Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menggesek Biola Tidak Sembarangan, Mood Mesti Dijaga

izak-Indra Zakaria • 2019-06-24 13:20:31

Memiliki kepercayaan diri dan menghargai pencapaian yang dimiliki selama ini, Purwacaraka mengatakan recital merupakan langkah menuju panggung musik yang lebih besar. 

 

GERMAN Dance karya Carl Ditters von Dittersdorf memiliki irama khas. Seperti dalam lagu-lagu Disney yang ceria. Tapi tetap berkelas. Lagu ini dibawakan Jocelyn Ruby Kate Karundeng dalam Junior Recital Violin Classic, di Jati Sungkai Meeting Room Jatra Hotel, Ahad (23/6). Bermain di ruangan tertutup dan kedap, suara dari alunan biolanya terdengar clear. Aksi remaja 14 tahun itu disaksikan langsung oleh Purwacaraka. Pemilik dari sekolah musik tempatnya berlatih selama ini.

Selama pertunjukan 30 menit itu, bungsu dari dua bersaudara pasangan Jessy Karundeng dan Vanda Delsia Tumbel ini membawakan lima lagu. Dalam sekolah musik, recital merupakan ujian bagi seseorang yang ingin naik kelas. Bak menyaksikan sebuah mini konser. Para siswa yang melakukan recital mestilah tampil secara solo, atau dibantu seorang pengiring. Ruby sendiri telah berhasil melewati grade lima. Untuk melanjutkan grade enam, atau masuk dalam kelas senior ia pun mesti tampil dalam recital.

Musik klasik bagi Ruby bak magnet. Semenjak duduk di bangku kelas 2 SD, ia telah belajar memainkan biola. Dari kelima lagu yang dimainkan, dara kelahiran Balikpapan, 10 Juni 2005 ini mengatakan tertantang dengan lagu Concerto in G Minor Op 12 No 1, karya Antonio Lucio Vivaldi. Lagu ini memiliki tiga bagian, sehingga tidak mudah dihafalkan. “Melatih kesabaran dan ketelitian, menghafal note balok tidaklah mudah. Menggesek biola juga tidak sembarangan. Pikiran dan hati kita juga mesti sinkron, biar bisa fokus. Mood sangat memengaruhi, itu juga bisa terlihat dari permainan musik yang ditampilkan,” tutur pelajar SMP kelas 2 di Yayasan Pendidikan Advent Balikpapan ini.

Usai penampilan penutup dan pemberian penghargaan kepada Ruby, Purwacaraka pun memberikan wejangan. Ia meminta Ruby agar tidak berhenti bermain biola, sekalipun kelak disibukkan dengan kegiatan lain atau pindah kuliah ke luar kota. Penilaiannya akan penampilan Ruby dalam recital yang baru kali pertama digelar di Balikpapan sudah baik dan bagus. 

 “Sudah bagus, perlu ditingkatkan dan belajar lagi, terlebih lagu yang punya tempo panjang. Memang melelahkan, apalagi saat membawakan lagu-lagu terakhir, itu akan memengaruhi stamina pemain,” ucapnya.

Purwacaraka juga berpesan, recital merupakan ujian yang mesti dilakoni secara praktik bukan sekadar teori oleh seluruh siswa. Mematangkan diri dalam bermain musik, menantang dirinya sendiri, serta membuat peluang untuk masa depannya, apakah siap menjadi seorang pemusik yang sesungguhnya. Siswa pun diuji dalam komposisi banyaknya lagu dan stamina bermain.

 “Output dari recital ini diharapkan siswa bisa merasa bangga dengan pencapaian dirinya selama ini dan bisa tampil memukau dalam permainan tunggalnya. Ini juga langkah baru, bukan hanya naik grade tapi tahap menemukan jati diri dan panggung yang lebih besar lagi,” ujarnya.

Purwacaraka menambahkan, keberadaan Purwacaraka Music Studio di Balikpapan sudah berusia 11 tahun. Berdiri sejak 2018, sudah ribuan murid belajar di sekolah musiknya. Dirinya menilai banyak bibit muda yang bisa diasah. “Bakat siswa yang ada sangat luar biasa, hanya saja mereka masih minim memiliki kesempatan untuk menampilkannya,” tutupnya. (lil/riz/k15)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#musik #feature