Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025, Beber Trik Penulisan Cerpen hingga Puisi 

Redaksi • 2025-10-14 16:25:00
DIMINATI: Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025 menghadirkan lokakarya penulisan cerpen pada Jumat, 10 Oktober 2025.
DIMINATI: Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025 menghadirkan lokakarya penulisan cerpen pada Jumat, 10 Oktober 2025.

PROKAL.CO, SAMARINDA-Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025 menghadirkan Lokakarya Penulisan Cerpen Kalimantan Timur (Kaltim) yang berlangsung pada Jumat (10/10/2025).

Kegiatan ini menghadirkan Dadang Ari Murtono dan Dahri Dahlan sebagai narasumber utama dan diikuti oleh peserta dari berbagai komunitas sastra serta pegiat literasi di Benua Etam.

Dalam lokakarya tersebut, Dadang membahas berbagai aspek penting dalam proses penulisan cerpen, mulai dari penggalian ide, pembangunan tokoh dan karakter, penggunaan latar, hingga teknik dialog dan penyusunan adegan.

Menurutnya, ide dalam menulis sesungguhnya tidak pernah benar-benar habis. “Bahkan kehabisan ide bisa dijadikan ide itu sendiri,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membaca untuk memperkaya gagasan, serta memperkenalkan metode what if sebagai cara efektif mengembangkan imajinasi.

“Di Sastraloka, ide tulisan berangkat dari cerpen-cerpen Korrie Layun Rampan, karena dari sana banyak kemungkinan kreatif bisa digali,” tambahnya.

Dalam sesi tokoh dan karakter, Dadang menjelaskan perbedaan antara keduanya. Tokoh adalah sosok utama dalam cerita, sedangkan karakter adalah sifat dan ciri khas yang melekat pada tokoh tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya logika sosial dan budaya dalam memberi nama dan membentuk kepribadian tokoh.

Sementara itu, pada aspek latar, penulis diingatkan untuk tidak hanya mengandalkan penglihatan, tetapi juga memanfaatkan seluruh pancaindra dalam mendeskripsikan suasana agar teks menjadi lebih hidup.

“Tulisan yang kaya perspektif sensorik akan membuat pembaca benar-benar hadir di dalam cerita,” jelasnya.

Untuk bagian dialog, Dadang mengingatkan agar penulis menghindari penggunaan dialog hanya sebagai pemanjang cerita.

Dialog, katanya, harus mampu menggerakkan alur, memperdalam konflik, dan memberi dinamika pada narasi.

Ia juga menambahkan pentingnya ekspresi tubuh dalam memperkuat adegan, serta menganjurkan untuk menghindari pengulangan informasi yang sudah dijelaskan dalam narasi.

MENYELAMI TUBUH DAN RUH PUISI

Dalam rangkaian Sastraloka Tirtonegoro Foundation 2025, juga digelar Lokakarya Penulisan Puisi yang menghadirkan Novan Leany sebagai narasumber utama.

Lokakarya bertema “Korrie dan Membaca Tragedi dalam Tubuh Puisi” ini berlangsung di Samarinda dan diikuti puluhan peserta dari berbagai komunitas sastra di Kaltim.

Dalam paparannya, Novan Leany, menekankan menulis puisi bukan sekadar bermain kata, melainkan juga menyelami tubuh dan ruh puisi.

Ia mengutip pandangan Iman Budhi Santosa bahwa menulis puisi itu tidak sulit, tetapi menjadi penyair tidak gampang. Menurutnya, penyair sejati adalah mereka yang mampu menggali pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual dari kehidupan individual maupun sosialnya.

Novan menjelaskan, kekuatan puisi lahir dari kesadaran terhadap bahasa, bunyi, imaji, dan makna. Ia menguraikan berbagai unsur penting dalam puisi seperti diksi, pengimajian, tema, perasaan, nada, dan suasana, yang semuanya berpadu untuk membangkitkan pengalaman emosional pembaca.

“Puisi yang baik bukan hanya enak dibaca, tetapi juga meninggalkan gema di dalam diri,” ujarnya.

Ia juga memperkenalkan berbagai teknik penulisan seperti akrostik, pararima, naratif, dan aliterasi, lengkap dengan contoh karya dari penyair nasional seperti Aan Mansyur, Rustam Effendi, dan Goenawan Mohamad, serta karya penyair Kaltim, Korrie Layun Rampan.

Novan menekankan pentingnya metafora, personifikasi, simile, dan repetisi dalam memperkaya bahasa dan memperdalam makna puisi.

Dalam konteks lokal Kaltim, Novan mengajak peserta untuk lebih berani menulis puisi dengan menggali imajinasi kultural daerah, seperti kehidupan tepian sungai, hutan, ritual adat, dan kisah masyarakat pesisir.

Rahmad Azazi Rhomantoro, penggagas Sastraloka 2025, menyampaikan apresiasi atas partisipasi para peserta dan kontribusi narasumber.

“Melalui lokakarya seperti ini, kami berupaya menumbuhkan kembali kesadaran sastra di Kaltim. Puisi bukan sekadar karya, tetapi ruang refleksi dan pembacaan terhadap kehidupan. Harapannya, Sastraloka dapat menjadi wadah berkelanjutan bagi para penulis muda dan sastrawan daerah,” ujarnya. (*)

Editor : Faroq Zamzami
#cerpen #puisi #kaltim #lokakarya