Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Pesona Wisata Kutai Barat: Danau Aco Terhampar di Tengah Hutan Lebat, Simpan Kisah Pilu Ribuan Tahun Lalu.

Redaksi • 2024-07-12 13:30:00
JULUKAN: Pesona Jantur Mapan mampu mendatangkan wisatawan dari dalam dan luar Kutai Barat. (FOTO: K SUNARDI)
JULUKAN: Pesona Jantur Mapan mampu mendatangkan wisatawan dari dalam dan luar Kutai Barat. (FOTO: K SUNARDI)

 

Matahari perlahan-lahan mulai meninggal pagi, seiring teriknya mulai terasa meninggi. Jerremy seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan studi pelan tapi pasti menarik tuas gas sepeda motor miliknya, meninggalkan Barong Tongkok, Kecamatan Barong Tongkok Kutai Barat. Menuju objek wisata Danau Aco, surga tersembunyi di kawasan puncak Kampung Linggang Melapeh Kecamatan Linggang Bigung.

Untuk mencapai Danau Aco, Jerremy harus menempuh perjalanan melewati jalanan berkelok dan tanjakan curam serta tikungan tajam. Satu jam kemudian Jerremy disambut bangunan gerbang Danau Aco.

Setelah memarkirkan kendaraan, untuk masuk objek wisata Danau Aco Ia mengambil tiket masuk di meja petugas dengan membayar Rp 5 ribu. Tiket masuk hanya berlaku bagi pengunjung sedang bagi warga Kampung Melapeh boleh masuk dengan gratis. 

Setelah mendapatkan tiket masuk untuk mencapai Danau Aco, Jerremy harus menuruni 110 anak tangga dari beton, di kiri-kanan pagar besi yang dicat warna-warni, seolah tak ingin ketinggalan bunga berdaun merah juga memamerkan diri di balik pagar besi.

 

Photo
Photo
LEGENDA: Wisatawan dimanjakan pesona keindahan Danau Aco.(FOTO: K SUNARDI)

 

 

Jerremy melangkah melewati titian yang terbuat dari kayu ulin, dengan lebar 2 meter dan panjang 50 meter untuk mencapai bangunan serupa gazebo hanya saja berukuran lebih besar.

Sesampainya di bangun tersebut mata disajikan hamparan danau dikelilingi hutan lebat yang masih hijau. Danau itu tidak terlalu besar. Diameternya hanya 100 meter dengan luas sekitar 4 hektare. Memiliki airnya yang jernih, tenang. Hanya sekali-kali riak air danau muncul disapa angin pengunungan yang mengelilingi Danau Aco.

Suasananya yang tenang dengan pepohonan hijau nan tinggi menjulang ditambah suara burung saling bersahutan seolah-olah bercerita, membuat pengunjung betah berlama-lama duduk di bawah pohon di tepian danau sambil menikmati riak air. 

Objek wisata Danau Aco yang resmi dibuka pada 2012. Beberapa waktu lalu wisata Danau Aco memanjakan pengunjung dengan permainan wahana air seperti bebek, perahu karet maupun perahu, sayangnya saat ini masih dalam perawatan. Namun hal tersebut tak mengurangi jumlah pengunjung. 

Salah satu pegawai Dinas Pariwisata Kubar Hendrikus Albert yang bertugas di Danau Aco mengatakan, fasilitas yang ada masih dalam perbaikan.

"Pengunjung masih normal, dan akan meningkat jika saat liburan," ungkapnya kepada Kaltimpost.id, Rabu (10/7/2024). Objek wisata ini wajib dikunjungi sebab memiliki keunikan tersendiri berbeda dengan danau lainnya. Danau Aco adalah danau yang berada di dataran tinggi dan dikelilingi gunung juga sebagai habitat flora dan fauna khas Kalimantan. 

Objek wisata ini wajib dikunjungi sebab memiliki keunikan tersendiri berbeda dengan danau lainnya. Danau Aco adalah danau yang berada di dataran tinggi dan dikelilingi gunung juga sebagai habitat flora dan fauna khas Kalimantan.

Di balik pesona Danau Aco siapa sangka menyimpan sepenggal kisah pilu menurut kisah legenda yang dipercaya masyarakat setempat. Alkisah pada zaman dulu kala tepatnya di lokasi Danau Aco bermukim sepasang suami istri yang tinggal di rumah panjang atau biasa disebut Lamin (rumah khas suku Dayak) 

Pada suatu hari sang suami pulang dari ladang setiba di rumah mendapati istrinya yang seorang Pemeliatn (orang yang memiliki pengetahuan dan menguasai ilmu untuk melakukan ritual Beliatn, merupakan upacara yang digelar untuk proses penyembuhan orang sakit), sedang melakukan ritual Belian Bawo. 

Saat itu sang istri tengah menari sambil memukul tambur atau gendang khas dayak dengan menggunakan ekor Lutung ( Sejenis Monyet) yang telah dikeringkan.

Melihat hal itu sang suami naik pitam dan juga takut sebab apa yang dilakukan oleh sang istri adalah Tuhing atau perbuatan terlarang jika dilakukan akan menimbulkan bencana. Saat itu orang banyak yang melihat hal tersebut aneh dan tidak biasa terjadi hanya tertawa-tawa saja.Tanpa menyadari malapetaka besar akan terjadi.

Belum selesai ritual beliatn digelar seketika terjadilah angin ribut, guntur menggelegar memekak telinga, petir menyambar silih berganti dan turunlah hujan yang sangat lebah belum terjadi sebelumnya.

Bencana pun terjadi tak terhindarkan memorak-porandakan dimana Lamin sepasang suami istri tersebut berdiri. Melihat hal ini sang suami melarikan diri ke pondoknya di ladang, lalu menjadi batu di sana. Sementara istrinya hilang lenyap tenggelam oleh air hujan badai yang mengubah pemukiman menjadi danau. Danau inilah yang disebut Danau Aco, namanya diambil dari sang istri. (*)

 
 
 

 

 
Editor : Indra Zakaria