Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Lifestyle Nasional Bisnis

Kepala Bayi Putus Saat Melahirkan, Ibunya Ceritakan Begini Kronologisnya

Maulana Radar Banjarmasin • 2024-04-28 08:00:00
ilustrasi bayi
ilustrasi bayi

Keluarga besar MS (35) masih dilanda kesedihan setelah peristiwa dugaan malpraktik oleh tenaga medis di RSUD Ulin Banjarmasin. Menyebabkan kepala bayi putus dalam proses persalinan.

      ****
BANJARMASIN – Kediaman MS dikunjungi di kawasan Basirih, Banjarmasin Barat. Sang ibu dari bayi malang sore itu, terlihat mengenakan daster warna abu-abu bermotif. Kondisinya masih terlihat pucat dan kesakitan, jalannya pun belum normal karena masih terasa nyeri. 

"Iya ini masih ada rasa nyeri karena jahitan. Baru dua hari saya keluar rumah sakit Bhayangkara, setelah penanganan karena infeksi. Ini masih pemulihan," ucapnya sembari duduk, kemarin (26/4).

Ia mengajak masuk ke rumah orang tuanya, persis bersebelahan rumah dengannya. "Kita ngobrol di rumah ayah saja ya. Maklum rumah saya kecil, jadi lebih nyaman di rumah ayah saya, sedikit besar," katanya.

Menuju rumah MS memasuki gang kecil yang buntu tanpa nama. Di depannya ada alkah keluarga. Di lokasi itulah jasad anak laki-lakinya yang menjadi dugaan malpraktik oleh tenaga medis RSUD Ulin Banjarmasin. MS menceritakan panjang lebar bagaimana kronologinya sebelum musibah itu menimpa.

Minggu (14/4) dini hari, sekitar pukul 03.00 Wita, tanda-tanda kelahiran putranya sudah keluar. Ia mengabarkan kepada suaminya, dan dibawalah ke RS Sultan Suriansyah Banjarmasin.

Sesampai di sana, petugas rumah sakit mengatakan bahwa ruangan semua penuh. Lantas diarahkan rujukan ke RSUD Ulin Banjarmasin. "Dari rumah sudah rembes air ketuban. Kenapa ke sana (RS Sultan Suriansyah, red), karena setiap bulannya kami melakukan pemeriksaan kondisi kandungan," bebernya.

Menaiki motor, ia dan suami melaju ke RSUD Ulin Banjarmasin. Sesampai di RS Ulin, dilakukan pemeriksaan oleh dokter. Mereka baru mengetahui bahwa kondisi bayi sungsang.

Menurut MS, semua dilakukan dokternya tanpa memberikan pilihan, tindakan apa yang akan dilakukan dengan kondisi bayinya. Mereka langsung melakukan tindakan. Kata salah satu petugas, pembukaan lengkap. Kakinya mau keluar. Saat itu juga masih kontraksi. “Saya diperintahkan untuk mengejan, setelah itu keluar bayinya," ceritanya.

Keluarga memastikan kondisi bayi masih hidup sebelum peristiwa itu terjadi. Dari rumah, si bayi di dalam perut bergerak-gerak. Perutnya juga benjol-benjol karena pergerakan bayi. "Tidak sadar saya kepala bayi kami lepas saat proses persalinan. Yang melihat suami saya langsung. Tetapi setelah itu disuruh keluar, tinggal saya yang di dalam dengan dokter,” ungkapnya. “Malah saya mengira bayinya masih di dalam, karena merasa ada tangan yang masuk," tuturnya.

MS merasa penat, kemudian meminta izin dengan dokter untuk duduk. Betapa kagetnya ia melihat tubuh bayinya tanpa kepala. "Langsung tidak karuan dan lemas saya melihat. Posisinya tengkurap," ujarnya.

Petugas terlihat panik. Dokter-dokter itu diduga dokter muda yang residen. Ciri-cirinya mengenakan jas berwarna biru. "Orangnya muda-muda semua,” sebutnya.

Ada delapan orang. Ada perempuan, dan laki-laki. “Tetapi yang melakukan tindakan pertama mengeluarkan bayi menarik dokter laki-lakinya. Lalu ada dua orang lagi perempuan, dan laki-laki membantu proses mengeluarkan kepala bayi saya," kisahnya.

Awalnya melakukan secara manual, petugas tersebut berusaha mengeluarkan kepala bayi. Namun, MS mengaku tak kuat lagi. Tenaga medis mengambil tindakan dengan cara divakum. "Setelah keluar, wajah bayi saya miring-miring. Kepalanya biru karena divakum itu," tambahnya.

Setelah kepala bayi keluar, kemudian dikembalikan ke tubuh dengan cara dijahit. Sementara MS dipindahkan ke ruang inap. "Besoknya setelah satu malam rawat inap diarahkan pulang. Padahal kondisi saya masih perlu penanganan, banyak jahitan tetapi tidak tahu berapa banyak," sesalnya. 

Dari awal penanganan, MS menduga tak seusai SOP. Penindakan di ruang IGD, tidak di ruang persalinan. Kemudian setelah datang, hanya dipasang oksigen. Sementara tidak ada pemasangan infus. Itu baru dilakukan setelah melahirkan.

Kedatangan MS pada saat masih cuti bersama lebaran. "Salah satu dokter berucap tidak sempat lagi menuju ruang persalinan, harus segera. Padahal masih bisa, seandainya dibawa ke ruang persalinan di lantai dua. Diduga mereka menyembunyikan peristiwa itu dari pimpinan rumah sakit," sebut MS.

Menurutnya, bayinya diminta dibawa keluar lewat IGD. “Pintu di mana kami awal masuk. Tidak melalui kamar pemulasaraan jenazah. Bayi itu dibungkus, dan dilapis tikar berwarna hijau, persis seperti dadar gulung," tambah MS.

Keluarga berharap polisi bisa mengusut tuntas kasus ini. "Kita lihat proses penyelidikan, dan RSUD Ulin Banjarmasin harus bertanggung jawab atas kejadian ini," harapnya.

 

RSUD Ulin Banjarmasin melalui Kepala Seksi Humas & Informasi, Yan Setiawan akhirnya angkat bicara. Ia menyakini jika tenaga kesehatannya sudah bertindak sesuai standar. Namun dengan adanya laporan kepolisian itu pihak menghargai dan mengikuti seluruh proses pemeriksaan. "Kita tunggu saja hasil pemeriksaan kepolisian dengan asas praduga tak bersalah harus diutamakan. Jangan sampai ada pemberitaan yang kesannya menghakimi," ingatnya.

"Kami saat ini mengikuti proses yang berjalan, dan masih masih klarifikasi dari masing-masing pihak," tutupnya.

Kronologis Persalinan MS

- Minggu (14/4) dini hari, sekitar pukul 03.00 Wita, MS merasakan tanda-tanda kelahiran putranya sudah keluar.

- MS dibawa suami ke RS Sultan Suriansyah Banjarmasin. Namun, ruangan semua penuh. Lantas dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin.

 

- Proses persalinan MS ditangani di ruang IGD RSUD Ulin Banjarmasin hingga kepala bayinya terputus.

 
 
 
 
Editor : Indra Zakaria
#bayi #RSUD Ulin Banjarmasin