Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Alarm Keras Banjarbaru: Kasus HIV/AIDS Melonjak ke Urutan Kedua di Kalsel

Redaksi Prokal • 2025-11-20 10:00:00
ilustrasi hiv aids
ilustrasi hiv aids


BANJARBARU – Ibu Kota Kalimantan Selatan, Banjarbaru, tengah menghadapi krisis sosial dan kesehatan yang serius, ditandai dengan tingginya kasus HIV/AIDS dan maraknya pelecehan serta kekerasan seksual.

Korps PMII Putri (KOPRI) PC PMII Banjarbaru menyoroti tajam fakta bahwa Banjarbaru kini menempati urutan kedua kasus HIV tertinggi di Kalsel dengan 688 kasus kumulatif. Dari angka tersebut, 99 pasien telah meninggal dunia.

"Ini bukan lagi angka. Ini alarm keras untuk Kota Banjarbaru," ujar Ketua KOPRI Banjarbaru, Wahyuni, dalam keterangan pers pada Selasa (18/11/2025). Ia menegaskan, peningkatan kasus ini bukan hanya persoalan kesehatan semata, tetapi juga mencerminkan kerentanan sosial yang kompleks di tengah masyarakat.

Soroti Kekerasan Seksual dari Lingkaran Terdekat
Dalam audiensi dengan Pemerintah Kota Banjarbaru, KOPRI juga menyuarakan keresahan atas maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual, yang mayoritas menyasar perempuan dan anak. KOPRI menilai isu ini saling berkaitan dan membutuhkan penanganan lintas sektor yang serius.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemkot Banjarbaru, Rizana Mirza, mengakui bahwa problem kekerasan seksual adalah masalah yang paling sunyi namun paling dekat.

"Pelakunya sering justru berasal dari lingkaran terdekat korban. Keluarga sendiri. Itu yang paling memprihatinkan," ucap Mirza.

Mirza menambahkan, banyak korban anak memilih diam karena takut dan malu, serta tidak tahu harus melapor ke mana, membuat kasus-kasus ini sulit terungkap.

Menanggapi tingginya angka HIV/AIDS, perwakilan Dinas Kesehatan Banjarbaru, Bintang, menjelaskan bahwa tingginya temuan kasus juga dipengaruhi oleh keberhasilan program deteksi dini. Ia memastikan, "Sebagian pasien memang berasal dari luar Banjarbaru. Tapi pengobatan tetap ditangani di sini, dan seluruhnya gratis."

Melihat kondisi ini, KOPRI PMII menilai pendekatan preventif tak boleh lagi bersifat normatif. Mereka berharap audiensi ini menjadi langkah awal kolaborasi strategis dengan Pemko.

Sebagai langkah nyata, KOPRI kini sedang menyiapkan program intervensi langsung, salah satunya berupa pelatihan bela diri dasar untuk anak-anak di panti asuhan, sebagai upaya perlindungan diri dasar bagi anak-anak rentan. (*)

Editor : Indra Zakaria