SAMARINDA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) berhasil membuka kembali dan mengaktifkan jalur vital Sotek–Bongan yang menghubungkan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dengan Kutai Barat (Kubar). Jalur sepanjang 105 kilometer ini, meskipun sebagian ruasnya masih berupa tanah dan agregat, kini sudah dapat dilalui kendaraan, menandai terbukanya akses strategis setelah bertahun-tahun tertutup.
Peresmian pembukaan jalur ini dilakukan langsung oleh Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, pada Sabtu (18/10/2025). Gubernur menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan menembus rute yang sangat penting ini.
“Alhamdulillah, kita berhasil menembusi jalur Sotek–Bongan. Kalau nanti sudah diperbaiki, Bongan–Sotek kira-kira hanya 1,5 jam saja,” ujar Rudy.
Akses Strategis Lima Ratus Kilometer Menjadi Seratus Kilometer
Ruas jalan Sotek–Bongan melintasi empat kabupaten, yaitu PPU, Kutai Kartanegara (Kukar), Paser, dan Kutai Barat. Jalur ini dinilai sangat strategis karena berfungsi sebagai akses vital untuk mobilisasi masyarakat dan distribusi logistik di wilayah Kaltim bagian barat.
Dengan semakin baiknya kondisi jalan, efisiensi waktu tempuh dan biaya transportasi diperkirakan akan berkurang secara signifikan, mencapai hingga 80 persen dibandingkan rute sebelumnya.
Rudy Mas’ud menjelaskan perbandingan drastis tersebut: “Kalau dari Kutai Barat menuju IKN lewat Kukar, Samarinda, dan Balikpapan, jaraknya bisa mencapai 500 kilometer. Tapi lewat jalur ini, hanya sekitar 100 kilometer lebih sedikit. Artinya, bisa hemat waktu dan biaya hingga 80 persen.”
Selain memangkas jarak, jalur baru ini akan memperlancar distribusi bahan bakar, logistik, serta mobilitas penumpang antar daerah. Dampaknya, biaya distribusi dipastikan jauh lebih efisien, sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi di kawasan tersebut.
Gerbang Ekonomi Menuju IKN
Jalur Sotek–Bongan memiliki posisi strategis sebagai akses utama dari wilayah Kutai Barat dan Mahakam Ulu (Mahulu) menuju kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Bahkan, rute ini berpotensi menjadi penghubung penting antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara menuju kawasan inti pemerintahan baru Indonesia.
Gubernur Kaltim menegaskan bahwa terbukanya jalur ini bukan hanya soal konektivitas fisik, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah pedalaman. Akses transportasi yang terbuka diyakini akan mendorong aktivitas perdagangan, investasi, serta membuka lapangan kerja baru.
“Dengan jalur ini, masyarakat pedalaman bisa lebih cepat mengakses pusat ekonomi. Mudah-mudahan jalur ini bisa segera terkoneksi dengan baik,” pungkasnya. Pembukaan akses ini diharapkan dapat mewujudkan pemerataan pembangunan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi regional di Kaltim. (*)
Editor : Indra Zakaria