Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Fenomena Air SKM yang Menghijau, Lima Titik Jadi Sampel Pengujian

Denny Saputra • 2024-05-16 18:30:00
SEDANG DITELITI: Beberapa titik di Sungai Karang Mumus dalam penelitian tim dari Unmul, guna mengetahui perubahan air yang kehijauan.
SEDANG DITELITI: Beberapa titik di Sungai Karang Mumus dalam penelitian tim dari Unmul, guna mengetahui perubahan air yang kehijauan.

Prokal.co - SAMARINDA - Fenomena perubahan Sungai Karang Mumus (SKM) menjadi kehijauan menimbulkan berbagai penilaian. Tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Universitas Mulawarman (Unmul) turut ambil peran.

Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan SDA Unmul Dr Ir Samsul Rizal mengatakan, sampel yang diambil di beberapa titik masih dalam proses uji laboratorium.

Untuk sementara, secara umum perubahan warna SKM adalah fenomena eutrofikasi. “Jadi, yang dimaksud itu (eutrofikasi) adalah kesuburan yang berlebihan di perairan.

Penyebabnya bahan organik atau sumber nutrein lain, baik dari kegiatan domestik atau kegiatan lainnya,” kata Rizal, Rabu (15/5).

Pengambilan sampel air, plankton dan klorofil terbagi di lima titik SKM, yakni di kawasan Jembatan 1, Jembatan Lambung, Jembatan Baru, Jembatan Jalan S Parman, dan jembatan di Jalan PM Noor.

“Sampel air yang diambil meliputi plankton dan klorofil. Kemungkinan hasil dari uji laboratorium bisa keluar paling lama seminggu ke depan. Sebab, pengukuran air kemarin (14/5) dengan Rabu (15/5) itu ada perbedaan. Dan sekarang posisi berangsur kembali cokelat,” sambungnya.

Eutrofikasi adalah proses seluruh badan air atau sebagian darinya secara bertahap mengalami peningkatan kadar mineral dan nutrien, terutama nitrogen dan fosforus.

Namun, eutrofikasi dapat memengaruhi sistem air tawar dan air asin. Dalam ekosistem air tawar, hal itu hampir selalu disebabkan melimpahnya fosforus.

“Senyawa penyebabnya eutrofikasi dapat berasal dari kotoran hewan, pupuk, dan limbah yang dicuci oleh hujan atau irigasi ke badan air melalui limpasan permukaan,” tuturnya.

Namun, eutrofikasi juga dapat terjadi secara alami selama ribuan tahun, seiring bertambahnya usia danau dan terisi sedimen. “Di samping itu, aktivitas manusia juga menjadi faktor mempercepat laju eutrofikasi melalui pelepasan polutan,” terangnya.

Akibat kondisi eutrofikasi, kawasan air tawar akan memperbesar peluang alga atau plankton serta tumbuhan air berukuran mikro tumbuh lebih pesat (blooming).

Pertumbuhan tersebut terjadi karena ketersediaan fosfat yang berlebihan. Dapat mengakibatkan sejumlah hal lain, seperti warna air menjadi kehijauan, berbau tidak sedap, hingga keruh air yang meningkat menjadi pertanda adanya kondisi eutrofikasi. (dra/k16)

EKO PRALISTIO

pralistioeko@gmail.com

Editor : Indra Zakaria