BALIKPAPAN–Sulitnya mendapat tiket pesawat menuju Kaltim dirasakan sejumlah pengusaha. Tidak hanya menyulitkan mereka pulang, juga membatalkan sejumlah agenda hingga memengaruhi bisnis mereka. Seperti yang dialami Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Batubara (APBS) Samarinda Umar Vaturusi. Dia yang dihubungi Kaltim Post menyebut hingga Rabu (1/5) “terjebak” di Jakarta.
Lantaran sulit mendapat tiket pulang pesawat, baik tujuan Bandara APT Pranoto, Samarinda, maupun Bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan. “Ini saya masih di Jakarta ini. Masih terjebak belum bisa pulang. Sudah dua minggu tidak dapat tiket. Sudah cari-cari belum dapat. Saya sampai tidak bisa menghadiri acara pernikahan keluarga,” ucap Umar. Pengalaman tidak menyenangkan ini bahkan sudah dirasakannya sejak lima tahun terakhir. Terutama setiap dirinya bepergian pasca-Idulfitri.
Kalaupun ada penerbangan, menurutnya harga tiket yang dipatok terlalu tinggi. Itu pun tidak direct flight alias harus transit lebih dulu ke kota lain. Bahkan sampai harus memutar ke Batam. “Semoga ada perbaikan dari pemerintah. Utamanya di posisi pasca-Lebaran seperti saat ini,” sebutnya. Cerita soal sulitnya mendapatkan penerbangan langsung ke Kaltim dialami seorang karyawan swasta asal Jakarta bernama Aneia Nilam.
Nei, biasa disapa, menceritakan pengalamannya terbang dari Lombok, NTT. Di mana pada 20 April lalu dirinya yang mendapatkan tugas dari kantor agar harus sudah keluar dari Lombok maksimal pada 24 April. Untuk bisa melanjutkan perjalanan dinas ke Balikpapan dalam agenda kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Tapi setelah mendapat tugas kantor itu rasanya tidak bisa tidur nyenyak. Saking sulitnya kami mencari tiket. Setiap hari harus menghubungi agen perjalanan yang berbeda untuk memantau ketersediaan tiket. Termasuk lihat di aplikasi. Tapi hasilnya sampai di 24 April itu selalu habis,” ungkap Nei. Akhirnya pada 27 April, Nei berhasil mendapatkan tiket. Namun harus terbang dulu dari Lombok pulang ke Jakarta pada keesokan harinya. Menggunakan maskapai Super Airjet dengan harga tiket sekitar Rp 1,3 jutaan. Dari Jakarta, dia pun tidak bisa langsung ke Kaltim.
Melainkan harus ke Pontianak, Kalbar. Menggunakan pesawat Pelita Air dengan harga Rp 1,2 jutaan. Baru di 29 April, dia mendapatkan tiket penerbangan Pontianak–Balikpapan. “Harus menginap dulu di Pontianak. Dari Pontianak ke Balikpapan 45 menit dengan Super Airjet, harga tiket Rp 1.125.000,” jelasnya.
Perlu Intervensi Pemerintah
Sementara itu, efek sulit mendapatkan penerbangan langsung ke Kaltim ditambah harga tiket yang mahal ikut berdampak pada bisnis penyewaan mobil. Diungkapkan Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Rental Mobil Daerah (Asperda) Kaltim, Damun Kriswanto, dengan kondisi yang saat ini berlangsung membuat tamu-tamu yang sudah booking dan terjadwal menyewa mobil akhirnya memutuskan menunda dan membatalkan pesanan mereka.
“Akhir-akhir ini memang tiket dari Jakarta atau kota lain yang menuju ke Kaltim sungguh sangat luar biasa mahal. Bahkan tamu-tamu kami yang sudah terjadwal untuk booking sewa mobil akhirnya tertunda dan tidak jadi. Kalau semacam ini perlu ada penanganan khusus kepada pemerintah,” ungkap Damun. Kondisi ini disebutnya terjadi pasca-Lebaran akibat semakin meningkatnya kunjungan ke Kaltim efek IKN.
Peningkatan kunjungan ke Kaltim dampak IKN juga disebut Sekretaris DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kaltim Daru Widiyatmoko. Sehingga membuat banyak agenda dan kegiatan yang tersendat. “Ini informasi dari teman-teman. Jadi kalau kami bisa saran bisa ditambah penerbangan atau pesawatnya di dua bandara di Balikpapan dan Samarinda. Jadi bisa lebih banyak penumpang yang bisa terbang ke Kaltim,” ujarnya.
Hal berbeda dialami oleh pengusaha asal Balikpapan, Joko Subiyanto. Pria yang menjabat wakil ketua Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Balikpapan tersebut mengaku sudah empat kali Lebaran ini tidak merasakan sulitnya bepergian dari dan keluar Kaltim. Lantaran selalu menggunakan transpotasi kapal laut.
“Saya mudik lebaran di kampung selalu pakai kapal. Alhamdulillah tidak sulit seperti kalau pakai pesawat. Namun bagi saya transportasi secara umum harusnya bisa menjadi kemanfaatan yang sebesar-besarnya buat masyarakat yang ingin memanfaatkannya. Baik itu sarana transportasi darat, laut dan udara,” ucap Joko.
Diakuinya, untuk moda transportasi udara melalui pesawat terbang memang memiliki biaya tiket terlalu tinggi dan tidak masuk akal. Baik dalam situasi normal maupun saat peak season seperti Lebaran, Natal, tahun baru, dan lainnya. Apalagi sekarang dengan adanya IKN menjadikan harga tiket pesawat bertambah mahal.
“Hal ini perlu ketegasan pemerintah untuk melakukan intervensi harga kepada operator pesawat terbang. Memberikan evaluasi terhadap tarifnya. Bayangkan tiket pesawat ke Malaysia atau Singapura lebih murah daripada tiket pesawat dari Jakarta ke Balikpapan atau wilayah lain dan sebaliknya,” sebutnya.
Cari Solusi
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno di Balikpapan dalam kunjungannya ke Balikpapan kemarin (1/5) pun menyebut kondisi terkait sulit dan mahalnya harga tiket pesawat ini harus segera diselesaikan. Dia mengungkapkan, berkoordinasi dengan kementerian terkait akan mencari solusi untuk menuntaskan masalah ini.
"Kami akan berkolaborasi dengan Kementerian Perhubungan dan beberapa lintas instansi untuk menuntaskannya," kata Sandiaga Salahuddin Uno. Salah satu opsi yang bisa dilakukan tentu dengan menambah jumlah penerbangan atau extra flight. Baik yang menuju Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan atau bandara lain di Kaltim. "Ini harus diselesaikan secara optimal. Apalagi saya juga kerap mendapatkan keluhan terkait sulitnya mencari tiket penerbangan menuju ke Kota Balikpapan. Bukan tiket yang mahal tapi memang enggak ada tiketnya," ungkapnya. (rdh/riz/k8)
Editor : Indra Zakaria