Di Kecamatan Sungai Loban, banjir terjadi di Desa Damar Indah dan Sebamban Lama. Banjir di Desa Damar Indah merendam Jalan Ahmad Yani setinggi lutut orang dewasa. Itu menyebabkan perlambatan arus lalu lintas.
Petugas, relawan, dan TNI-Polri sempat mengatur lalu lintas dengan sistem buka-tutup untuk menghindari kecelakaan. “Air mulai menggenang jalan sekitar jam tiga pagi. Jam sepuluh siang, air sudah mulai surut,” terang Camat Sungai Loban, Agus Salim.
Sementara di Desa Sebamban Lama, banjir merendam sekitar 20 rumah yang berada di dataran rendah. Warga terdampak mengungsi ke rumah kerabat. Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanbu terkait banjir yang melanda sejumlah wilayah di Bumi Bersujud.
BMKG Ingatkan Tetap Waspada
Hujan lebat yang mengakibatkan banjir di sebagian wilayah Kabupaten Tanah Bumbu diprediksi akan kembali terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Bahkan berdasarkan informasi prakiraan cuaca berbasis hujan lebat yang dirilis Pusat Meteorologi Publik BMKG Kalsel pada Selasa (4/6) malam, wilayah Tanah Bumbu masuk dalam zona kuning, alias Waspada. Kondisi ini kemungkinan akan berdampak pada peningkatan volume air sungai, hingga menimbulkan banjir dan mengganggu aktivitas masyarakat dalam skala menengah.
Jembatan yang rendah berpotensi tidak dapat dilintasi, serta potensi terjadi longsor, guguran bebatuan, atau erosi tanah dalam skala menengah.
Data tersebut juga menyebut bahwa kondisi cuaca ekstrem ini diprakirakan akan terjadi pada Rabu hingga Kamis (6/6) besok.
Selain Tanah Bumbu, prakiraan dampak cuaca berbasis hujan lebat itu juga berlaku pada lima kabupaten lain. Mulai dari Kotabaru, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala, dan Tapin.
Di samping itu, secara umum kondisi cuaca untuk wilayah Kalsel dalam satu pekan ke depan memang cenderung didominasi mendung dan hujan ringan hingga sedang. Bahkan, dapat disertai petir dan angin kencang di hampir seluruh wilayah Kalsel.
Suhu udara diprakirakan berkisar antara 23 34°C,” dan kelembaban udara diprakirakan berkisar antara 58 98%. “Kondisi ini diprediksi mulai tanggal 5-11 Juni 2024,” tulis Prakirawan Stamet Syamsudin Noor, BMKG Kalsel, Rara Rahmita, Selasa (4//6) malam.
BMKG Kalsel, kata Rara, meminta masyarakat di beberapa daerah untuk waspada potensi hujan yang dapat disertai kilat maupun petir dan angin kencang berdurasi singkat pada tanggal 5 Juni 2024 pada siang atau sore hari.
“Untuk tanggal itu diprakirakan akan terjadi di wilayah Banjarmasin, Banjarbaru, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, Tabalong, dan Kotabaru,” ungkapnya.
Pada tanggal 6-7 Juni 2024, ia meminta seluruh masyarakat di Kalsel untuk waspada cuaca ekstrem pada siang, sore hingga malam hari. “Di tanggal ini potensi hujan sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang akan terjadi hampir di seluruh wilayah Kalsel,” jelasnya.
Selain cuaca buruk, wilayah pesisir Kalsel juga sedang dibayangi dengan potensi peningkatan permukaan air laut maksimum yang menyebabkan banjir rob.
Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut Pushidros TNI AL, banjir pesisir (rob) berpotensi terjadi di pesisir wilayah Kalsel mulai tanggal 5-15 Juni 2024.
Hal ini berdampak pada terganggunya aktivitas keseharian masyarakat dan transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti kegiatan bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di permukiman pesisir, serta perikanan darat.
Untuk di tanggal 15-12 Juni 2024, BMKG Kalsel juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi pasang air laut yang terjadi di wilayah Kotabaru pada pukul 04.00-10.00 WITA dengan ketinggian maksimum mencapai 3 meter. “Wilayah yang terdampak ada di pesisir Perairan Kotabaru dan Tanah Bumbu,” sebutnya.
Pada tanggal 7-15 Juni 2024, pasang maksimum berpotensi terjadi di wilayah Perairan Muara Sungai Barito. “Untuk di Muara Sungai Barito ini diprakirakan terjadi pada pukul 07.00 - 15.00 WITA dengan ketinggian maksimun mencapai 3 meter,” jelasnya.
Wilayah yang berpotensi terdampak adalah daerah pesisir perairan Barito Kuala, Banjar, Banjarmasin, dan Tanah Laut. “Masyarakat pesisir pantai diimbau selalu waspada untuk mengantisipasi dampak pasang maksimum air laut dan fenomena banjir pesisir (rob),” pungkasnya. (*)