ADA yang menganggap itu tak berharga, justeru di lain tempat sangat dicari. Hasil perikanan juga demikian. Karena tak bisa diolah kembali, sehingga ikan kering yang tak bernilai itu, diangkut keluar daerah. Hasilnya lumayan.
Pagi kemarin Kamis (27/6), saya mengirimkan ucapan selamat kepada teman saya Dedet lewat akun instagramnya. Dia berhasil terpilih menjadi komandan olahraga Basket. Tahun ini, rupanya Mas Dedet lengkapnya Dedy Okto menjadi tahun emas. Selain komandan di Perbasi, ia yang masih muda usia, berhasil lolos sebagai anggota Legislatif dari Partai Nasdem. Selamat yaa, bosku.
Kembali saat berkunjung ke Tanjung Batu. Saya sebetulnya, saya ingin sekali jumpa dengan Pak Ismail, pengusaha muda yang sangat peduli dengan lingkungan laut. Sebagai penampung hasil laut, ia harus tahu asal usul ikan yang dibawa para nelayan. Bila berasal dari aktifitas tidak ramah lingkungan, jangan harap ia menerima. Sayang, saat melintas rumahnya tertutup. Lain kali saya agendakan untuk bertemu khusus.
Lalu, saya berhenti tak jauh dari komplekls perumahan atlet. Saya tidak tahu, status asset ini milik siapa. Yang jelas, dulu sebagai salah satu fasilitas saat Berau dapat jatah menyelenggarakan cabang olahraga air arena PON. Disinilah dulu atlet ditampung.
Sekarang kondisinya menyedihkan. Rumput dibiarkan tumbuh tak terurus. Pintu gerbang, tak lagi terlihat jelas tulisan yang terbuat dari besi antikarat. Rumah-rumah yang dulunya bercat putih bersih, sekarang jadi kusam. Makin lama warna dinding tak bisa dibedakan, antara warna putih dan hitam.
Saya ingat dulu, pernah dengan basa basi saya sampaikan ke Pak Makmur, waktu menjabat bupati. Saran saya, agar perumahan atlet ini, dijadikan saja sebagai pusdiklat. Dengan catatan, aset dilimpahkan ke kabupaten. Untuk kegiatan pelatihan yang lebih dari lima hari, bisa saja ditempatkan disini. Dulu persoalannya listrik, sekarang listrik sudah tak masalah lagi. Bisa jadi, karena saya hanya basa basi, tidak ada tindaklanjut. Dan, seperti itulah kondisinya.
Moga saja, ketika Bupati Muharram yang melakukan halalbihalal ke Tanjung Batu, Kamis (27/6) bisa melintas di tempat itu. Ia pasti bertanya-tanya. Walaupun dalam hati. Mau diapakan bagusnya kompleks perumahan atlet itu. Apakah dibiarkan satu persatu “dipinjam” pakai, atau segera dimanfaatkan. Sayang karena ada kesan diterlantarkan. Mau dibersihkan, siapa yang berani keluar ongkos. Bisa jadi juga, ada ide mempihak ketigakan, dijadikan transit wisata.
Disekitar perumahan atlet itulah, ada kegiatan yang dilakukan Pak Rasyid. Sepintas tak ada yang menarik. Saya penasaran juga, lalu mampir. Pak Rasyid bersama tiga orang anggotanya, sibuk memasukkan ikan kering ke dalam karung plastik berwarna putih. Supaya padat, harus ditambah dengan injakan.”Inilah barang yang paling rendah kelasnya, dan tidak laku di jual di Berau,”kata Pak Rasyid.
Saya mencermati jenis ikannya, ada jenis yang masih laku.”Ikan Bete-Bete, saya paling suka,”kata saya pada Pak Rasyid. Ikanb tersebut diterima dalam kondisi sudah kering. Proses pengeringan dilakukan di bagan apung. Pada saat terang bulan, ikan kering itu dibawa ke tempat Pak Rasyid.
Setiap minggu sekitrar 15 ton ikan terkumpul. Ada pasaran yang mencari “limbah” ikan ini. Ikan diangkut dengan truk menuju Samarinda, selanjutnya diantarpulaukan ke Surabaya.”Katanya mau dibikin tepung ikan, atau bahan campuran pakan ikan dan pakan ayam,”kata Rasyid. Ia tak menyebutkan berapa harga jualnya. Ia hanya bergurau, bahwa ia hanya mengolah limbah menjadi barang yang laris manis.
Tanjung Batu selama ini dikenal sebagai salah satu sentra ikan asin jenis Teri. Ada juga yang dipasarkan di Berau, tapi proruksi ikan asin Teri, tak mampu diserap pasar seluruhnya. Kualitasnya bagus. Dan, prosesnya juga tidak menggunakan bahan pengawet. Banyak pengusaha luar daerah yang mendatangkan ikan asin Teri maupun jenis ikan Otek dari Tanjung Batu, diboyong ke Surabaya dan Banjarmasin.
Barangkali jenis ikan inilah yang menjadi bahan baku, ketika ada rencana membangun pabrik pembuatan tepung ikan di Kampung Sukan. Acara peletakan batu pertama, dilakukan meriah. Proyek itu ternyata gagal. Makanya, ikan asin Teri, Otek dan limbah itu, dialihkan ke luar daerah. Ternyata laris manis.(*)
Editor : uki-Berau Post