Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Puncak Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025, Mengalir dari Ingatan Silam Menuju Cakrawala Zaman

Redaksi • 2025-10-14 10:46:19
AGENDA: Asep Juanda (kiri) dan Rahmad Azazi Rhomantoro pada puncak Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025, Minggu, 12 Oktober 2025 di Amphiteater Edupark Samarinda.
AGENDA: Asep Juanda (kiri) dan Rahmad Azazi Rhomantoro pada puncak Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025, Minggu, 12 Oktober 2025 di Amphiteater Edupark Samarinda.

 

PROKAL.CO, SAMARINDA-Rangkaian kegiatan Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025 mencapai puncaknya pada Minggu (12/10/2025) di Amphiteater Edupark Samarindak.

Acara penutupan berlangsung khidmat dan hangat, menandai berakhirnya perhelatan sastra yang selama beberapa hari terakhir menghadirkan berbagai kegiatan literasi, pembacaan karya, dan diskusi budaya.

Acara ditutup Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Asep Juanda, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap upaya Tirtonegoro Foundation dalam menjaga semangat literasi dan sastra di daerah ini.

Ia menekankan pentingnya sastra sebagai ruang refleksi dan ekspresi kebudayaan yang tetap relevan di tengah arus perubahan zaman.

Sebagai bagian dari penutupan, digelar dialog sastra bertajuk “Sastra Kaltim: Mengalir dari Ingatan Silam Menuju Cakrawala Zaman.”

Dialog ini menghadirkan tiga tokoh penting dunia sastra Kalimantan Timur - Syafruddin Pernyata, Hamdani Swara, dan Syafril Teha Noer - dengan Amin Wangsitalaja bertindak sebagai moderator.

Dalam diskusi yang berlangsung interaktif dan reflektif tersebut, para narasumber menyoroti perjalanan panjang sastra Kaltim, mulai dari akar tradisi lisan hingga transformasinya ke bentuk-bentuk baru dalam media digital.

Mereka juga membahas tantangan generasi muda dalam menghidupkan kembali ingatan kultural, serta peran karya sastra sebagai jembatan menuju masa depan yang lebih terbuka dan kreatif.

Suasana dialog berlangsung akrab, diselingi pembacaan puisi dan testimoni peserta yang merasa terinspirasi oleh kegiatan ini.

PEREMPUAN DALAM SASTRA DAN TEATER KALTIM

Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025 kembali menghadirkan ruang diskusi bertajuk “Ruang Suara: Sastra, Teater, dan Perempuan di Kalimantan Timur”, yang digelar di Taman Cerdas Samarinda, Minggu (12/10/2025).

Dialog ini menghadirkan dua narasumber, Wuri Handayani dan Nella Putri Giriani, dengan Rega Armella sebagai moderator. Ketiganya merupakan sosok aktif dalam pengembangan sastra dan teater di provinsi ini

Dalam diskusi tersebut, para narasumber membahas keterlibatan perempuan dalam dunia sastra dan teater di Kaltim, termasuk berbagai tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan waktu, produktivitas, serta minimnya ruang yang mewadahi kegiatan kreatif perempuan.

Mereka juga menyoroti peralihan dari ranah sastra ke akademik yang sering kali menimbulkan kesulitan dalam menjaga keseimbangan antara karya kreatif dan tulisan ilmiah.

Para pembicara menegaskan bahwa banyak langkah dapat dilakukan agar perempuan tetap produktif berkarya, di antaranya membangun kebiasaan menulis secara rutin, menyalurkan keresahan sehari-hari ke dalam karya sastra, memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan, serta aktif bergabung dalam komunitas literasi dan teater.

Selain itu, karya-karya sastra perempuan Kalimantan Timur dinilai memiliki potensi besar dalam menyuarakan isu-isu sosial, lingkungan, dan pemberdayaan.

Salah satu contoh yang diangkat adalah karya Korrie Layun Rampan melalui novel Perjuangan, yang menyoroti perlawanan perempuan terhadap modernitas yang merusak lingkungan-karya yang dianggap masih relevan hingga kini.

Rahmad Azazi Rhomantoro, penggagas Sastraloka 2025, menyampaikan apresiasi atas partisipasi para peserta dan kontribusi narasumber.

“Melalui lokakarya seperti ini, kami berupaya menumbuhkan kembali kesadaran sastra di Kaltim. Puisi bukan sekadar karya, tetapi ruang refleksi dan pembacaan terhadap kehidupan. Harapannya, Sastraloka dapat menjadi wadah berkelanjutan bagi para penulis muda dan sastrawan daerah,” ujarnya. (*)

Editor : Faroq Zamzami
#sastra #literasi #samarinda #kaltim