Kebun Binatang Mini (KBM) Jahri Saleh kini lebih mirip seperti penjara. Satwa-satwa yang tersisa terkungkung dalam kandang yang buruk, kotor, dan sepi.
Ketika Radar Banjarmasin memasuki area KBM, pemandangan pertama yang menyapa adalah taman yang tidak terawat. Rumput liar dan tanaman tak beraturan tumbuh di mana-mana. Daun-daun kering serta sampah berserakan.
Di sudut taman, terdapat patung monyet dengan cat yang sudah memudar. Kolam air mancur yang dulunya menjadi daya tarik kini mati, tak berfungsi lagi.
Sarana bermain anak seperti jungkat-jungkit, mangkuk putar, dan perosotan juga tampak lapuk dan berkarat, menambah kesan suram. KBM di Banjarmasin Utara ini memiliki beberapa zona. Seperti zona aves (burung), rusa, primata, reptil, poultry, buaya, dan satwa air. Namun, kondisi semua zona ini sangat memprihatinkan.
Misalnya, zona reptil yang dahulu dihuni ular sanca, iguana, dan satwa eksotis lainnya, kini hanya menjadi ruang kosong penuh sampah. Zona lain tak jauh berbeda. Sebagian besar kandang sudah kosong. Kandang yang masih berisi satwa pun menyajikan pemandangan menyedihkan.
Di zona primata, monyet ekor panjang terlihat lesu dan murung. Kandang mereka kotor dan bau. Memperburuk kondisi kesehatan satwa. Sesekali monyet-monyet itu bergelantungan. Sesekali mereka menatap pengunjung dengan pandangan nanar dari balik jeruji besi.
Kondisi ini mengundang perhatian Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, yang berkunjung pada Selasa (13/5). "KBM sekarang lebih mirip hutan. Seharusnya ini menjadi tempat bersantai warga dan sarana edukasi bagi anak-anak, tapi keadaannya sungguh menyedihkan," ujar Yamin.
Ia berjanji, Pemko Banjarmasin akan segera turun tangan untuk memperbaiki dan menghidupkan kembali KBM. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Banjarmasin, Yulianysah Effendi mengakui kondisi KBM yang merosot drastis.
Dampaknya angka kunjungan pun terjun bebas. Alhasil operasional KBM saat ini lebih besar pasak daripada tiang. "Operasional taman satwa ini menelan biaya sekitar Rp10 juta per bulan, sementara pemasukan dari tiket hanya berkisar Rp1 juta per bulan,” ujarnya.
Dengan pendapatan yang jauh dari cukup, KBM semakin sulit untuk bertahan. Selain itu, aturan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyatakan bahwa sebuah kebun binatang minimal harus memiliki lahan seluas dua hektare untuk memelihara satwa yang dilindungi. Namun, KBM Jahri Saleh hanya memiliki lahan luas 1,6 hektare, sehingga tidak memenuhi syarat tersebut. Akibatnya, beberapa satwa seperti buaya, kakatua, dan rusa telah ditarik BKSDA.
Menghadapi ini, pihaknya berencana mengubah konsep KBM menjadi Taman Edukasi Satwa. "Walaupun tak bisa menjadi kebun binatang, tempat ini tetap bisa menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Mereka dapat belajar mengenal satwa secara langsung, bukan hanya dari layar gadget," kata Yulianysah.
Konsep taman edukasi satwa nantinya akan melibatkan sekolah-sekolah untuk kunjungan rutin. Bahkan, kerja sama seperti program mingguan untuk siswa TK hingga SMP akan dibuka. Untuk menarik minat lebih banyak pengunjung, mereka berencana menawarkan program potongan harga khusus bagi pelajar.
"Kami berharap, setelah revitalisasi, tempat ini bisa kembali ramai. Bahkan bisa dibuat program potongan harga khusus untuk sekolah-sekolah," tambahnya.
Revitalisasi KBM akan mencakup pembenahan fasilitas secara menyeluruh, mulai dari bangunan, kandang, hingga penataan pohon. Lingkungan KBM juga akan dirancang agar lebih bersih, nyaman, dan bebas bau sehingga pengunjung merasa betah.
"Kami ingin tempat ini menjadi sarana edukasi yang bermanfaat bagi warga Banjarmasin, terutama anak-anak," pungkas Yulianysah. (*)
Editor : Indra Zakaria