BALIKPAPAN-Kelestarian budaya diharapkan menjadi roh dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Oleh karena itu, kearifan lokal dari masing-masing etnis yang ada di Kaltim harus dijaga dan dilestarikan. Adapun persoalan yang dihadapi saat ini, berdasarkan riset dari Kantor Balai Bahasa Kaltim, salah satu bahasa asli Benua Etam, yakni bahasa Paser, dihadapkan kepunahan.
“Ternyata, muatan lokal bahasa Paser sejak tahun 2018, tidak cukup efektif untuk mempertahankan “bahasa ibu” itu. Artinya, penuturan (bahasa Paser) kita di rumah yang berkurang. Itu kunci utamanya. Maka harus dihidupkan kembali “bahasa ibu” di masing-masing rumah tangga. Karena kalau tidak, akan menjadi cerita saja,” kata Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN Alimuddin ditemui usai rembuk budaya “Kolaborasi Memajukan dan Melestarikan Kebudayaan IKN yang Inklusif dan Berkelanjutan” di Hotel Gran Senyiur, Balikpapan, Rabu (8/11).
Selain itu, upaya Otorita IKN untuk melestarikan budaya lokal ini, salah satunya melalui kegiatan di lapangan. Termasuk bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Kemendikbud-Ristek. Yang juga memiliki kelas lapangan untuk kegiatan seni dan budaya. “Pelestarian budaya pendekatan yang dilakukan Otorita IKN, sudah ada kelas lapangan. Ke depan mudah-mudahan ini terealisasi, kita akan membentuk sekolah-sekolah vokasi seni budaya,” terangnya.
Alimuddin menegaskan, jika Otorita IKN memberikan atensi terhadap pelestarian bahasa Paser yang terancam hilang. “Pelestarian budaya pendekatan yang dilakukan Otorita IKN, sudah ada kelas lapangan. Ke depan mudah-mudahan ini terealisasi, kita akan membentuk sekolah-sekolah vokasi seni budaya,” sebutnya. Sehingga dalam rembuk kemarin, pihaknya mengundang pelaku seni dan budaya, serta tokoh budaya dan adat yang ada di Kaltim. Seperti Paser, Kutai, hingga Dayak.
Lanjut dia, upaya pelestarian bahasa Paser sudah dilaksanakan Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) melalui Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Penajam Paser Utara (PPU). Dengan menambahkan mata pelajaran muatan lokal bahasa Paser untuk jenjang pendidikan SD dan SMP sejak 2018. Hal yang sama baru mulai dilaksanakan oleh Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar). Yang memulai memasukkan mata pelajaran muatan lokal bahasa Kutai pada tahun ini.
Hal yang sama, kata Alimuddin, juga dilakukan di Kecamatan Sepaku, PPU, sebagai kawasan inti IKN. Dia berharap, agar bahasa daerah tidak hilang atau punah karena tak ada lagi generasi muda yang mampu menuturkan bahasa Paser. “Bahasa Paser ini bagian budaya yang harus kita pertahankan. Dulu sebelum ditetapkan IKN, kami selalu bercanda. Kalau ke Jakarta, dua minggu, enggak terasa ada logat Betawinya. Nah kita pingin, ketika ibu kota negara sudah pindah nanti, ada bahasa yang nyangkut. Dan yang saya perhatikan di Kaltim, walaupun kadang berbahasa Indonesia yang masih bertahan adalah bahasa Kutai. Karena di kantor pun, walaupun berbahasa Indonesia logatnya Kutai,” ungkap Alimuddin.
Menurutnya, pelestarian budaya dan kearifan lokal di Kaltim merupakan tanggung jawab bersama. Dia tak menampik, di masa yang akan datang, ada akselerasi dan asimilasi atau pencampuran budaya saat IKN mulai beroperasi tahun depan. “Hal itu pasti akan terjadi. Dan tidak bisa dihindari. Oleh karenanya, penguatan budaya lokal wajib kita lakukan. Karena berhasil tidaknya IKN, bukanlah ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, atau hebatnya para aparatur yang ada. Tetapi, keberhasilan IKN sangat ditentukan oleh kesiapan masyarakat lokal,” jelasnya.
Di forum yang sama, Sultan Paser Aji Muhammad Jarnawi menuturkan, upaya melestarikan bahasa Paser sudah dilakukan Pemkab Paser. Melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2022 tentang Pelindungan dan Pelestarian Kebudayaan Adat Paser. “Kami berharap melalui perda ini, bisa mendorong guru-guru di SD dan SMP, hingga SMA bisa mengajarkan bahasa Paser kepada para siswanya. Apalagi, mendorong generasi Z untuk bisa menuturkan “bahasa ibu” mereka. Yaitu bahasa Paser, supaya tidak punah. Karena Sepaku itu, dulunya bagian dari Paser, sebelum menjadi wilayah PPU,” ungkapnya.
Aji Muhammad Jarnawi juga berharap, nantinya dibangun Istana Kesultanan Paser Sadurengas, sebagai duplikat peradaban budaya lokal di Kaltim. Selain itu, dibuatkan pula miniatur Istana Kesultanan Kutai dan Kesultanan Berau Sambaliung, sebagai identitas jati diri budaya lokal Kaltim. “Ini sudah kami sampaikan dalam beberapa kali pertemuan dengan Presiden Joko Widodo. Dan miniatur kesultanan ini, bisa berdampingan dengan budaya suku lain, seperti Dayak, Banjar, Bugis, Jawa, dan suku lainnya yang ada di Kaltim. Kami juga berharap, nama kearifan lokal Paser yang sudah ada di Sepaku saat ini tidak diubah. Seperti nama Kelurahan Sepaku, Maridan, dan Mentawir. Karena nama-nama itu, adalah jati diri kami ke depannya,” ungkapnya. (riz/k15)
Rikip Agustani
ikkifarikikki@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria