Wakil Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud beserta rombongan menyerahkan bantuan dari pemkot dan warga Balikpapan untuk korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (18/1) lalu. Bantuan diterima Sekda Palu, Asri SH. Lalu, apa saja yang dilakukan rombongan selama berada di kota berjuluk Mutiara di Khatulistiwa ini?
SUDARMAN RAMADANI
KOTA Palu, Sulawesi Tengah, punya ikon wisata yang menjadi kebanggaan. Namanya Jembatan Ponulele atau sering disebut Jembatan Kuning. Dari namanya, karena catnya yang berwarna kuning. Namun, ikon megah ini akhirnya roboh setelah tak mampu menahan dahsyatnay guncangan gempa dan tsunami yang melanda Palu beberapa bulan yang lalu.
Dahsyatnya gelombang tsunami menyusul gempa berkekuatan 7,7 SR menggoncang Kota Palu, Donggala dan Sigi (Sulawesi Tengah), 28 September lalu. Bisa terlihat disalah satu bukti yang tersisa, yakni Jembatan Jembatan Kuning.
Rombongan Pemkot Balikpapan pada saat di Kota Palu, selain mengunjungi Kampung Petobo yang terkena Likuifaksi. Salah satu lokasi yang didatangi yakni Jembatan Kuning yang menjadi ikon Kota Palu yang menghubungkan antara wilayah Palu Timur dengan Palu Barat.
Di tempat ini, rombongan melihat sisa-sisa Jembatan Kuning. Menjadi saksi luar biasanya dampak tsunami. Meski sudah tak nampak lagi bagian-bagian besi jembatan yang terlihat hanya fondasi jalan aspal menuju ke Jembatan Kuning.
Tampak tidak ada aktivitas pembangunan di sekitar Jembatan Kuning. Hanya ada warga yang mengabadikan momen dengan berfoto serta beberapa warga Palu mengais besi, sisa reruntuhan jembatan. Salah satunya Ridwan (43). Warga Talise bermodalkan linggis, parang, gergaji besi dan palu besar mengambil sisa besi fondasi jembatan.
“Awalnya memang dimarahin sama petugas. Tetapi saat ini sudah tidak lagi. Katanya juga membantu membersihkan puing-puing sisa jembatan yang roboh,” ujar Ridwan kepada Balikpapan Pos, Jumat (18/1).
Besi-besi yang mereka dapat pun dikumpulkan ke dalam karung. Dengan cekatan Ridwan bersama temannya mengangkat besi yang dia dapat ke atas mobil pikap yang sudah menunggu di daratan.
“Rencananya besinya mau saya kumpulin dulu di rumah. Kalau sudah banyak, baru dijual,” ucap Ridwan.
Jembatan Kuning yang hancur adalah jembatan nomor empat yang posisinya di Muara Sungai Palu. Ketiga jembatan yang lain masih utuh dan masih bisa digunakan oleh masyarakat.
“Saat gempa cukup besar, Jembatan Kuning atau jembatan empat runtuh mungkin fondasinya terkena gempa dan tsunami. Tetapi untuk menuju Palu Barat ke Timur ada tiga jembatan yang lainnya nggak apa-apa,” sambung Sekda Kota Palu, Asri.
Dengan adanya tiga jembatan yang tersisa, mobilitas masyarakat tak terganggu. Asri menambahkan, saat ini pemerintah sedang menghitung nilai kerusakan yang disebabkan oleh gempa dan tsunami.
Jembatan yang memiliki panjang sekitar 250 meter dengan titik lengkung 20,2 meter dari badan jembatan ini diresmikan pada Mei 2006 lalu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meresmikan. Jembatan Kuning dan merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia.
“Kalau di dunia, Jembatan kuning ini jembatan ketiga setelah Jembatan lengkung yang ada di Jepang dan Prancis,” sambung Asri.
Dulunya kehadiran Jembatan Kuning ini membuat Kota Palu lebih berwarna. Selain itu, jembatan ini juga penghubung warga Palu yang ingin menuju ke Donggala, jadi tidak salah jika jembatan ini memiliki peranan yang cukup penting.
Warga Palu menyebut banyak kenangan yang melekat pada Jembatan Kuning. Salah satunya ingatan tentang banyaknya buaya yang kerap muncul di perairan bawah jembatan.
“Di bawah Jembatan ini suka muncul buaya. Lalu kami foto,” kata Rudi, salah seorang warga Palu.
Rudi juga mengatakan, saat malam sebelum diterjang gempa dan tsunami. Jembatan ini punya pemandangan yang menakjubkan. Lampu-lampu bersinar dan menjadi tempat selfie paling ramai di Kota Palu.
“Pada waktu malam hari sebelum bencana, jembatan kuning warna lampunya bervariasi,” akunya.
Ke depannya sebagai warga Palu, dirinya berharap agar Jembatan Kuning bisa kembali dibangun. Dengan harapan desainnya tidak terlalu beda dengan Jembatan Kuning yang terdahulu.
“Dulu itu desainya sudah bagus, tidak dengan kekuatan fondasinya. Mungkin hal itu yang harus diperhatikan jika nantinya dibangun kembali,” pungkas Rudi. (*/rus)