PROKAL.CO- Kota Banjarbaru kini ditetapkan sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan rabies yang tinggi menyusul lonjakan temuan kasus sepanjang tahun 2025. Fakta yang cukup mengkhawatirkan terungkap bahwa dari total 18 kasus rabies yang terkonfirmasi secara positif di seluruh Provinsi Kalimantan Selatan, separuhnya atau sebanyak sembilan kasus ditemukan di wilayah Banjarbaru saja. Dominasi angka ini menjadikan Banjarbaru sebagai titik perhatian utama dalam penanggulangan penyakit yang menyerang sistem saraf tersebut.
Ketua Tim Kerja Informasi Veteriner Balai Veteriner Banjarbaru, drh. Wijanarko, menjelaskan bahwa meskipun data surveilans untuk awal 2026 belum dirilis sepenuhnya, tren lima tahun terakhir menunjukkan puncak kasus terjadi pada tahun lalu. Tingginya proporsi kasus positif di Banjarbaru dibandingkan daerah lain di Kalimantan Selatan menjadi indikator kuat bahwa risiko penularan di lingkungan permukiman masih sangat tinggi dan membutuhkan perhatian serius dari pemilik hewan peliharaan.
Menyikapi status rawan ini, Balai Veteriner terus menggencarkan surveilans rabies, baik secara aktif maupun pasif, guna mendeteksi keberadaan virus secara dini. Selain pemetaan risiko, langkah konkret yang diambil adalah penyediaan vaksinasi rabies gratis secara rutin sebagai bentuk pencegahan primer. Program ini biasanya mencapai puncaknya pada peringatan Hari Rabies Sedunia setiap akhir September, namun pengawasan di lapangan tetap dilakukan sepanjang tahun.
Masyarakat diminta tidak perlu panik namun tetap waspada, karena ketersediaan vaksin rabies untuk hewan saat ini dipastikan dalam kondisi memadai. Kementerian Pertanian secara rutin menyalurkan stok vaksin ke unit-unit pelaksana teknis untuk didistribusikan kepada masyarakat. Langkah koordinasi ini diharapkan dapat menekan angka penularan agar status zona merah rabies di Banjarbaru bisa segera melandai pada tahun-tahun mendatang.(*)
Editor : Indra Zakaria