Menulislah, maka namamu akan dikenang kemudian abadi.
NOFIYATUL CHALIMAH
TATKALA masih kanak-kanak, Dwi Rahmawati karib dengan buku cerita. Ternyata kegemaran membaca itu berbuah manis yang membawanya menjadi penulis. April lalu, dia terpilih dalam sayembara menulis buku bacaan anak-anak Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dalam ajang ini, Dwi menjadi satu-satunya penulis asal Kaltim dari 95 penulis yang terpilih dari seluruh Indonesia. Saat ini pun dia menjadi salah satu nominator penerima Anugerah Tokoh Kebahasaan kategori Pegiat Literasi.
Sejak 2013, Dwi sudah memproduksi 30 buku. Masing-masing 15 buku untuk anak-anak dan antologi dewasa. Meski demikian, menulis buku bacaan anak, punya kesusahan tersendiri.
“Cerita harus mengalir dari pengalaman anak. Enggak boleh bertutur dan menasihati,” terang perempuan kelahiran 16 Juli 1980 tersebut.
Dia menambahkan, cerita harus bagian dari pengalaman anak yang mencoba lalu berbuat salah, kemudian memperbaikinya. Kalimat pun tak boleh panjang-panjang. Sehingga, anak mudah memahami. “Kalau cerita yang saya buat dalam sayembara Kemendikbud tahun ini, saya pakai kearifan lokal Kaltim. Kebetulan, di sekitar rumah saya, banyak perajin manik-manik. Nah, saya ambil cerita soal anak dari Pulau Jawa yang mengenal kerajinan manik-manik Kaltim,” jelas ibu tiga anak tersebut.
Dwi mulai menulis sejak SMP. Berbekal buku dan pulpen, dia mengisahkan kembali cerita-cerita yang pernah dia dengar dari sang ibu sejak kecil sebelum tidur. Kini, kebiasaan mendongeng dia teruskan untuk tiga anaknya.
“Dongeng favorit saya itu Putri Nirmala dan Oki,” kenang istri Mohammad Asmuni tersebut.
Dwi mengatakan, kans penulis bacaan anak di Kaltim maupun Samarinda, cukup besar. Banyak kearifan lokal dari Kaltim bisa diangkat. Sehingga, anak Kaltim pun tertarik membaca dan bisa lebih dekat dengan daerahnya. “Hanya saja, sedikit sekali penulis yang mau fokus di ranah ini,” akunya.
Dia menambahkan, komunitas penulis nasional pun, mayoritas berasal dari Pulau Jawa. Selain itu, regenerasi penulis-penulis muda masih minim.
Karena itu, dia berharap minat anak-anak membaca dan menulis bisa tinggi agar regenerasi berlanjut. “Semuanya, bisa berawal dari kebiasaan keluarga,” pungkasnya. (ypl/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria