Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ombak Tinggi, Truk Tumbang di Feri

wahyu-Wahyu KP • 2019-01-01 09:08:13

BALIKPAPAN – Cuaca ekstrem menghantui jalur pelayaran dari Pulau Jawa menuju Kaltim. Salah satu korbannya adalah Kapal Feri Dharma Kartika IX. Keganasan ombak atau alun air laut di perairan Masalembu, Jawa Timur yang dijuluki segitiga bermudanya Indonesia itu, membuat muatan kapal berantakan. Sedikitnya tujuh kendaraan mengalami kerusakan setelah rebah. Empat di antaranya truk pengangkut sembako.

Kepala Cabang PT Dharma Lautan Utama Balikpapan Jamirin menjelaskan, pada Sabtu (29/12), Kapal Feri Dharma Kartika IX bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok, Surabaya, Jawa Timur. Setelah 12 jam berlayar, pada Minggu (30/12) pukul 04.00 Wita, kapal mendekati perairan Masalembu yang kondisinya bergelombang. “Ombak setinggi 2-2,5 meter. Kemudian ada alun besar,” ujar Jamirin, Senin (31/12).

Jamirin menyebut kapal dalam kondisi aman dan tidak kelebihan muatan. Hanya ada 30 kendaraan dengan 100 penumpang. Dia menduga tak hanya karena alun, rebahnya truk juga disebabkan karena kelebihan muatan yang diangkut. Pihaknya sudah melakukan upaya mengikat kendaraan yang ada menggunakan lashing belt. Namun sia-sia terhadap truk yang kelebihan muatan. “Yang roboh itu kendaraan yang kelebihan muatan,” sambungnya.

Dia mengklaim tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Tak ada pula kerusakan yang terjadi pada kapal. Untuk kerugian, pihaknya juga mengaku tak dirugikan. Namun terjadi keterlambatan akibat proses evakuasi dari masing-masing pemilik kendaraan yang menjadi korban. “Kami sudah komunikasi dengan nakhoda tak ada kerusakan lanjutan. Soal kerusakan kendaraan sendiri sudah diasuransikan,” ucapnya.

Pantauan media ini, Kapal Feri Dharma Kartika IX bersandar di Pelabuhan Semayang, Balikpapan kemarin pada pukul 04.30 Wita. Hingga pukul 12.00 Wita, proses evakuasi masih dilakukan. Sementara lantai lambung kapal dipenuhi ceceran telur, buah, dan sayur yang diangkut truk yang rebah. Sejumlah buruh sibuk mengeluarkan benda yang berserakan. “Kami hanya bisa mengimbau bagi angkutan truk supaya tak overkapasitas. Sehingga baik operator maupun ekspedisi aman,” ujar Jamirin.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan Ibnu Sulistyono menerangkan dalam pantauannya kemarin, ada tiga titik wilayah low pressure area. Antara lain di utara Australia atau di sekitar Teluk Carpentaria, Ini yang memicu kecepatan angin dari Sumatra, selatan Jawa, utara Jawa termasuk Masalembu. Dengan kecepatan angin mencapai 25 knot. “Membuat gelombang laut lebih tinggi. Terutama di utara Australia atau selatan Papua itu bisa mencapai 5 meter lebih,” ujar Ibnu.

Kemudian ada tekanan rendah pula di bagian selatan Jawa. Ini yang masih diwaspadai dengan ketinggian ombak juga melebihi 5 meter. Termasuk di wilayah utara Kalimantan yakni di Laut Tiongkok Selatan. Namun untuk di wilayah Selat Makassar disebut ketinggian ombak masih dikategorikan normal, yakni di bawah 1 meter.

“Kecuali Selat Makassar bagian selatan yakni antara perairan Kotabaru dengan Makassar itu bisa mencapai 2 meter. Sementara perairan yang diwaspadai juga saat ini adalah di Selat Karimata bagian selatan,” bebernya.

Selain ombak, dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan menyebut cuaca ekstrem di Kaltim hingga awal 2019 masih harus diwaspadai. Hari ini (1/1) diprediksi hujan akan mengguyur Bontang. “Potensi hujan petir dari malam hingga pagi hari. Dua hingga tiga hari ke depan,” terang Ibnu. (*/rdh/rom/k18)

Editor : wahyu-Wahyu KP