"Bahkan, selama kemarau, beberapa wilayah masih akan mengalami hujan dengan intensitas rendah, " ucapnya. Kukuh menjelaskan hujan pada awal kemarau di Agustus mendatang diperkirakan memiliki intensitas rendah, sekitar 50 milimeter per bulan. Puncak kemarau sendiri diprediksi terjadi pada September dan relatif cukup pendek karena berada di garis ekuator.
Dari data hasil analisis BMKG Stasiun Balikpapan menunjukkan bahwa sepanjang Juni lalu, curah hujan di beberapa wilayah Kaltim memiliki intensitas tinggi, dengan rata-rata 400 milimeter per bulan. Daerah itu meliputi PPU, Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara (sebagian wilayah), Kutai Timur dan Kutai Barat (sebagian wilayah).
Lalu pada Juli 2024 akhir, BMKG memprediksi hujan intensitas menengah dengan rata-rata 300 milimeter per bulan diperkirakan terjadi di PPU, Balikpapan, dan Samarinda. BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap dampak hujan dengan intensitas menengah bulan ini, termasuk potensi tanah longsor, jalan licin, banjir, dan pohon tumbang.
"Masyarakat juga perlu waspada terhadap transisi iklim dari musim hujan menuju musim kemarau karena adanya awan cumulonimbus yang menyebabkan terjadinya hujan lebat disertai petir, angin kencang, hingg puting beliung," pungkasnya. (mrf/nha)