Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kisah Pasar Batu

uki-Berau Post • 2019-02-15 14:21:42

CIKAL bakal hadirnya sebuah pasar di Tanjung Redeb, punya cerita panjang. Bukan di Adji Dilayas sekarang, ataupun di pasar Gayam, Kampung Bugis. Tapi di sebuah tempat di Jalan Ahmad Yani (dulu Jalan Segah). Di sekitar rumah Tek Eng (Toko Bumi Subur) bekas klinik korpri. Namanya Pasar Batu.

Pak Ayit, teman saya sejak lama bercerita banyak tentang perjalanan pasar di Berau. Ia juga salah seorang pedagang di Pasar Batu. Ia tidak tahu, mengapa sampai diberinama Pasar Batu. Apa ada hubungannya dengan Kapal Arang (kapal batu bara) yang sempat menghantam tepian tepat di depan Pasar Batu itu. “Itu sekitar tahun 1958,” kata Ayit yang sengaja saya temui sambil cuci kendaraan di tempat usahanya itu.

 Dari lokasi itu, kemudian pindah di Jalan Niaga sekarang. Lalu lokasi pasar juga berganti nama dengan Pasar Baru. Dalam kawasan pasar itu, kata Ayit, terbagi tiga kawasan. Ada pasar ikan, pasar sayur, dan tempat pemotongan sapi. “Pemotongan sapi itu tak jauh dari warung pojok sekarang,” imbuhnya.

 Namun, peristiwa kebakaran yang terjadi pada 18 Juni 1978 sekira Pukul 16.00 membumiratakan kawasan Pasar Baru, juga eks Pasar Batu. Termasuk bangunan rumah warga di sepanjang Jalan Segah (Tepian Segah). Lalu, dipindahlah pasar itu ke lokasi Kampung Gayam sebelum akhirnya pindah lagi di Pasar Sanggam Adji Dilayas.

 Pak Ayit juga bercerita bahwa Pasar Baru, diprakarsai oleh Pak Aji Petro (alm), pada saat Pak Jayadi jabat Bupati Berau.  Sementara yang menjadi Camat Tanjung Redeb adalah Pak Syarwani Syukur. Pak Syarwani dalam perjalanan kariernya di pemerintahan, terakhir sebagai Sekda. Beliau masih sering bertemu saya dan saling lempar senyum, saat jumpa di jalan.

 Sejumlah nama seniman daerah juga disebut Pak Ayit, sering mengisi panggung hiburan di Pasar Baru. “Tapi lebih sering hiburan mamanda,” katanya.

Khusus pedagang sayur mayur, kebanyakan dari Teluk Bayur. Mereka berjalan kaki sejak jam 04.00 subuh sambil membawa obor dan tiba di Pasar Baru sekitar jam 06.00 pagi. Usai berjualan, kembali lagi ke Teluk Bayur dengan berjalan kaki.

 Jalan memang pada saat itu belum terlalu banyak. Untuk kawasan Pasar Baru, ada sebutan Strat Satu, Strat Dua, dan Strat Tiga. Semua masih jalan setapak. Setelah Bupati dijabat Masdar John (alm), barulah mulai dikembangkan jalan-jalan utama.  Termasuk jalan utama menuju kantor bupati. “Pak Masdar John itulah yang merintis,” kata Ayit. 

Walaupun jalan sudah dibangun. Tak ada warga yang berani tinggal di sepanjang jalan itu. “Hantukah yang mau tinggal,” kata Ayit menirukan komentar warga saat itu.

Pak Ayit juga mengusulkan, bila ada perubahan nama Jalan APT Pranoto maupun nama Bandara Kalimarau. Ia mengusulkan untuk mengabadikan nama Masdar John. “Beliau punya andil yang sangat besar,” kata Ayit.

Berbincang di rumahnya, juga sekaligus tempat pencucian kendaraan di Jalan APT Pranoto, Pak Ayit yang berusia hampir 70 tahun itu, masih punya daya ingat yang tajam. Saya dengan beliau ketika masih menggeluti usaha Sawmill, sering kumpul bersama-sama di rumah Pak Suhartono di Jalan Durian I.

Ternyata, Pak Ayit juga salah satu pembaca setia koran Berau Post. Termasuk pembaca setia Catatan Daeng Sikra, kawannya itu. Ia sedikit memberikan catatan, sekitar tulisan saya sebelumnya. Bahwa di lokasi pemakaman Tionghoa di Bujangga, benar itu adalah monumen peringatan. Jumlah warga tionghoa yang dibantai Jepang sekitar 40 orang, kata Ayit. Dan yang ada di monumen itu adalah nama-nama mereka. Korban pembantaian mayoritas bujang. Ada yang hanya gara-gara masuk beli sendok, pedagangnya menyebut tidak ada. Namun sebetulnya ada, lalu dilaporkan ke penjajah Jepang, tak dikonfirmasi lagi langsung dibantai.

“Kebanyakan hanya melihat pakaiannya yang masih dikenal, jasadnya entah dibuang ke mana,” ungkap Ayit.

Sebetulnya, kata Ayit, semua warga Tionghoa dulu tinggal di kecamatan. Khususnya di Kecamatan Teluk Bayur. Namun, ada PP Nomor 10 yang tidak membolehkan tinggal di kecamatan, maka mereka semua memilih tinggal di Tanjung Redeb. Ada sebagian yang dipulangkan ke daratan Tiongkok. “Yang tinggal itu, gara-gara kapal yang akan membawa mereka ke Tiongkok melalui Samarinda, tidak datang,” kata Ayit sambil tertawa.

Beberapa foto lama, kata Ayit sempat iya kumpulkan. “Paman saya dulu tukang foto,” katanya. Kemudian paman saya pindah ke Makassar. Usaha foto dilanjutkan oleh Kim Hong (Toko Bunga Tanjung) yang ada di pojok Jalan Durian I. 

Kebetulan sekarang banyak penjual durian. Warga pasti tahu, toko dan foto copy Bunga Tanjung. “Foto-foto lama, saya serahkan ke almarhum Pak Tomo (Kabag Humas Pemda) katanya untuk keperluan pameran,” ungkap Ayit.

Banyak kisah yang masih dalam ingatan Pak Ayit. Perjalanan usahanya, juga pasang surut kehidupannya. Ia banyak bersyukur. Sekarang menggeluti kegiatan pencucian kendaraan dan mempekerjakan belasan karyawan. Kisah Pasar Batu, masih segar dalam ingatannya. Kisah pertemanan kami juga tak pernah ia lupakan. Yang saya ingat, Pak Ayit selalu membawa botol minyak angin sampai sekarang. Hehehe, Kamsia Pak Ayit.(*/asa)

 

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan