SAMARINDA - Penjahat jalanan di Samarinda semakin mengkhawatirkan. Belum lagi terungkap kasus perampokan Rp 600 juta yang nyaris menewaskan Misyanto (33), kasus serupa terulang. Selasa (29/1), para penjahat nekat beraksi saat lalu lintas di Jalan Wahid Hasyim II, Kelurahan Sempaja Barat, Kecamatan Samarinda Utara, padat merayap. Jelang sore. Padahal saat itu laju kendaraan rata-rata kurang dari 40 km per jam.
Korbannya Eka. Dia baru dari Kantor BNI Jalan P Sebatik. Perempuan yang berkendaraan sendiri itu akan menuju Jalan Wahid Hasyim II. Dia sempat berhenti di depan penjual makanan ringan (gorengan). Tepat di samping rumah tahanan (Rutan) Klas IIA Sempaja, Samarinda.
“Dia (korban) memang biasa beli di sini,” sebut Ahmad Syarifudin (52), penjual gorengan. Sebelum kawanan perampok beraksi, perempuan yang dimaksud Ahmad itu turun. “Dia (korban) tanya. Pak, ada yang panas kah?” sambung pria berkumis tipis itu, menirukan perkataan korban. Saat itu, pria yang bermukim tak jauh dari tempat kejadian perkara sedang menggoreng tahu.
“Ada, sebentar lagi,” katanya kepada korban. Hanya kurang dari 2 menit setelah korban keluar dari mobil, dan percakapan dengan Ahmad terjadi, seorang laki-laki membuka pintu mobil. Langsung mengambil tas, berisi laptop, surat-surat penting, dan uang Rp 52 juta. “Korban teriak maling. Saya tidak lihat pelakunya karena terlindung mobil korban,” sambung Ahmad.
Tarik-menarik hingga pergumulan dengan pelaku sempat terjadi. Bahkan, laptop dalam tas sempat terlempar. Namun, tenaga si perempuan kalah kuat dengan pelaku berperawakan tinggi, dan membawa kabur tas berisi uang tersebut. Satu pelaku lari ke arah Jalan Wahid Hasyim, sedangkan pelaku lainnya ke persimpangan Jalan PM Noor.
Masih teringat dalam ingatan Ahmad, satu pelaku yang menunggu di atas motor, menggunakan kendaraan jenis matik. Seorang laki-laki, yang diduga kuat sindikat dari kawanan perampok, dan menunggu di atas sepeda motor sempat terjatuh, saat warga hendak menangkap. Dasarnya lihai, pria semampai mengenakan kaus itu berhasil lolos.
Sementara itu, satu pelaku lain yang kabur, dan mengarah ke persimpangan Jalan Wahid Hasyim-PM Noor-AW Sjahranie, berhasil mendapat tumpangan. "Sempat kena pukul, tapi lolos juga. Anehnya yang bawa itu bonceng tiga. Berarti 'kan jelas temannya," tegas Ahmad.
Dia menduga, dengan yang menunggu di jalan, satu laki-laki yang mengarah ke Jalan Wahid Hasyim II, dan satu lagi lari ke persimpangan, diperkirakan berjumlah empat orang.
Tak jauh dari tempat Ahmad menjual gorengan, perempuan paruh baya yang menjual durian, sempat ingin melempar dagangannya ke pelaku. Namun tidak jadi, karena saat itu warga langsung bergegas mengejar pelaku.
"Enggak jadi, soalnya warga langsung kejar," sebut perempuan berjilbab yang enggan menyebutkan namanya itu. Pedagang durian yang sering berjualan di sekitar TKP itu juga sempat membantu mengumpulkan barang-barang berharga milik korban.
Menurut pengelihatan perempuan paruh baya tersebut, satu motor sempat berhenti tepat di samping pintu depan mobil korban.
Kasus perampokan yang kembali terjadi kemarin, tentu membuat polisi kerja ekstra. Hal tersebut lantaran kasus yang menimpa Misyanto, hingga kemarin juga belum ada titik terang. Terkait siapa pelakunya yang membuat Misyanto tak hanya merugi Rp 600 juta, namun psikis dan luka-luka.
Selain kasus Misyanto, tas milik Lambertus yang berisikan harta benda, dengan total kerugian Rp 100 juta, juga belum terungkap. Saat dikonfirmasi media ini Senin (28/1), Wakasat Reskrim Polresta Samarinda AKP Triyanto menyebut, sudah ada tanda-tanda perihal pelaku kejahatan jalanan. "Identitasnya masih dilacak," ucapnya saat itu. Menyinggung kasus kemarin, Kasubag Humas Polresta Samarinda Ipda Danovan menjelaskan, dirinya belum mendapat laporan terkait aksi pencurian tersebut. "Saya belum berani kasih keterangan, karena datanya belum ada," terang perwira balok satu tersebut.(*/dra/far/k15)
Editor : wahyu-Wahyu KP