PERNAH melintas di sepanjang jembatan gantung yang ada di kecamatan Segah? Di saat jumlah penduduk tak sebanyak sekarang, kondisi jalan tidak senyaman kini, lalulalang kendaraan masih bisa dihitung. Sekarang sudah sungguh jauh berbeda.
Saya ingat persis, saat akan melakukan perjalanan ke wilayah kecamatan, Segah misalnya, belum berangkat rasanya sudah menderita. Apalagi, saat musim hujan. Jalan berlumpur selepas kampung Labanan. Kiri dan kanan jalan, masih terlihat tegakan pohon berukuran besar. Kendaraan harus siap menarik, atau ditarik kendaraan lainnya.
Sebelumnya, ada angkutan reguler kapal dari Tanjung Redeb menuju Segah. Kapal ini dimanfaatkan warga yang ingin berbelanja. Teman-teman yang bertugas di kecamatan, termasuk anggota Polsek Segah. Ini pilihan transportasi yang menjadi urat nadi.
Banyak teman saya yang pernah bertugas sebagai camat Segah, pasti merasakan sensasi ini. Segah jadi salah satu wilayah yang miskin fasilitas saat itu. Tak usah bicara soal listrik dan air bersih, apalagi soal jaringan telepon. Herannya, ada saja camat yang betah bertugas hingga lebih dari lima tahun.
Dua kampung Tepian Buah dan Gunung Sari, terpisah oleh sungai. Jaraknya sangat dekat sekali. Tapi warganya tak bisa bersosialisasi setiap saat. Di sinilah terpikir untuk membuat jembatan penghubung. Jembatan yang dikhususkan bagi pejalan kaki. Ataupun bila terpaksa, bisa dilewati kendaraan roda dua.
Jadi menarik. Merasakan pertama kali melewati jembatan berjalan kaki sambil bergoyang. Seperti orang yang lagi mabuk. Masyarakat di dua kampung merasa bersyukur. Mereka bisa saling berkunjung.
Ada usulan membuat jembatan besar permanen menyeberangi Sungai Segah. Buat siapa? Selain biayanya yang besar, juga kendaraan masih sangat sedikit. Saat itu dilupakan, di kampung Gunung Sari tengah bergeliat pembukaan lahan kebun kelapa sawit. Ada, mobilisasi kendaraan perusahaan. Tak ada tempat menyeberang.
Nekat, jembatan gantung yang dibangun khusus pejalan kaki dan kendaraan roda dua, dilalui kendaraan roda empat. Pemandangan yang mengerikan. Bebannya yang berat. Kendaraan yang hanya tersisa beberapa sentimeter di dua sisinya. Berjalan pelan. Menikmati goyangan.
Sabtu (24/8), saya mengunjungi Segah. Melihat jembatan gantung. Suara lantai jembatan semakin nyaring. Sama seperti dulu, setiap ada kendaraan lewat. Membayangkan lagi, saat kendaraan roda empat ‘nekat’ melewati jembatan ini.
Sekarang tidak lagi. Ada jembatan besar yang dibangun untuk merangsang investasi di wilayah kecamatan. Warga Kampung Gunung Sari juga bisa leluasa dengan kendaraan barunya, melewati jembatan besar.
Jalan menuju Segah, sudah lama beraspal. Kendaraan bisa melaju kencang. Hanya hutannya tak selebat dulu lagi. Sekarang berganti pohon sawit dan kebun Semangka. Rumah warga transmigrasi, sudah berubah menjadi rumah permanen. Ini dampak dari hadirnya sebuah perkebunan besar.
Saat akan kembali ke Tanjung Redeb, tiba-tiba ada yang menahan kendaraan yang saya tumpangi. Saya masih ingat wajahnya. Tapi lupa namanya. Setahu saya dulu ia anggota Polsek Segah. Sejak awal Agustus, sudah purna tugas. Ia menginformasikan soal kondisi jembatan besar itu. Katanya mengkhawatirkan, bila tidak ditangani segera.
Sayapun meluncur melihat jembatan dimaksud. Tak ada masalah di permukaan. Melihat ke bawah, rupanya fondasi di dua sisi rawan gerusan. Memang benar, bila tak segera diperhatikan, khawatir fondasi di dua bentangan akan mengganggu konstruksi jembatan.
Meluncur ke Tanjung Redeb, masih teringat jembatan gantung. Teringat ibu-ibu yang berkendaraan dengan lajunya. Memang harus laju. Bila perlahan, sangat terasa goyangannya. Goyangan jembatan gantung. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post