INI sebetulnya peristiwa lama. Generasi yang lahir tahun 70-an tak pernah mengalaminya. Tapi pasti pernah mendengar cerita bahwa ada tempat berolahraga yang unik.
Lapangan bola pasang surut. Lokasinya pada pertemuan antara Sungai Berau-Sungai Kelay dan Sungai Segah. Namanya Pasarakan. Gusung pasir yang muncul saat air sungai surut.
Pagi-pagi saya sudah menuju ujung Tanjung. Memang posisinya di pojok. Tempat penyeberangan perahu ketinting. Pagi, para juragan ketinting biasanya nongkrong di Tabbing Siring (pinggir sungai) sambil menunggu penumpang yang akan ke Gunung Tabur. Ada belasan ketinting yang beroperasi. Ada yang memilih operasi siang, ada juga yang operasi malam hari. Ada Pak Jafri, Pak Perdana, Pak Nasir, Pak Bastian, Pak Maskut, juga Pak Alamsyah.
Usia para juragan ketinting beda-beda tipis dengan saya. Sehingga tidak terikat dengan aturan cara menyapanya. Ketika saya bertanya di mana lokasi persisnya Pasarakan, mereka hampir kompak menunjukkan lokasi yang saya maksud. “Itu nah, pertengahan pertemuan sungai,” kata Bastian yang dulu bekerja di Kantor Diknas (sekarang Disdik). Arusnya sangat kencang. Saya belum mulai bertanya, bahwa lokasi itu dahulu tempat bermain bola, bergantian mereka menjelaskan. Mengapa, ada empat orang yang duduk santai di pinggir sungai itu. Semuanya pernah menikmati bagaimana serunya bermain bola di Pasarakan. ”Biasanya sore hari, di saat air surut,” kata Bastian.
Pada saat surut, pasir di Pasarakan itu mucul. Terlihat sangat luas. Beberapa jam di saat proses air surut berlangsung, para pemain bola sudah masing-masing menunggu. Ada yang menunggu di Gunung Tabur, di Sambaliung, ada juga pemain yang menunggu di ujung Tanjung yang jaraknya hampir sama.
Ada yang menumpang perahu dengan mendayung. Ada juga yang berselancar menggunakan kepingan papan sambil meluncur menuju Pasarakan. Pak Ibnu Sina Ashari, mantan Sekda Berau, salah satunya yang berselancasr dengan sekeping papan. Tiba di lokasi, langsung main bola. Tak ada gawang, bolanya pun dari getah yang dibuat menjadi bola. Bentuknya lebih besar dan berjahit benang. Menjelang senja, para pemain bubar. “Kalau haus, tinggal minum air sungai. Tak ada yang sakit perut,” kata Pak Ibnu.
Menurut Bastian, saat itu masih di Sekolah Dasar. Mungkin keberadaan Pasarakan hingga tahun 1960 dan 1965. Setelah tahun itu, tak pernah terlihat lagi hingga sekarang. Mungkin karena perubahan iklim maupun perubahan alam lainnya, walaupun surut terendah, Pasarakan tak pernah muncul lagi.
Kenapa bermain bola di Pasarakan? Ya, pada tahun itu memang belum ada lapangan bola yang bisa digunakan. Bermain dengan gembira, tak ada gawang yang dipasang. Kalau juga ada, penandanya hanyalah tumpukan pasir atau apapun. Saat bermain, memang badan berlumpur, tapi setelah bermain bola, langsung nyebur ke sungai, dan pulang ke rumah sudah bersih.
Selain sebagai tempat bermain bola, bagi sejumlah warga, Pasarakan juga menjadi tempat yang sakral. Dalam hal apa? Setiap Ibu-ibu yang habis melahirkan, Ari-ari (timbuni) biasanya dibuang di Pasarakan. Warga juga tidak tahu mengapa Pasarakan dijadikan tempat membuang ataupun menanam Timbuni. Kalau sekarang kan tinggal menanam di halaman rumah.
Jumlah Timbuni yang ditanam atau lebih tepat dihanyutkan di Pasarakan, pastilah banyak. Sebab, sebagian besar warga melakukan hal yang sama. Baik yang tinggal di Sambaliung, Gunung Tabur, maupun di Tanjung Redeb.
Saya pernah berbincang dengan Pak Makmur (mantan Bupati Berau), membicarakan soal Pasarakan. Ternyata, ia juga sempat menyaksikan serunya warga bermain bola di Pasarakan. Kenangan itulah, ia pernah berpikir membuat sesuatu di lokasi itu.
Idenya waktu itu, membuat semacam mercusuar agar kapal yang masuk tahu bahwa lokasi itu dangkal. Sebab banyak peristiwa yang terjadi. Dimana, kapal yang mungkin tidak tahu mengalami musibah kandas di Pasarakan berhari-hari hingga tiba air pasang tertinggi.
Selain bentuk mercusuar, Pak Makmur juga punya ide untuk membuat tugu. Ya, namanya Tugu Pasarakan. Ada lampu dan Air Mancur. Sementara, di ujung tugu ada miniatur Penyu dan Burung Walet. Mirip dengan bentuk lambang Kota Surabaya. Tapi ide itu tak pernah terwujud. Padahal itu hal yang sangat menarik.
Ada juga gagasan membebaskan lahan di ujung Tanjung. Di tempat ini kemudian dibangun monumen dan taman sekitarnya. Tidak siapa yang bisa membebaskan rumah warga di ujung Tanjung. Prosesnya tentu panjang dan berbiaya mahal. Tentu banyak yang berharap gusung Pasarakan bisa muncul lagi. Bisa jadi lebih menarik lagi. Saya juga pasti ikut bermain bola atau sekadar santai di Pasarakan. (*/asa)
Editor : uki-Berau Post