SAMPIT – Data dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit menunjukkan adanya tren penyakit yang didominasi oleh masalah gaya hidup. Hipertensi atau tekanan darah tinggi menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling banyak ditangani sepanjang periode Januari hingga September 2025.
Plt Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Yulia Nofiany, mengungkapkan bahwa kasus Hipertensi mencapai angka 1.380 dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.
Selain Hipertensi, berikut adalah daftar 10 penyakit terbanyak yang ditangani RSUD dr Murjani Sampit per Januari-September 2025:
Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): 1.380 kasus
Nyeri Punggung Bawah: 1.223 kasus
Dyspepsia (Gangguan Pencernaan): 936 kasus
Anemia: 625 kasus
Necrosis of Pulp (Kerusakan Jaringan Pulpa Gigi): 578 kasus
Diabetic Polyneuropathy (Kerusakan Saraf Tepi akibat Diabetes): 394 kasus
Diabetes Tipe 2 dengan Komplikasi Pembuluh Darah Perifer: 372 kasus
Gagal Jantung Kongestif: 267 kasus
Gagal Ginjal Kronis Stadium 5: 258 kasus
Hypertensive Heart Disease with (Congestive) Heart Failure (Gangguan Jantung akibat Hipertensi): 104 kasus
Perubahan Tren Penyakit dan Faktor Gaya Hidup
Dr. Yulia Nofiany juga membandingkan tren tersebut dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, penyakit yang menonjol adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan 608 kasus dan Pneumonia dengan 412 kasus, diikuti oleh komplikasi pada janin/bayi baru lahir akibat persalinan caesar (398 kasus).
"Tren penyakit tahun ke tahun umumnya berubah-ubah, karena ada banyak faktor. Paling utama karena gaya hidup, pola makan kurang sehat," terang Yulia Nofiany.
Ia menambahkan, penyebab detail dari perubahan tren ini merupakan ranah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim yang secara khusus melakukan survei epidemiologi.
Penurunan Kunjungan Rawat Jalan
Tren penyakit yang berubah otomatis mempengaruhi kunjungan Poliklinik. Meskipun Instalasi Gawat Darurat (IGD) masih menjadi yang terbanyak dikunjungi (15.507 kunjungan), kunjungan rawat jalan di beberapa poliklinik mengalami penurunan pada Januari-September 2025 dibandingkan tahun 2024.
Penurunan kunjungan di Poliklinik seperti Penyakit Dalam (9.882 kunjungan) dan Klinik Anak (6.191 kunjungan) disebabkan oleh beberapa faktor internal rumah sakit dan optimalisasi program rujukan.
"Penurunan kunjungan ini karena ada pengurangan lima dokter spesialis. Ada yang meninggal dunia, mutasi dan sedang melanjutkan pendidikan. Selain itu karena penerapan program rujuk balik sudah berjalan optimal, sehingga pasien yang ditangani hanya kasus spesiaslistik saja," pungkasnya. (*)
Editor : Indra Zakaria