ANGKOT alias Angkutan Kota, masih tetap eksis melayani pelanggannya. Jumlahnya tak banyak lagi. Tetap beroperasi walaupun harus menghadapi persaingan yang tak bisa tersaingi. Namun, kehadirannya masih sangat didambakan.
Saya sengaja tidak menghubungi beberapa teman saya kemarin Minggu (24/3). Selain cuaca yang membuat betah di rumah, juga mungkin pengaruh nasi kuning begadang yang kami nikmati malam harinya di Jalan Murjani II. Nasi kuningnya enak, pelanggannya juga lumayan banyak. Dan, ternyata penjualnya pun kenal tapi lama tak jumpa. Seorang ibu yang siangnya bekerja sebagai guru di sekolah anak saya.
Tiba-tiba saya ingat teman saya Pak Widodo (almarhum). Beliau dulu kepala dinas Perhubungan (DLLAJ). Banyak terobosan yang dilakukan. Selain membuat marka jalan mantul cahaya, juga beliaulah yang mengusulkan hadirnya kendaraan untuk dijadikan Angkot.
Saya masih menyaksikan ketika satu persatu kendaraan itu datang dalam kondisi buka bungkus alias baru. Dicat dengan warna biru. Penggunanya juga banyak. Maklum, waktu itu jumlah kendaraan masih sedikit. Rutenya, dari Tanjung Redeb ke Teluk Bayur, menyinggahi beberapa tempat di sepanjang jalan tersebut.
Tempat berkumpul masih ada. Bersama dengan bus jurusan Samarinda maupun angkutan dalam daerah. Ada terminal yang dibangun Pemkab di Jalan Isa I. Sekarang, terminal itu lahannya digunakan untuk bangunan kantor. Mungkin harapannya, karena ada terminal di sekitrar Rinding. Belakangan, terminal itu pun dihibahkan untuk dijadikan kantor. Maka jadilah Berau tanpa terminal.
Angkot bertahan beberapa tahun sebagai salah satu urat nadi transportasi. Pagi harus lebih awal beroperasi untuk membawa karyawan perusahaan dan anak sekolah maupun para pedagang yang akan berjualan di pasar. Baik di Pasar Gayam (pasar lama) maupun Pasar Sanggam Adji Dilayas. Bahkan, Angkot juga melayani penumpang yang baru tiba dan akan berangkat melalui Bandara Kalimarau.
Penyusutan pasti terus terjadi. Tapi, dalam perjalanan waktu, tak ada rencana peremajaan kendaraan. Bisa jadi ada keinginan oleh pemiliknya, namun melihat tren penumpang yang sudah tidak seimbang antara operasional dan penghasilan yang didapatkan. Keinginan itu pun diurungkan.
Kemarin, saya sengaja berkeliling mencari di mana Angkot itu berhenti. Kalau dulu, tak sulit karena ada terminal. Saya berencana ke Teluk Bayur atau Pasar Adji Dilayas. Saya lupa, ada ?terminal? kenangan yang sering ditempati untuk mangkal. Tak jauh dari rumah saya. Saya melihat 3 unit Angkot menunggu penumpang. Ada yang bergerak tanpa penumpang, lalu kembali juga, lagi-lagi tanpa penumpang.
Sebetulnya ingin sekali menjadi penumpang. Atau setidaknya saya carter ke Teluk Bayur pergi dan pulang. Selama perjalanan, saya bisa gunakan untuk berbincang dengan sang sopir. Saya ingat dulu teman saya bernama Bahai. Tinggal di Teluk Bayur. Dia sopir Angkot. Saya sering ikut sebagai kenek.
Saya tidak lagi berniat untuk berbincang dengan sopir Angkot soal penumpang. Pasti jawabannya memelas. Di bagian kaca depan tertulis rute tempuh Angkot tersebut. Mulai dari Tanjung Redeb-Pasar Adji Dilayas-Batumiang-Pelabuhan-Kampung Bugis-Sambaliung- Jalan Murjani-Rumah Sakit, dan Jalan Kedaung. Tarifnya berbeda. Terjauh ke Teluk Bayur dengan tarif Rp 9.000.
Saya cermati, inilah Angkot generasi pertama. Angkot yang didatangkan oleh teman saya Almarhum Pak Widodo. Pak Widodo juga sering merangkap jadi sopir Angkot kalau malam hari. Saya pasti dijemput. Sebelum pulang, mampir di warung sate Abror langganannya. Tengkleng kambingnya enak.
Melihat tampilan akhir Angkot tersebut, saya membayangkan pastilah bodi kendaraan sudah dicat berulang kali. Juga bodi kendaraan. Kalau pun tebal, itu karena tebal dempul. Atapnya sudah berkarat. Tapi saya bangga, pengemudinya masih tetap semangat. Mungkin usai kendaraan lebih tua dari usia pengemudinya.
Karena jumlahnya yang sedikit dan tak lagi punya terminal. Juga terdesak jumlah kendaraan pribadi yang terus bertambah. Dulu saja ada ojek, sekarang tak terlihat lagi. Sehingga ada teman saya datang dari Jakarta pernah bilang, Berau ini hebat. Kota yang hampir tak punya angkutan umum.
Bagaimana pun, saya tetap bangga. Bangga pada kebulatan hati pemilik Angkot untuk bertahan dan terus memberikan layanan jasa angkutan. Bangga pada sopir yang bisa jadi setoran tak memadai dengan penghasilan setiap harinya. Bangga karena mampu tetap bertahan menghadapi kepungan kendaraan pribadi yang makin hari makin bertambah banyak.(*/asa)
Editor : izak-Indra Zakaria