Dalam hitungan pekan, libur Lebaran menyapa. Diaspora, domestik maupun internasional pun bersiap menengok kampung halaman demi melestarikan tradisi mudik saban tahun.
LEBARAN tak afdal jika tak dilakoni bersama keluarga besar. Tapi meroketnya harga tiket pesawat setiap arus mudik Lebaran, membuat jalur transportasi laut serta darat diprediksi kembali menjadi primadona bagi para pemudik.
Sejauh mana pemerintah menyiapkan kenyamanan bagi masyarakat yang hendak mudik? Belum lama ini, Kaltim Post menyusuri jalur mudik di bagian selatan Kaltim. Mulai dari titik nol simpang tiga Loa Janan hingga menuju perbatasan Kabupaten Pasir, Kaltim dan Kabupaten Tabalong di Kalsel.
Dari pantauan Kaltim Post, meski kondisi jalan sebagian besar dalam kondisi baik, namun terdapat beberapa titik longsor yang sedang dalam perbaikan. Sebagian lagi ada dalam kondisi rusak sedang. Baik karena aspal yang terkelupas maupun badan jalan yang berbatu-batu. Yang perlu diwaspadai adalah jalur dengan kondisi tikungan tajam dan rawan terjadi kecelakaan.
Dari pertigaan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar) badan jalan tampak mulus hingga menuju simpang tiga Km 6 Loa Janan. Untuk jalur Samarinda-Balikpapan ini dikenal sebagai jalur ekstrem. Lantaran tak sedikit yang memiliki geometri atau tikungan tajam yang kerap memakan korban. Maka tak heran, terdapat garis markah jalan yang tidak terputus, yang memperingatkan pengendara agar tidak asal menyalip.
Hingga memasuki kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto di Desa Batuah, Kukar, terdapat jalan menyempit dan hanya bisa digunakan di bagian kanan jalan. Tepatnya di Kilometer 50, sehingga hanya bisa dilalui satu unit mobil dari satu arah karena sedang dalam penanganan longsoran. Proses buka tutup jalur pun dilakukan masyarakat setempat.
Jika terjadi kepadatan pada arus mudik, maka tidak menutup kemungkinan jalur ini akan menjadi titik kemacetan. Lantaran waktu yang dibutuhkan untuk kendaraan yang melintas secara bergantian menjadi lebih lama dengan jumlah kendaraan yang sangat banyak. Rambu safety tampaknya juga perlu diperbanyak pada titik ini. Lantaran pada malam hari, kurangnya cahaya penerang membuat pemudik bisa saja lengah dan tak mengira terdapat jalur longsor.
Sebagian besar jalan hingga Balikpapan kondisi jalan tampak mulus. Meskipun terdapat jalan “keripik” alias bergelombang. Bagi pengendara yang sering melintas pada jalur ini, jalur “keripik” tersebut bisa saja dihindari. Namun, bagi pemudik yang jarang melintas, titik ini bisa menjadi ranjau.
Selanjutnya dari pertigaan di jalan poros Balikpapan menuju Pelabuhan Kariangau juga terpantau menjadi titik langganan macet. Dari pertigaan Kilometer 5 jalan poros Balikpapan-Samarinda menuju Jalan Projakal terdapat turunan jalan yang curam.
Tak hanya rawan macet, tetapi juga berpotensi kecelakaan lantaran tak sedikit truk besar tak mampu bertahan dan akhirnya mundur tak terkendali. Hingga di penyeberangan Kariangau menuju Penajam Paser Utara (PPU), pada hari biasa tak terlalu tampak antrean.
Hanya menunggu sekitar sepuluh menit, mobil yang ditumpangi awak media ini langsung masuk. Empat dermaga yang tersedia, membuat feri tak lama melakukan bongkar muat. Namun, untuk di PPU, hanya terdapat dua dermaga. Sehingga, proses bongkar muat memakan waktu lebih dari setengah jam.
Yang menggembirakan, sejumlah akses jalan Kaltim-Kalsel yang sudah mulai mulus sejak dua tahun terakhir, bakal semakin mudah dilewati. Pasalnya, sejumlah akses jalan longsor dan berlubang sudah mulai dikerjakan karena proses lelang telah selesai. Yaitu dengan guyuran anggaran APBN.
Kabar kurang menyenangkannya adalah masih terdapat beberapa titik jalan yang rusak bahkan longsor yang membuat pemudik serta sopir armada transportasi umum patut ekstra berhati-hati. Apalagi, pengerjaan jalan longsor tersebut dipastikan tak bisa tuntas sebelum arus mudik Lebaran 2019 mendatang.
