SUDAH tiga hari Wakil Bupati Berau Agus Tantomo bersama rombongan pemkab dan Provinsi Kaltim, berada di Republik Seychelles. Negara kecil di tengah Samudera Hindia berpenduduk ‘hanya’ 88 ribu jiwa. Luasnya sebesar wilayah Jakarta 455 kilometer persegi, yang mengandalkan pariwisata untuk menggerakkan ekonominya.
Sejak tiba di Seychelles, sebetulnya saya menunggu kejutan apa yang dikirim Pak Agus lewat foto-foto lokasi wisatanya. Saya tidak heran, kalau yang dikirim sebuah video pendek dari kamar tempatnya menginap, dengan latar belakang laut dan kapal Yacht sedang parkir.
Yang membuat saya benar-benar ‘terkejut’, ketika sebuah foto dikirimkan. Foto Pak Agus bersama seseorang yang posisi tangannya ada di pundak sebelah kanan Pak Agus. Saya pikir, ia pengusaha wisata atau pemilik resor di tempatnya menginap.
Maklum, kunjungan ke Seychelles, terkait wisata. Jadi, pikiran saya pastilah yang diajak foto adalah komunitas industri wisata di negara yang jaraknya sekitar 1.600 kilometer sebelah Timur daratan Afrika.
Pak Agus mengenakan Baju Batik khas Kaltim berwarna gelap. Sedangkan yang meletakkan tangannya di pundak kanan Pak Agus, berbaju berwarna lembut dan celana hitam. Dua-duanya tersenyum.
Barulah saya tahu, saat Pak Agus mengirimkan keterangan pendek bahwa beliau yang di sampingnya adalah Danny Faure. Presiden Seychelles. Begitu akrabnya, padahal baru pertama kali jumpa.
Saya melihat ada komunikasi diplomasi antara Pak Agus dan Pak Danny Faure. Meletakkan tangan di pundak, apalagi tangan seorang presiden, memberikan makna yang luar biasa. Bukan hanya makna bahwa akan ada kerja sama di sektor Pariwisata. Tapi, lebih dari itu.
Rombongan dari Indonesia (Kaltim) dipimpin Wakil Gubernur Kaltim, juga hadir Pak Awang Faroek sebagai anggota DPR RI, menjadi bagian dari perjalanan yang telah dirintis sejak lama.
Ini kunjungan ke dua, sebelumnya, Pak Isran Noor, Gubernur Kaltim juga mengunjungi Republik Seychelles bersama Bupati Berau, Muharram. Agaknya kunjungan ke dua inilah yang diterima langsung oleh Presiden Seychelles, Danny Faure.
Catatan yang saya punyai, beberapa kali pertemuan sudah dilakukan. Pada bulan April 2018 pertemuan segi tiga berlangsung di Balikpapan dan Jakarta. Yang bertemu adalah investor-Wabup Agus Tantomo dan Ambassador and Special Envoy of President Seychelles for ASEAN, Nico Barito.
Para investor yang notabene selaku pemilik lahan di Pulau Maratua, membangun kemitraan untuk menjadikan destinasi khusus dunia Maratua di tahun 2025.
Mengapa 2025, itulah fase yang akan dilalui untuk menyiapkan seluruh infrastruktur yang diperlukan dalam kawasan wisata Pulau Maratua yang memiliki keluasan sekitar 2.375,70 hektare. Di mana lahan yang menjadi milik investor seluas 200 hektare lebih. Luasan yang diharapkan untuk membangun kawasan wisata.
Adalah Nico Barito, sang Dubes Seychelles bercerita panjang mengapa ia tertarik dengan Maratua yang telah dikunjunginya beberapa kali. Bahkan, keseriusan itu dibuktikan turunnya ke lapangan, konsultan asal Inggris, yang dipercaya untuk membuat perencanaan kawasan wisata Maratua.
Konsultan yang ditunjuk pun bukan konsultan biasa. Ia telah membuktikan karyanya di beberapa destinasi yang ada di Dubai maupun Maldives serta beberapa destinasi bahari kelas dunia.
Pernyataan Nico Barito tersebut, tentu memberikan semangat para pemilik lahan. Sebab dengan begitu, investasi yang dilakukan bukanlah langkah yang sia-sia. Apalagi, dalam pertemuan itu, Nico menyampaikan gambarannya bahwa Maratua akan menjadikan destinasi Seychelles lainnya di dunia.
Nama Seychelles yang direkatkan bersama nama Pulau Maratua, akan menjadi modal kuat sekaligus menjadikan destinasi Pulau terdepan di Kalimantan Timur tersebut, sebagai sebuah destinasi wisata papan atas.
Di Seychelles yang terdiri dari 155 pulau kecil, kata Nico, setidaknya ada 15 pesawat berbadan lebar yang datang setiap harinya. Maka, dapatlah dihitung berapa jumlah wisatawan yang datang ke gugusan pulau yang hanya berpenduduk 100 ribu jiwa itu.
Walaupun dipersiapkan sebagai destinasi wisata papan atas, tidak berarti kata Nico bahwa fasilitas penginapan yang ada di Maratua akan tersisih. “Di Seychelles, home stay justru sangat maju dan mendapatkan berkah yang besar,” tegasnya.
Ini pun akan dirasakan oleh warga Maratua yang membangun dan mengembangkan home stay.
Sebutan wisata papan atas, tidak berarti semua fasilitas juga akan setara dengan kebutuhan fasilitas papan atas.
Di Seychelles, ada resor yang memberikan pelayanan angkutan wisata, tak ubahnya angkutan gerobak sapi. “Wisatawan menikmatinya sebagai suatu hal baru yang tidak didapatkan di negara asal mereka,” ungkap Nico.
Bisa saja, Danny Faure meletakkan tangan di pundak Pak Agus, memberikan isyarat, bahwa ia menaruh harapan besar, apa yang dirintis Nico Barito sejak beberapa tahun lalu bisa terwujud. “Saya percaya pada Pak Agus, agar kerja sama menjadikan Twin Tourist Destinations Maratua - Seychelles benar-benar menjadi kenyataan,” mungkin itu pesan gestur Pak Danny Faure. (*/har)
Editor : uki-Berau Post