BALIKPAPAN - Guna memenuhi kebutuhan air bersih warga, PDAM Tirta Manggar terus berupaya menambah air baku. Salah satunya dengan melakukan penggalian sumur dalam, karena Balikpapan masih mengalami defisit air baku sebanyak 800 liter per detik.
Walhasil, pelayanan air bersih PDAM untuk warga Balikpapan baru mencapai 79 persen. Air baku masih mengandalkan Waduk Manggar dan beberapa sumur dalam dengan kapasitas 1.200 liter per detik.
“Topografi Kota Balikpapan salah satu sebab belum meratanya pelayanan air bersih untuk warga. Karena topografinya berbukit-bukit,” kata Direktur Utama PDAM Tirta Manggar, Haidir Effendi, kemarin (14/1).
Untuk itu, tahun ini PDAM akan membangun tiga sumur dalam di beberapa lokasi yang telah disurvei. Di antaranya, kawasan Prapatan dan Kampung Baru. Observasi, menurut Haidir, harus dilakukan sebelum proses penggalian sumur. Begitupun debit air yang keluar dari sumur.
“Saya pernah menantang kontraktor, siapa yang berani memastikan sumur yang mau digali keluarnya air 100 liter. Tidak ada yang berani, karena teknologi apa pun tidak bisa memastikan kapasitas air yang keluar dari galian,” ujar Haidir.
Dia juga menyebutkan bahwa beberapa sumur dalam telah beroperasi. Di antaranya, 7 sumur di Teritip, 8 di Gunung Sari, 2 di Prapatan, dan 2 di Baru Ulu. “Upaya untuk mencarikan solusi dalam penyediaan air bersih terus dilakukan, seperti menambah jumlah sumur dalam,” katanya.
Lanjut Haidir, salah satu yang akan dimaksimalkan, yakni IPAM Baru Ulu karena air bakunya masih disokong IPAM Kampung Damai. Pasalnya, dari tiga sumur bor yang dibangun PDAM, hanya dua sumur yang menghasilkan air. Sumur pertama menghasilkan 16-17 liter per detik, sedangkan sumur kedua hanya 7 liter per detik.
“Salah satu sumur di Baru Ulu memang tidak digunakan karena kualitas air tidak layak,” akunya.
Selain kendala air baku, faktor lain yang dihadapi PDAM adalah pipa distribusi yang 70 persen berada di bawah jalan serta bangunan. Sehingga, ketika terjadi kebocoran, bukan pipa saja yang diperbaiki tapi juga mengembalikan bekas galian.
“Kendala yang kami hadapi itu soal koordinasi dengan instansi terkait, misalnya, Dishub dan kepolisian. Karena, jangan sampai pekerjaan galian untuk memperbaiki pipa justru menimbulkan kemacetan lalu lintas,” akunya.
Sementara Bendungan Teritip yang telah selesai dibangun dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2018, belum juga beroperasi. (dan/vie/k1)
Editor : amir-Amir KP