Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

TEGANYA..!! Puluhan Anak Dipaksa Jadi Anjal

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 23 Maret 2019 | 10:09 WIB

SAMARINDA-2018 jadi awal mula mimpi buruk dua bersaudara, FK (12) dan IN (10). Dari kampung halamannya, Nusa Tenggara Timur (NTT), mereka bersama 28 anak lain dibawa oleh dua pria menggunakan kapal ke Samarinda. Di Kota Tepian, mereka dipekerjakan menjadi pengemis dan pengamen.

Setiap hari mereka harus memasang wajah memelas, meminta-minta. Atau menyanyi sebisanya. Demi mendapat rupiah dari pengguna jalan. Mereka dituntut mengumpulkan uang bernominal tertentu. Jumlahnya ditentukan oleh dua pria tersebut. Bila tidak dipenuhi, mereka akan disakiti.

“Ibu lagi di Arab Saudi, bapak enggak tahu di mana,” tutur FK saat ditemui awak media kemarin (22/3). Kini mereka bisa lebih lega, karena telah terbebas dari kungkungan dua pria tersebut. Kemarin mereka dimintai keterangan oleh tim Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PPTPPO) Kaltim.

Dalam sehari, mereka diwajibkan menyetor uang Rp 1 juta. Bila tak terpenuhi, mereka akan menerima perlakuan kasar. Dan, mereka sering mendapat perlakuan tersebut. Mulai pukulan tangan kosong hingga benda tumpul. “Enggak tahu tempatnya (penyiksaan) di mana, karena mata ditutup dulu baru dibawa jalan,” ungkapnya.

Bocah yang terakhir kali bersekolah di kelas V SD itu mengungkapkan, tempat tidurnya tidak menentu. Yang mereka tahu, diantar dari kawasan Samarinda Seberang ke daerah Pasar Segiri. Di sana, mereka menyebar. Jika tak pulang, bakal dicari. Tentunya kembali disiksa. FK dan IN setiap hari mendapat pemukulan. “Paling banyak Rp 50 ribu,” tuturnya.

Nah, mereka melepaskan diri dari dunia kelam itu setelah berpapasan dengan relawan. Mereka terlihat kebingungan di kawasan Mahakam Lampion Garden (MLG), Sungai Kunjang. Kepala FK luka, badannya memar di sana-sini.

Koordinator PPTPPO Kaltim Adji Suwignyo menjelaskan saat ini pihaknya masih menelusuri keberadaan anak-anak lain yang bernasib sama dengan FK dan IN. “Ada satu anak katanya masih berada di tangan dua pria itu dalam kondisi terikat,” jelasnya. Menurut Adji, kasus perdagangan orang tidak bisa dimaafkan. Pemerhati anak itu menyebut, polisi harus serius menangani perkara ini.

Setelah diajak berbincang oleh Adji, FK dan IN enggan kembali. “Dia mau mondok (belajar di pondok pesantren),” sambungnya. Hingga kemarin, keduanya masih ada di salah satu markas relawan di kompleks Polsek Samarinda Kota. (*/dra/ndy/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria
#samarinda