin Banjarmasin harus bertanggung jawab atas kejadian ini," harapnya.
RSUD Ulin Banjarmasin melalui Kepala Seksi Humas & Informasi, Yan Setiawan akhirnya angkat bicara. Ia menyakini jika tenaga kesehatannya sudah bertindak sesuai standar. Namun dengan adanya laporan kepolisian itu pihak menghargai dan mengikuti seluruh proses pemeriksaan. "Kita tunggu saja hasil pemeriksaan kepolisian dengan asas praduga tak bersalah harus diutamakan. Jangan sampai ada pemberitaan yang kesannya menghakimi," ingatnya.
"Kami saat ini mengikuti proses yang berjalan, dan masih masih klarifikasi dari masing-masing pihak," tutupnya.
Kronologis Persalinan MS
- Minggu (14/4) dini hari, sekitar pukul 03.00 Wita, MS merasakan tanda-tanda kelahiran putranya sudah keluar.
- MS dibawa suami ke RS Sultan Suriansyah Banjarmasin. Namun, ruangan semua penuh. Lantas dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin.
- Proses persalinan MS ditangani di ruang IGD RSUD Ulin Banjarmasin hingga kepala bayinya terputus.