Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Suka Duka Pekerjaan Porter di Pelabuhan Sampit: Rezeki Tak Menentu, Tetap Semangat Tawarkan Jasa Angkut

Redaksi • 2025-04-14 09:30:00
KEDATANGAN : Sejumlah porter yang menawarkan jasa menolong membawakan barang penumpang yang tiba di Pelabuhan Sampit, Kamis (10/4).HENY/RADARSAMPIT
KEDATANGAN : Sejumlah porter yang menawarkan jasa menolong membawakan barang penumpang yang tiba di Pelabuhan Sampit, Kamis (10/4).HENY/RADARSAMPIT

 

Kedatangan kapal begitu dinanti porter di Pelabuhan Sampit. Mereka bergegas menawarkan jasa angkut ke setiap penumpang. Kehadirannya menjadi peringan beban orang lain.

 

Peluh keringat membasahi sekujur tubuh pria berkaos biru dongker. Bulir keringat diwajahnya saling berlomba meluncur jatuh melewati pipi hingga dagunya. Napasnya terdengar tak beraturan. Pria bernomor punggung 54 itu masih saja ramah menawarkan jasa antar, ketika Radar Sampit melewatinya.

“Mau ke mana, mau saya antarkan kah?,” ucap pria yang diketahui bernama Sarifudin saat duduk di atas motor di Terminal Kedatangan Pelabuhan Sampit. Semangatnya masih belum padam, meski energi kian terkuras di tengah terik matahari yang menyengat semakin membuat suhu udara kian memanas. Sapaan ramahnya menarik perhatian Radar Sampit. Dalam kondisi raut wajah lelah, ia dengan senang hati diajak berbincang seputar pekerjaan menjadi porter.

“Hari ini cuma dapat dua orderan penumpang, dapatnya Rp 300 ribu,” ujarnya. Bekerja menjadi pramubarang tak bisa berekpektasi mendapati upah besar. Sebab, rejeki datang pasang surut. Pendapatan hari ini belum tentu sama dengan hari esok. “Pendapatan harian enggak menentu. Kadang dapat Rp 100 ribu, kadang Rp 300 ribu dan pernah juga tidak dapat sama sekali. Yang penting berusaha saja dulu, urusan rejeki biarkan Allah yang atur,” ucapnya.

Ia tak sendiri, ada lebih 100 porter yang berlari menjemput rejeki setiap kedatangan kapal, semangat berlari menawarkan jasa ke setiap penumpang yang membawa barang berat. “Ini yang datang sekitar 30-an porter saja, sebenarnya yang tergabung di tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di sini jumlahnya lebih dari 100 orang,” ujar pria yang sudah menjadi pekerja porter selama 14 tahun ini. Walaupun ada puluhan kawan seprofesi, sesama porter jarang rebutan mencari penumpang. Sebagian penumpang sudah ada yang berlangganan memakai jasa angkut barang dari dermaga sampai ke terminal kedatangan.

“Ketika masuk kapal kami memang berlari memburu penumpang, tapi enggak sampai rebutan juga nyari penumpang. Kalau sudah ada kawan yang menawarkan lebih dulu, saya cari penumpang lain yang mau memakai jasa saya,” ujarnya.

Nasib baik juga dialami Junaidi. Pekerja porter bernomor punggung 28. Saat kedatangan KM Lawit Kamis (10/4) sore, ia beruntung mendapatkan upah hingga Rp 400 ribu. “Alhamdulillah masa arus balik terakhir ini dapat empat penumpang nerima Rp 400 ribu,” ucap pria yang juga bergabung di TKBM selama 10 tahun ini.

Menjadi pekerja porter tentu saja bukan menjadi kerjaan utama. Karena, pekerjaan ini hanya sampingan hanya ketika saat keberangkatan dan kedatangan kapal saja. “Kalau tidak ada kapal yang berangkat atau datang, nyari kerjaan lain. Jadi tenaga kerja bongkar muat pupuk atau semen. Itupun juga tidak menentu kadang sebulan kerjanya tujuh hari, bayarannya Rp 120 ribu per hari mulai dari jam 07.00-16.00 WIB,” ujarnya Hal yang sama dialami Rusdi pria bernomor punggung 50 ini juga menjadi tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Sampit.

“Selain menjadi porter, kerjanya jadi TKBM. Kalau tidak ada bongkar muat, jadi operator crane angkut kayu di muara alur sungai kerjaannya lima jam nonstop bayarannya Rp 200 ribu per hari,” ucap Rusdi yang sudah menjadi tenaga kerja bongkar muat sejak tahun 2003.

Pasaran upah angkut dikisaran Rp 30 ribu per koli. Setiap pekerja porter yang mendapatkan orderan jasa biasanya paling sedikit mendapatkan Rp 50-100 ribu dan paling besar mendapatkan Rp 500-700 ribu untuk beberapa kali angkutan barang penumpang. “Hari ini sepi orderan. Dapat tiga penumpang upahnya Rp 300 ribu,” ucap Rusdi yang bersiap pulang selepas bekerja. Sarifudin, Junaidi, dan Rusdi hanya sebagian pekerja porter di Pelabuhan Sampit yang berjuang mencari rejeki. Masih ada puluhan porter lainnya yang bernasib sama, namun tak semua mendapatkan penghasilan yang sama. (hgn/yit)

Editor : Indra Zakaria