Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Balikpapan Tak Dapat Jatah Jargas

wahyu-Wahyu KP • 2019-01-06 07:32:53

BALIKPAPAN – Pemkot Balikpapan memastikan, tahun ini Kota Minyak tak mendapatkan jatah penambahan sambungan jaringan gas (Jargas) rumah tangga dari pemerintah pusat. Kota ini diminta untuk mengawal operasional 5.000 sambungan rumah (SR) yang baru selesai dibangun akhir 2018.

Hal ini disampaikan Kabag Perekonomian Setkot Balikpapan, Arzaedi Rachman kepada Kaltim Post baru-baru ini. “Kabar terakhir dari Kementerian ESDM, tahun ini Balikpapan tidak dapat tambahan sambungan untuk Jargas,” ujarnya.

Dia menyebut, itu karena kota ini baru saja menyelesaikan pembangunan 5.000 sambungan baru. Maka, tahun ini digunakan untuk memaksimalkan operasional sambungan baru tersebut. Sebab, percuma ada alokasi tambahan jika jaringan yang sudah ada belum beroperasi secara optimal.

“Karena jargas ini kan sifatnya sambung-menyambung dengan jaringan yang sudah ada. Nah, bagaimana mau dibangun lagi kalau yang ada sekarang masih belum beroperasi optimal. Makanya, karena baru selesai dibangun, tahun ini masa pemeliharaan. Tahun depan kami akan usulkan lagi penambahan,” tambahnya.

Dia menjelaskan, daftar tunggu untuk pemasangan jargas ini yang telah dikantongi pemerintah kota mencapai 15 ribu orang. Dari data tersebut, pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran untuk penyusunan Detail Engineering Design (DED) pada 2018 lalu. Sehingga, selanjutnya bisa langsung melakukan pekerjaan sesuai dengan DED yang ada.

Diketahui, pada tahap pertama, sebanyak 3.849 sambungan jargas telah terpasang di Kelurahan Karang Jati, Karang Rejo dan Sumber Rejo. Kemudian, tahun lalu Balikpapan mendapat tambahan 5.000 sambungan yang dikerjakan oleh (KSO) Sucofindo dan PT Noorel Idea. Perusahaan ini memenangkan tender pembangunan Jargas di Kaltim (Balikpapan, Penajam, dan Bontang) dengan nilai anggaran Rp 119,3 miliar.

Jargas sendiri merupakan program konversi agar masyarakat beralih dari penggunaan gas elpiji yang lebih banyak impor, ke compressed natural gas (CNG) yang sumbernya melimpah di Indonesia. Penggunaan jargas lebih murah dan diklaim jauh lebih hemat. Selain itu juga lebih aman.

Berbeda dengan LPG yang dikemas dalam tabung bertekanan tinggi, tekanan pada pipa jargas jauh lebih rendah. Sehingga meminimalisasi potensi kebocoran. Selain itu, perbedaannya terletak pada berat jenis gas. LPG punya berat jenis yang lebih besar. Ketika tabung bocor, gas tidak akan menguap melainkan terkumpul di bagian bawah. Sehingga berpotensi timbul kebakaran ketika ada sumber api. Sementara CNG berat jenisnya lebih ringan. Sehingga ketika ada kebocoran, gas langsung menguap di udara. (rsh2/k18)

Editor : wahyu-Wahyu KP