Jauh di pelosok Kukar, sebuah desa dengan status tertinggal justru menjadi simbol kemandirian. Kerja keras membangun desa dengan gotong royong berbuah prestasi tingkat nasional.
KETUA BUMDes Bersinar Desaku Ramsyah bersiap-siap menuju ibu kota negara. Dia beserta kepala desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, serta perwakilan panitia HUT Kemerdekaan RI diundang secara khusus oleh Presiden Joko Widodo ke Istana Negara.
Desa ini menjadi nominasi 10 gapura terbaik dalam Festival Cinta Negeri yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), menyambut HUT Kemerdekaan RI. Festival yang diikuti 1.793 partisipan ini menyisihkan 10 pemilik gapura terbaik.
Salah satunya Desa Muara Enggelam yang menyulap konstruksi bangunan penahan ombak serta tanaman liar menjadi gerbang cantik. Desa yang diapit Danau Melintang dan Semayang ini pun berhak mendapat uang tunai Rp 50 juta.
Senin (2/9) rombongan Desa Muara Enggelam diundang bertemu Presiden untuk menerima penghargaan tersebut. Desa Muara Enggelam juga berpeluang untuk menjadi gapura terbaik pertama. "Alhamdulillah, kami berkesempatan bertemu Presiden. Kami berharap bisa menyampaikan banyak aspirasi dengan Pak Presiden," terangnya.
Ramsyah mengatakan, pengecatan serta pembuatan gapura murni hasil gotong royong warga. Sebanyak 60 warga terlibat secara bergantian menghias gapura.
Kampung yang tak memiliki daratan ini pun memang memiliki segudang prestasi. Teranyar, desa ini meraih penghargaan BUMDes kategori inovasi terbaik se-Kaltim. Selain itu, BUMDes Muara Enggelam juga mendapat penghargaan Top 99 dari KemenPAN-RB.
"Alhamdulillah, kami juga ada diundang ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan, untuk mengikuti pameran di sana. Sebuah kebanggaan buat kami," tutupnya.
Untuk diketahui, pintu gerbang berupa pagar kayu setinggi 12 meter dan membentang dua sisi, total panjangnya mencapai 100 meter di Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis. Gapura tersebut sebenarnya merupakan konstruksi penahan ombak serta tanaman liar agar tidak masuk ke kampung mereka.
Desa Muara Enggelam dikenal sebagai salah satu kampung terapung yang hanya bisa dikunjungi menggunakan sarana transportasi perahu ces atau perahu motor.
Sebelumnya, Bupati Kukar Edi Damansyah membuat terobosan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat Desa Muara Enggelam dalam mengelola listrik komunal. Hal itu merupakan upaya pemberdayaan lembaga perekonomian desa melalui pembentukan Unit Pengelola PLTS Komunal di bawah BUMDes Bersinar Desaku.
Mekanisme pengelolaannya diatur dalam peraturan desa untuk mengelola unit-unit usaha di desa dalam menggerakkan usaha ekonomi kerakyatan. Berdasar laporan keuangan BUMDes sejak Maret 2015 hingga Desember 2017, pengelolaan listrik komunal yang dilakukan secara swadaya dan transparan.
BUMDes Bersinar Desaku Muara Enggelam telah mendapatkan penghasilan bruto Rp 396.764,00 Hingga kini, Desa Muara Enggelam terus berkembang dengan potensi kearifan lokalnya. (qi/kri/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria