Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Yakinkan Pelanggan dengan Bersepeda

wahyu-Wahyu KP • 2019-01-31 07:34:44

Cita-cita Laili Fajarwati, ibu rumah tangga (IRT) asal Muara Jawa, begitu mulia. Selain ingin menciptakan lapangan pekerjaan, dia berharap, petani rempah di Kaltim berjaya. Bermodal resep rahasia keluarga, Laili kini sukses memproduksi jamu yang dikenal hingga luar Kalimantan.

MUHAMMAD RIFQI, Muara Jawa

SEJAK remaja, Laili Fajarwati begitu tak asing dengan minuman tradisional asli Indonesia, yaitu jamu. Kebiasaannya meminum jamu, yang dia yakini membuat dirinya beserta keluarga lebih bugar dan sehat. Terlebih, jamu olahan resep keluarganya itu tak sedikit pun menggunakan bahan pengawet atau bahan berbahaya lainnya.

Merasa telah menikmati khasiat jamu yang ia olah sendiri, sejak dua tahun terakhir, Laili mulai membuat jamu sebagai komoditi bisnisnya. Kepada Kaltim Post saat ditemui di rumahnya di Handil 4, Kelurahan Muara Jawa Pesisir, Kecamatan Muara Jawa, Laili mengaku pertama kali memulai bisnisnya tersebut dengan modal Rp 50 ribu.

Olahan Laili semula hanya dalam bentuk kemasan plastik yang diisi jamu cair. Namun, betapa tak menyangkanya Laili, jamu olahannya tersebut disukai oleh konsumen. Bahkan, diyakini memiliki khasiat beragam, bergantung jenis produk jamu yang dibuatnya. Mulai pelangsing, melancarkan ASI, hingga menghilangkan bau badan.

Laili juga makin dikenal, lantaran kerap mengantarkan jamunya dengan menggunakan sepeda untuk di sekitaran Muara Jawa. Bukan lantaran tak memiliki kendaraan lain, tetapi Laili juga ingin meyakinkan jika khasiat jamu untuk kesehatan, sudah ia alami sendiri.

“Sejak awal, yang saya jual dan pertahankan sampai saat ini adalah khasiat. Itu prinsip saya berbisnis. Alhamdulillah, saat ini banyak testimoni positif dari konsumen saya,” kata Laili.

Untuk meningkatkan kualitas pemasaran serta produksi jamunya tersebut, Laili tak segan saling bertukar pikiran dengan pengusaha usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dia juga mengikuti berbagai pelatihan untuk melakukan pengemasan produk. Dukungan keluarga pun memberi angin kekuatan kepada Laili untuk terus berinovasi.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada belasan jenis produk jamu yang saya buat. Tidak hanya dalam bentuk cair yang dikemas di botol, tapi juga tersedia dalam bentuk bubuk instan. Biasanya juga jadi oleh-oleh warga yang datang ke Kaltim,” kata Laili.

Belakangan, Laili kewalahan lantaran orderan jamu terus meningkat. Bukan lantaran dirinya tak sanggup melakukan pengolahan, tetapi bahan baku rempah yang diperlukan ternyata masih kurang. Laili bahkan harus mendatangkan bahan baku produksi dari luar daerah.

Dia pun meyakini, jika semakin membaiknya kualitas jamu akan memengaruhi peningkatan penjualan. Selanjutnya seiring meningkatnya permintaan kebutuhan bahan baku rempah, akan berimbas pada kesejahteraan petani di Kukar bahkan Kaltim.

“Untuk sebulan saya perlu ratusan kilogram bahan baku. Saya juga sudah pernah berkomunikasi dengan Dinas Pertanian Pemkab Kukar, bahwa menanam bahan baku jamu-jamuan ini akan potensial sekali menyejahterakan petani. Alhamdulillah, produk jamu saya sudah sampai Jawa dan Papua,” katanya lagi.

Harga jamunya pun bervariatif, Rp 5–50 ribu. Dia kini sedang mengurus hak paten nama produk jamu yang ia beri nama Yomija itu. Yakni, kependekan dari Ayo Minum Jamu. Sejak merintis dari 2017 hingga saat ini, Laili bukan berarti tanpa melalui kendala. Namun, kegagalan yang pernah dilalui Laili, tak membuat dirinya patah semangat. (***/kri/k8)

Editor : wahyu-Wahyu KP