Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Gara-Gara Bola

uki-Berau Post • 2022-12-15 14:57:51
-
-

PASTI karena kurang tidur. Wajah pengunjung warung kopi pojok, terlihat lesu. Karena lesu, pembicaraan pun tidak sehangat hari sebelumnya.

Padahal ada bahan-bahasan yang menarik. Apalagi soal jembatan yang belum jelas kapan akan dikerjakan. Masih ‘tabulilit’ sekitar LCT, yang akan menjadi angkutan pengganti saat Jembatan Sambaliung ditutup.

Karena lesu itu juga, yang biasanya hanya memesan teh atau kopi susu, terpaksa ada pesanan tambahan. Apalagi kalau bukan telur setengah masak. Jumlahnya variatif. Gelasnya hanya porsi 3 butir saja.

“Ini untuk membalas kurang tidur semalam,” kata Pak Maman, pensiunan kantor pelabuhan, yang memang dikenal gibol alias gila bola. Di sudut meja, ada beberapa botol madu asli. Saya maunya telur dengan madu. Harusnya beli dulu satu botol Rp 250 ribu.

Walau hampir semua pengunjung warung kopi sama-sama menyaksikan pertandingan antara Argentina dan Kroasia, tapi ada saja yang langsung menganalisa permainan dua negara. Apalagi Messi yang dua kali jatuh tanpa alasan.

Sudah diduga, mereka lebih pro pada Argentina ketimbang Kroasia yang sama-sama ngotot menciptakan gol. Serunya pertandingan itu, tidak sadar kalau pertandingan yang dimulai jam 3 pagi dan berakhir menjelang azan Subuh.

Saya tiak masuk kelompok gibol. Hanya karena tak ingin ketinggalan cerita, lagi pula ini pertemuan jelang berakhirnya piala dunia, saya sempatkan buat menonton. Saya sudah tahu risiko apa yang akan saya alami.

Beberapa pertandingan sebelumnya, baik di awal maupun memasuki babak 16 besar. Saya tak bisa menonton lewat televisi maupun lewat HP android. Kan bayar untuk mendapatkan akun.

Beruntung, ada teman saya Edy Djumantara yang berbaik hati, membagi akunnya. Bisalah menyaksikan lewat HP maupun lewat televisi. Dan nontonlah saya seorang diri di rumah.

Nonton sendiri itu tidak seru. Tak bisa leluasa berteriak dan ikut bersorak saat bola masuk ke gawang. Mau ikut nobar di tepian Sungai Segah, sudah tidak kuat lagi begadang di luar rumah.

Ketika gol pertama tercipta lewat penalti yang dieksekusi Messi, inginnya berteriak. Sadar kalau saya tidak berada di arena nobar. Semuanya sudah pada tidur. Jadi kaki saja yang ikut bergoyang-goyang.

Kebetulan cuaca di Berau hari Rabu (14/12) kemarin mendung, mendukung bagi siapapun yang begadang menyaksikan piala dunia. Termasuk teman-teman ASN.

Mereka, kalaupun masuk kantor tidak terlambat. Setibanya di tempat kerjanya, pastilah menguap berkali-kali, pertanda masih ngantuk. Harus menebus waktu tidak tidurnya semalam.

Masih ada pertandingan menentukan siapa yang akan tampil di final, di mana Argentina sudah menunggu. Pertemuan Perancis dan Maroko, perjumpaan hidup atau mati. Sama-sama ngotot. Bisa saja, Maroko akan tampil tanpa beban.

Saya masih harus begadang menyaksikan pertemuan menentukan itu. Tidak fanatik pada satu tim, tetapi belakangan banyak yang simpati penampilan Maroko. Memang berat juga, harus menghadapi juara bertahan Perancis.

Moga saja Pak Edy Djumantara, masih mau meminjamkan akunnya utuk menyaksikan tiga pertandingan yang tersisa, hingga puncaknya pada tanggal 18 Desember mendatang. Kalau tidak, saya tidak bisa menyaksikan pertandingan itu dari rumah.

Tak apalah, risiko ngantuk kita nikmati saja. Kan piala dunia adalah peristiwa yang menyita perhatian para pencinta bola dunia. Saya juga tak wajib hadir di kantor. Jadi kalau masih ngantuk, ya ‘melandau’ saja. @cds_daengsikra. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan