Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Resensi Buku Puisi Tiada Jembatan yang Tak Luka, Sebuah Bacaan yang Relevan untuk Zaman Now  

Redaksi • 2025-11-14 09:52:06
Photo
Photo

 

Oleh: Ilham Putra Padlian

(Mahasiswa Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/FISIP, Universitas Mulawarman/Unmul, Samarinda). 

Tiada Jembatan yang Tak Luka

Penulis: Unis Sagena

Penerbit: Hikam Media Utama

Tahun terbit: 2024

Jumlah halaman : 92

Kumpulan Puisi

 

Sinopsis Buku

PROKAl.CO-Buku ini menyajikan beberapa puisi yang singkat, tapi mendalam, memberikan pesan dan kesan bergantung puisinya itu sendiri.

Ada yang menggambarkan kejamnya dunia politik, abstraknya dunia filosofi, dan masih banyak lagi. Di dalam buku ini lebih banyak menggambarkan masalah sosial dalam kehidupan kita yang penuh lika-liku.

Isi Resensi Buku

Tiada Jembatan yang Tak Luka adalah buku kumpulan puisi yang sedikit berbeda dengan buku-buku puisi pada umumnya.

Buku puisi yang lain mungkin memberikan puisi dengan genre tertentu senada dengan gaya bahasa yang jelas dan terkadang tulisannya sedikit panjang untuk menggambarkan makna dari puisi itu sendiri, tetapi tidak dengan buku puisi ini.

Buku puisi satu ini memiliki gaya bahasa yang unik dalam menyampaikan puisinya.

Singkat, tapi mendalam. Penulis menggambarkan tiap-tiap puisinya memiliki genre tersendiri. Ada yang bergenre dunia politik, pemikiran filsafat, bahkan ada ilmu sosial yang menggambarkan kehidupan kita sehari-hari.

Contohnya salah satu puisi yang menggambarkan kehidupan sosial kita yang berjudul “Bagi Mereka Aku Sampah” memberikan pesan saat kita dianggap sampah oleh orang lain, apakah kita menerima menjadi sampah sambil menyembunyikan wajah sembari menangisi diri atau tetap bermimpi dan melawan, bahwasanya dirimu bukanlah sampah.

Buku ini pun mengandung pemikiran filsafat. Contohnya salah satu puisi dalam buku tersebut yang berjudul  Arah yang Menuju, setiap baitnya membuat saya teringat pemikiran seorang filsuf dari Denmark, yakni Soren Kierkegaard (1813-1855). Pada bait “Namun, arah mana yang sungguh kau tuju?” Ini mirip dengan pertanyaan khas Kierkegaardian yaitu “Apakah engkau benar-benar memilih arahmu sendiri, atau hanya mengikuti arus mayoritas?”

Dalam buku The sicknees Unto Death, kierkegaard, menjelaskan kita manusia sering kehilangan diri karena takut menghadapi keterpanggilan pribadinya di hadapan Tuhan.

Dalam bait ini seperti mengatakan selama ini ia berdoa, tapi tak tahu tujuan imannya itu sendiri.

Tak hanya ruang lingkup filsafat saja, tetapi puisi tentang dunia politik pun ada, disampaikan dengan halus tapi sangat tepat sasaran, untuk sekelas puisi.

Salah satu puisi yang kuat akan dunia politiknya berjudul Antagonistik Cinta yang mana pada bait “Di sanalah engkau.. Di menara gadingmu.. Di belakang mejamu.. Di atas podiummu” menggambarkan sebuah kritik terhadap para pemimpin, pejabat, ataupun kaum elite yang jauh dengan rakyatnya.

Tidak habis sampai situ saja, pada bait selanjutnya terasa lebih “pedas” dibandingkan bait sebelumnya, seperti “…Pedagogi palsu dalam sejumput retorika..” bermakna sebuah pidato atau pendidikan politik yang terlihat indah di kata, tapi hampa dalam aksi.

Juga pada bait “Pidato heroik berdalih perjuangan.. Kau tak pernah lapar pun mabuk melawan hidup...” menggambarkan sindiran terhadap pencitraan juga retorika nasionalisme palsu. Serta menggugat pemimpin yang tak pernah merasakan akan derita masyarakatnya.

Ini sangat berhubungan dengan kehidupan kita sekarang, di mana kurangnya pemimpin yang jujur nan bijak, kebanyakan value para pemimpin sekarang hanya sebatas hedonisme atau biasa disebut self ego, sering menyenangkan dirinya sendiri, dan lupa akan tanggung jawabnya.

Ya, seperti apa yang dikatakan puisi ini pada bait terakhir “Alangkah nahasnya nasionalisme ini…”

Penulis juga tak lupa memberikan halaman untuk tempat mengkeritik bukunya “khusus” untuk seorang jurnalis sekaligus seorang murid dari penulis sekira 20 tahun lalu bernama Faroq Zamzami.

Ini mengisyaratkan bahwa penulis memberikan ruang untuk kita mengkritisi bukunya. Segala respek untuk penulis.

Kelebihan Buku

Tiap-tiap puisi memberikan pesan yang berhubungan dengan kehidupan kita bahkan membuat kita berpikir “Apa sih maksud dari penulis?”. Gaya bahasa yang unik membuat kita terhanyut dalam puisi tersebut.

Tak lupa terkadang ada beberapa kata yang mungkin tidak kita ketahui ataupun tidak tahu kutipan dari mana.

Penulis selalu memberikan catatan kaki untuk kata-kata atau sesuatu yang mungkin tidak umum dengan kita.

Buku ini sangat relavan dengan kehidupan kita sekarang. Dari buku ini kita sadar bahwa kehidupan kita tidak hanya hitam dan putih,tapi terkadang abu-abu.

Jadi hadirlah buku ini menyajikan sebuah pemikiran dan bahkan pertanyaan yang nantinya kita bisa pakai untuk fondasi kita dalam menghadapi masalah hidup kita.

Bahkan beberapa puisi mungkin menyadarkan kita bahwasanya kita berada di jalan yang salah.

Kekurangan Buku

Ya, tiada yang sempurna di dunia ini. Pasti selalu memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri, itu juga berlaku pada buku ini.

Memang dalam buku ini tiap puisi menyampaikan pesan dan kesannya sendiri, tapi terkadang sulit dimengerti, entah karena gaya bahasanya yang unik dan sedikit abstrak juga adanya istilah-istilah yang sulit dipahami, membuat pembaca bingung apa sih maksud dari puisi ini?

Untuk orang awam mungkin akan tertahan dalam beberapa puisi tertentu karena berpikir keras maksud dari puisi yang dibacanya.

Contohnya, puisi yang berjudul “Munshi 3: Pertemuan sebelum Pertemuan”, puisi tersebut kaya akan makna serta bernuansa spirtual-filosofis, bait yang paling saya suka itu pada bait “Benarkah ada pertemuan Sebelum pertemuan?”

Ini menggambarkan sebuah refleksi metafisik tentang fitrah manusia sejak awal mengenal Tuhannya, tetapi terlupa di dunia dan kini berusaha mengingat kembali.

Kesimpulan

Jadi, menurut saya, buku Tiada Jembatan yang Tak Luka ini sangat bagus dan layak dibaca sebagai pegangan di kehidupan kita sekarang.

Puisi yang diangkat pun tidak telalu berat maupun terlalu ringan, ramah untuk segala usia. Tiap puisi menggambarkan perjalanan penulis dalam kehidupan yang penuh lika-liku.

Dari puisi-puisi inilah penulis meluapkan semuanya. Juga dari buku inilah penulis dapat berbagi pengalaman serta pelajaran hidup yang berarti buat kita semua. (*)

Editor : Faroq Zamzami
#puisi #UNMUL #samarinda #resensi buku