Untuk pengerjaan jalan, masih fokus pada pengerjaan penambalan lubang-lubang di jalur selatan Kaltim itu. “Untuk lubang-lubang kita kebut. Tapi untuk penanganan longsor dan pengerjaan peningkatan jalan, targetnya adalah hingga akhir tahun,” ujar Agung, koordinator lapangan proyek penanganan longsoran Kuaro–Batu Aji saat ditemui di lapangan.
Dari pantauan Kaltim Post, setidaknya penanganan perbaikan jalan nasional di bagian selatan Kaltim dibagi menjadi dua. Bagian pertama pengerjaan penanganan longsoran Penajam, Kademan hingga Kuaro. Berdasarkan pelang kegiatan yang terlihat, proyek ini bersumber dari APBN dengan nilai kontrak Rp 9.007.894.000. Kontraktor pelaksanaannya adalah PT Surya Jagadhita Sejahtera.
Sedangkan dari Kelurahan Kuaro hingga Batu Aji, dikerjakan PT Jaya Putra dengan nilai proyek Rp 3.732.981.000. Tanggal kontrak proyek, yaitu sejak 7 Februari lalu dengan sumber dana juga dari APBN. Jalan negara dari PPU menuju perbatasan Kalsel pun diprediksi bakal mulus hingga akhir tahun.
Untuk longsoran pertama terlihat di Kecamatan Waru. Longsoran jalan tampak terlihat sepanjang sekitar 20 meter dengan badan jalan tersisa hanya 50 persen. Jika dari arah PPU, jalan yang bisa digunakan, yaitu di sebelah kanan jalan dengan kondisi jalan menurun dan sedikit berbelok ke kiri.
Selanjutnya, di Kecamatan Long Ikis juga terdapat longsoran di sebelah kiri jalan sepanjang sekitar 20 meter yang kini sedang dalam perbaikan. Pengguna jalan juga harus ekstra hati-hati lantaran akses jalan yang menyempit dan harus dilakukan buka tutup.
Longsoran ketiga terdapat di Kecamatan Kuaro atau tak jauh dari simpang tiga menuju Tanah Grogot. Badan jalan yang longsor di sepanjang 4 meter, membuat pengguna jalan harus menahan laju kendaraan. Pada malam hari, jalur ini sangat gelap dan hanya mengandalkan lampu penerangan dari rumah warga di bibir jalan.
Tak hanya akses jalan yang longsor, jalur ini juga terdapat tanjakan menikung yang rawan terjadi kecelakaan. Di Kecamatan Batu Sopang misalnya. Di kawasan ini terdapat jalan berbukit yang biasa disebut Gunung Rambutan. Jalur ini tampak mengular dengan kondisi badan jalan yang menyempit. Di puncak jalan terdapat air terjun yang biasa disinggahi para pemudik.
Tumpukan kendaraan yang parkir di badan jalan juga dikhawatirkan akan mengganggu pengguna jalan yang melintas dalam kondisi menanjak. “Kalau musim mudik nanti, biasanya memang ramai. Mobil-mobil biasanya stop di sana, karena mau mandi-mandi di air terjun,” ujar Salim, pemilik warung di lokasi tersebut.
Di Muara Komam juga tak sedikit ditemukan jalan rusak berbatu, akibat pengelupasan aspal jalan. Jalur ini, juga patut diwaspadai pengguna kendaraan roda dua jika dalam kondisi hujan.
Nah, bagi pemudik yang memilih jalur darat menuju Berau, dipastikan perjalanan nyaman sebab jalurnya sudah baik. “Untuk jalan Samarinda-Berau itu sudah 80 persen bagus. Sisanya 20 persen masih dalam masa perbaikan,” ungkap Sandy, salah satu penyedia jasa mobil travel Samarinda-Berau. Berkecimpung dunia travel Samarinda-Berau sejak 2012, Sandy mengaku saat ini akses jalan Samarinda-Berau lebih baik dari sebelumnya. Beberapa perbaikan terjadi. Namun, tidak banyak mengganggu kerjanya.
Meski pesawat jurusan Samarinda-Berau sudah ada. Namun, tak sedikit yang memilih via darat. Penyebabnya bisa saja masalah harga. Pasalnya, tiket pesawat Samarinda-Berau berada di kisaran Rp 850 ribu hingga Rp 1 juta. Sedangkan via darat, jasa mobil travel hanya sekitar Rp 350 ribu per orangnya.
Para penyedia jasa travel ini pun biasanya mulai kebanjiran penumpang di H-10 Lebaran. “Saat low season biasanya saya tujuh kali pulang pergi Samarinda-Berau tiap bulan. Kalau Lebarannya, bisa dua kali lipat,” akunya. (tim kp)
TIM LIPUTAN
YUDA ALMERIO
NOFIYATUL CHALIMAH
MUHAMMAD RIFQI
EDITOR
ISMET RIFANI
Editor : izak-Indra Zakaria