Berawal dari Amir Maliq bersama teman-temannya ingin menerbitkan karya pertama mereka. Terkendala banyak penerbit yang tidak mau menerima karya mereka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mencetak sendiri dan memasarkannya.
NADIA ANNASTASIA NINGRUM, Surabaya
SIANG itu matahari di Surabaya Barat cukup terik. Namun, hawa panas tersebut tak terlalu dirasakan pria lulusan SMKN 11 Surabaya Amir Maliq.
Dia sedang bekerja di studio yang juga tempat tinggalnya. Studio tersebut terletak di perkampungan di wilayah Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo.
Amir mulai menceritakan ketertarikannya terhadap komik. Awalnya, dia bersama keempat temannya ingin menerbitkan karya komik buatan mereka. Namun, mereka kesulitan dalam menemukan penerbit yang mau menerbitkan karya tersebut. ’’Akhirnya cetak sendiri dengan biaya sendiri,’’ tutur Amir.
Karya Amir itu masuk dalam komik indie. Berisi tentang lima cerita yang berbeda dari Amir dan keempat temannya. Mereka mencetak sebanyak 100 eksemplar dengan nama penerbit Kompilasi. Namun, hal tersebut tidak bertahan lama. Amir dan teman-temannya kesulitan dalam memasarkan komik mereka.
Selain hanya bisa dipasarkan secara online, komik juga dijual melalui pameran. Modal untuk ke pameran itu ternyata terlalu banyak dan komik terbitan mereka tidak laku.
Akibatnya, kehabisan modal untuk mencetak lagi dan bubar. ’’Kesalahan komikus awal itu pengin bikin series,’’ ungkap pria asal Kandangan tersebut.
Menurut Amir, untuk komik cetak apalagi untuk pemula, lebih baik yang satu chapter langsung tamat. Tujuannya, para pembaca tidak kecewa karena menunggu dan tidak ada kejelasan. Umumnya, komikus series itu berakhir di seri atau volume kedua.
Dia mengatakan bahwa ada kutukan komikus Indonesia. ’’Satu, dua (volume), terus hilang,’’ terangnya.
Namun, Amir bersama dua teman lainnya, yaitu Fahmi Suhardiman Al Atas dan Arman Naufal, masih bertahan. Mereka bertiga memutuskan untuk membuat studio komik dengan nama Meta Komik pada 2015.
’’Itu kami belum punya tempat, lalu difasilitasi pemerintah untuk berkarya,’’ jelas Amir.
Saat itu, mereka mendaftarkan diri ke Jatim Information Technology Creative (JITC) dengan nama Meta Komik. Setelah mendaftar, mereka mendapat ruangan dan di situlah mereka mulai membuat komik.
Namun belum genap setahun, mereka memutuskan untuk pindah ke tempat tinggal Amir. ’’Karena mau rawat orang tua juga, jadi bikin studio di sini (rumah Amir),’’ imbuhnya.
Tiga sekawan itu memutuskan untuk membuat karya, yaitu Brandal. Butuh waktu lama untuk menggarap satu chapter. Saat pengerjaan tersebut, mereka belum punya modal sehingga Amir memutuskan jadi tukang ojek online.
Uang hasil ngojek itu dia gunakan untuk modal dirinya dan teman-temannya berkarya. Hingga akhirnya pada awal 2021, komik Brandal mereka ikut serta lomba Webtoon.
Mereka butuh satu tahun untuk menyelesaikan satu chapter secara menyeluruh. Amir bertugas membuat jalan cerita, sedangkan Fahmi dan Arman membuat storyboard, layering, hingga coloring. Kemudian pada akhir 2022 mereka mendapat kabar bahwa komik mereka menang dan bisa terbit. (*/c6/git/jpg/sam)
Editor : uki-Berau Post