Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bahagiakan Siswa Sesuai Potensinya

izak-Indra Zakaria • 2023-06-30 11:33:04
Photo
Photo

Oleh:

Srinatun SPd

Guru SD 011 Sungai Pinang Kota Samarinda

 

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak besar terhadap dunia pendidikan. Ilmu pengetahuan terus bergerak. Berbagai penemuan di bidang konsep teoritis dan ilmu terapan terus bermunculan. Perkembangan ini memberi kesempatan kepada guru dan siswa untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

Peralihan konsep berpikir tentang mendidik dan mengajar pun terus berubah menuju arah yang lebih baik. Dari konsep pembelajaran berpusat pada guru hingga menjadi berpusat pada siswa, membuktikan bahwa suatu konsep bisa berubah sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan. Dari belajar dengan larangan menggunakan gawai hingga mengharuskan penggunaan gawai, tentu harus disikapi dengan bijak. Semua unsur pendidikan harus membuka diri untuk bisa berubah. Sebab, tidak akan ada kemajuan tanpa diikuti perubahan.

Dalam pelaksanaan pendidikan, kita telah memiliki dasar-dasar pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara. Beliau mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan. Artinya, potensi dan kompetensi sebenarnya sudah ada dalam diri siswa. Gurulah yang bertugas menuntun siswa agar mampu membangkitkan potensi hingga menjadi manusia yang utuh, bahagia, dan selamat dunia akhirat.

Filosofi Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani tetap relevan dengan situasi dan kondisi pendidikan saat ini. Dengan filosofi itu, siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai kompetensi yang dimilikinya. Peran guru adalah membantu siswa agar bisa mengembangkan diri dan menemukan jalan sesuai kemampuannya.

Dengan memahami potensi siswa, guru bisa lebih bijak dalam melakukan proses pendidikan. Semua langkah dan tindakan yang dilakukan akan menyenangkan, membahagiakan, karena selalu berpusat pada siswa. Rasa senang dan bahagia dalam diri siswa akan muncul saat  tidak ada tekanan yang menyengsarakan siswa. Selalu disesuaikan dengan potensinya, memberi kemerdekaan dalam berkarya, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang berbasis teks, langkah awal yang dilakukan adalah memahami teks. Tekniknya bisa menggunakan media audio, visual, atau audiovisual. Jika siswa telah memahami suatu jenis teks, mereka akan menuliskan kembali, menceritakan kembali, atau mengonversinya ke dalam berbagai bentuk sesuai kemampuannya. Ada yang melaporkannya dalam bentuk komik, infografik, dialog drama, puisi, video, cerpen, dan sebagainya sesuai potensinya.

Dengan cara itu, ternyata antusiasme siswa dalam belajar jadi lebih meningkat. Kreativitas siswa muncul dan hasilnya sesuai capaian pembelajaran yang diharapkan. Siswa bisa membangun sikap mandiri, kreatif, dan berkebinekaan global.

Demikian pula saat pembelajaran yang mengharuskan siswa bekerja sama. Sewaktu-waktu siswa diberi kebebasan memilih anggota kelompok, pada kesempatan lain, mereka berkelompok sesuai aturan yang ditentukan. Diupayakan agar siswa bisa bekerja sama dengan siapa pun. Mereka harus bisa menempatkan diri dan menyumbangkan peran penting dalam setiap kerja kelompok.

Dalam praktiknya, bisa saja muncul hambatan. Adanya siswa yang bersifat introvert, egosentris, egois, atau trouble maker akan menjadi tantangan tersendiri yang harus segera dicari jalan keluarnya. Jika guru mengalami kesulitan, jalinlah kerja sama dengan guru BK, konsultasi dengan orangtua, dan yang terpenting menyediakan waktu untuk bicara dari hati ke hati dengan siswa yang bersangkutan. Tentu diperlukan ekstra kesungguhan dan kesabaran dalam menanganinya.

Jika rasa senang dan bahagia telah tertanam dalam diri siswa, tantangan terberat dalam tugas sebagai pendidik dan pengajar berhasil dilewati. Selanjutnya, guru jangan terlena dengan keberhasilan yang telah diperolehnya dalam mengelola kelas. Justru upaya selanjutnya adalah mempertahankan irama kerja dengan kondisi siswa yang bisa jadi akan berubah-ubah. Perubahan ini sebaiknya diantisipasi sebagai bagian dari motivasi kerja.

Segala upaya untuk membahagiakan siswa dalam belajar itu tidak bisa dilakukan guru seorang diri. Sudah tentu diperlukan dukungan dari semua unsur stakeholder sekolah. Penyediaan sarana-prasarana, pembiasaan positif, serta guru yang rela berjuang untuk keberhasilan siswa, menjadi bagian yang tidak terpisahkan agar siswa bisa mendulang kebahagiaan dan kesuksesan. Jika siswa sukses dan bahagia, gurulah orang pertama yang paling bahagia. Jadi, mari bahagiakan siswa agar kita bahagia karenanya.(pms/er/k16)

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria