Belum lama ini anak-anak di Gaza mengirim pesan kepada Dunia, tepatnya pada hari ke-31 sejak Israel memulai pengebomannya terhadap Gaza.
Terhitung di hari tersebut, total kematian di Gaza tembus hingga 10.000 nyaawa dan lebih dari 4000 anak telah menjadi korban akibat pengeboman.
Melalui postingan Instagram @eye.on.palestine, yang dikutip JawaPos.com, anak-anak Gaza menyampaikan pesan dan isi hatinya di depan para Jurnalis.
Berikut pesannya :
"Sejak 7 Oktober, kami mengalami pemusnahan, pembunuhan. Bom jatuh tepat di atas kepala kami. Semua hal ini terjadi di depan seluruh dunia. Mereka (Israel) berbohong ke dunia kalau mereka akan membunuh pelakunya."
"Tapi mereka membunuh warga Gaza, mimpi mereka dan masa depan mereka. Anak-anak di Gaza mati satu per satu. Kami datang ke Rumah Sakit Al - Shifa untuk berlindung dari bom. Tapi, malah makin banyak korban yang berjatuhan, setelah mereka menjatuhkan bom ke rumah sakit."
"Okupasi ini membuat kami kelaparan. Kami tidak menemukan air dan makanan. Dan kami minum dari air yang tercemar. Kami di sini untuk menyuarakan suara kami dan meminta anda untuk melindungi kami."
"Kami ingin hidup. Kami ingin kedamaian. Kami ingin pembunuh diadili. Kami sebagai anak - anak, kami ingin obat - obatan makanan dan pendidikan. Kami ingin hidup seperti anak - anak lain."
Menurut UN Relief and Works Agency (UNRWA), rata-rata terdapat 1 orang anak terbunuh dan 2 anak terluka setiap 10 menit selama perang.
Satu bulan anak-anak Palestina mengalami kekurangan air, makanan dan kesehatan.
Sedangkan kekurangan gizi pada anak - anak dapat dirasakan lebih cepat, karena pertumbuhan dan perkembangan otak mereka bergantung pada nutrisi yang mereka terima.
Kekurangan gizi mencegah anak-anak mencapai potensi fisik dan kognitif mereka dan membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit dan kematian.
Selain itu, kekurangan air juga dapat mengalami dehidrasi yang mana dapat membunuh bayi yang berada di lingkungan yang penuh tekanan dalam beberapa jam, dan orang dewasa yang sehat dalam dua hingga empat hari.
***
Editor : izak-Indra Zakaria