Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bingka Kentang

uki-Berau Post • 2019-05-10 11:23:31

PASAR Ramadan yang digelar tiap tahun di halaman Masjid Agung Baitul Hikmah, menjadi ajang bertemunya warga dari berbagai lapisan. Bukan saja mereka yang sedang menjalankan puasa, tapi warga lainnya juga ikut menikmati suasana belanja itu.

Setiap Pasar Ramadan berlangsung, perhatian saya selalu tertuju ke satu tempat. Seingat saya, dalam sepuluh tahun terakhir, kegiatan Pasar Ramadan selalu dinanti warga. Rasanya tak lengkap, bila bulan puasa tanpa Pasar Ramadan. Dan, Pak Bakri selalu ikut. Tempatnya pun sudah dikaveling lebih dahulu. Tak pernah bergeser jauh. Di situ-situ saja.

Sebetulnya, jadwal jumpa Pak Bakri saya agendakan setelah pekan pertama kegiatan Pasar Ramadan. Saya tak tahan. Setiap ke tempat ini, saya selalu lewat di depan lokasi Pak Bakri Berjualan. Tempatnya strategis. Selalu berada di depan. Memang harus pesan yang lebih luas, karena banyak peralatan yang digunakan untuk menyimpan berbagai jenis kue. Ada dua lemari kaca berukuran besar dan bangku panjang. Satu meja kasir di tengah. Meja ini, khusus tempat Pak Bakri.

Stan Pak Bakri inilah yang membuat saya terkejut pada hari pertama dimulainya pasar Ramadan.  Sebab, karyawannya yang sebanyak 19 orang itu, berteriak menyebut ‘Jalangkote’, semacam pastel yang digoreng dengan berbagai jenis sayuran isinya, juga dinikmati dengan sambal cair. Tak ada pilihan lain, saya harus mampir.

Tak perlu memilih. Kalau harus memilih, saya pasti bingung kue apa yang saya mesti beli, untuk buka puasa. Sebab, ada 50 jenis kue yang datawarkan. Yang saya ingat, hanyalah bingka kentang. Tanpa basa basi, masuk ke dalam dan meminta dibungkuskan dua bingka kentang. Tak perlu lagi nanya berapa harga. Toh, tak ada kesempatan tawar menawar.

Pasar Ramadan ini memang unik. Walaupun namanya pasar, tapi dalam jual beli tak ada tawar menawar. Konsumen cukup bertanya soal harga. Kalau cocok, bungkus, tinggal menghitung berapa banyak jenisnya. Makanya, walaupaun banyak orang, suasananya tidak gaduh.

Saya ingat, sekali waktu saya pernah berbelanja takjil di Bendungan Hilir (Benhil) Jakarta. Jumlah penjualnya tidak banyak, tapi lumayan ributnya. Lokasinya di pinggir jalan raya. Juga tak ada tawar menawar, tapi ada yang ditugaskan untuk mengarahkan pembeli ke tempat tertentu. Ini yang bikin ribut.

Pak Bakri, juga tidak repot. Tak pernah terdengar suaranya yang nyaring. Ia hanya duduk di meja, sambil bertanya berapa yang harus dikembalikan uang pembeli. Maklum, yang dikerahkan jumlahnya 19 orang pekerja. Lebih banyak perempuan. Semua karyawan sudah hafal harga mulai dari jalangkote, bolu peca yang super manis itu, amparan tatak hingga bingka kentang.

Saya tidak mau mengganggu Pak Bakri berlama-lama ngobrol. Saya lihat sibuk sekali. Ratusan pembeli yang datang dan pergi meninggalkan lokasi pasar Ramadan. Setelah dibungkuskan 2 bingka kentang, saya bayar lalu berfoto sejenak. Dan, berlalu. Hanya ada satu pertanyaan saya yang harus dikonfirmasi dengan sang istri di rumah. “Tahun lalu omzet kita berapa mah,”kata Pak Bakri, yang bertanya lewat telepon.

Dengan suara perlahan Pak Bakri menyebut, pendapatan selama 25 hari kegiatan Pasar Ramadan tahun lalu sekitar Rp 275 juta. Atau sekitar Rp 11 juta omzet setiap harinya. Saya pikir, untuk tahun ini omzet Pak Bakri akan lebih banyak lagi. Untuk hari pertama saja, sudah bisa mengumpulkan Rp 18 juta dan hari kedua Ramadan meningkat menjadi Rp 20 Juta. Angka yang tidak kecil.

Selama Ramadan, merupakan hari yang lumayan menyibukkan. Bukan di saat ketika berada di lokasi berjualan. Tapi, kesibukan itu saat berada di rumah. Semua kue yang ditawarkan, dibuat sendiri. Tak ada kue titipan penjual lain. Saya bisa membayangkan, bagaimana sibuknya Pak Bakri bersama pekerjanya di rumahnya.

Saya sempat membuat kesalahan kecil, ketika berbincang degan Pak Bakri. Saya menyapanya Pak Haji. “Saya belum haji,” kata Pak Bakri. Tapi, kata dia, saya sudah mendaftar. Dan, baru mendapat giliran untuk berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun 2021 nanti. Moga saja Pak Bakri diberikan kesehatan, agar niat mulia menunaikan ibadah bisa terlaksana. Amin.

Ketika catatan ini saya buat, Rabu (8/5) malam, bingka kentang yang saya beli di tempat Pak Bakri masih tersisa 3 iris lagi. Tiga irisan kecil, sudah saya nikmati saat berbuka puasa. Saya tidak sanggup menghabiskan semuanya, walau ukurannya kecil. Lumayan padat dan gurih. Sambil menuntaskan catatan ini, saya tuntaskan juga 3 iris sisanya. Bingka kentang Pak Bakri. Enak Meman. Ups salahhhh, Enak Memang. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan