Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Perempuan dengan Ribuan Kepribadian

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 7 September 2019 - 19:49 WIB

SYDNEY – ”Empat puluh lima tahun, wow.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Jennifer Haynes. Dia mengucapkannya sembari tertawa lebar. Perempuan yang biasa dipanggil Jeni itu memang gembira luar biasa. Setelah puluhan tahun, orang yang menyiksa dan melecehkannya kemarin (6/9) akhirnya diganjar hukuman lebih dari empat dekade. Dia adalah sang ayah, Richard Haynes.

”Saya berharap dia dihukum 25 tahun. Jadi, ini rasanya seperti dapat bonus besar,” terang dia saat keluar dari Pengadilan Distrik Downing Centre, Sydney, Australia.

Selama hampir dua jam, Jeni mendengarkan hakim Sarah Huggett membacakan 25 dakwaan yang menjerat Richard. Itu adalah 2 jam yang menyiksa sekaligus melegakan. Sebab, akhirnya ada orang yang memberi tahu Richard tentang kekejian yang dilakukannya selama ini terhadap Jeni.

Pria 74 tahun itu dinyatakan bersalah atas semua dakwaan tersebut. Dia baru bisa bebas bersyarat jika sudah menjalani 33 tahun masa hukuman. Dengan kata lain, sangat mungkin Richard bakal mati di balik jeruji besi.

Kisah pilu kehidupan Jeni dimulai ketika keluarganya pindah dari Inggris ke Australia pada 1974. Saat itu Jeni baru berusia 4 tahun. Entah setan apa yang merasuki si ayah, tapi sejak itulah dia mulai menyiksa dan memerkosa Jeni hampir setiap hari. Richard juga menyodomi putri kecilnya. Dia tidak peduli meski saat itu Jeni kecil berdarah dan terkencing-kencing.

”Dia mendengar saya memintanya untuk berhenti, mendengar saya menangis, melihat kesakitan dan teror yang dia sebabkan, melihat darah dan kerusakan fisik karena hal itu. Dan keesokan harinya dia tetap mengulangi perbuatannya,” ujar Jeni.

Tak tahan, Jeni akhirnya menciptakan alter ego bernama Symphony. Dia adalah sosok gadis kecil yang berusia 4 tahun. Saat memerkosa Jeni, sejatinya ayahnya sedang memerkosa Symphony. Seiring berjalannya waktu, Symphony menciptakan alter ego lain untuk mengatasi beban mentalnya. Saat ini jumlahnya mencapai 2.500-an sosok.

Jeni positif menderita multiple personality disorder (MPD) atau dissociative identity disorder (DID). Enam di antara alter egonya Maret lalu memberikan kesaksian di pengadilan. Itu adalah kasus pertama di Australia, penderita DID menjadi korban kejahatan dan memberikan kesaksian lewat para alter egonya.

Setiap hari Richard meneror Jeni. Dia mengaku bisa membaca pikirannya. Richard juga mengancam akan membunuh ibu dan saudara-saudara Jeni jika buka suara. Dia juga tak suka Jeni bergaul dengan orang lain.

Kekejian Richard berlangsung hingga Jeni berusia 11 tahun. Selama itu pula Jeni menolak mendapat pengobatan untuk luka-lukanya selama dilecehkan si ayah. Imbasnya, dia menderita cacat fisik jangka panjang. Perempuan 49 tahun itu mengalami cacat permanen pada mata, perut, anus, gigi, dan tulang ekornya. Dia akhirnya harus menjalani operasi kolostomi pada 2011. Kini dia harus memakai kantong kolostomi sepanjang hidupnya.

Jeni juga sempat ditolak beberapa terapis karena mereka tidak tahan dengan ceritanya yang begitu traumatis. Dia takut merayakan ulang tahun, pergi ke kamar mandi, susah menjalin hubungan dengan orang sekitarnya, bahkan sulit menikmati makanan.

Orang tua Jeni berpisah pada 1984. Tapi, Jeni baru bernyali melaporkan ayahnya pada 2009. Polisi butuh waktu 10 tahun untuk menyelidiki dan menyeret Richard ke balik jeruji besi. Dia diekstradisi dari Darlington, Inggris, pada 2017.

Hakim tidak pernah menghadirkan juri seperti dalam persidangan pada umumnya. Kasus tersebut dinilai begitu kelam sehingga ditakutkan akan menimbulkan trauma mendalam pada para juri. Jeni juga tak ingin namanya disamarkan seperti korban pelecehan pada umumnya. Dengan begitu, nama ayahnya sebagai pelaku juga bakal terungkap.

”Kini saya tak perlu memikirkannya lagi. Saya bisa memiliki hidup saya lagi dan melakukan segala yang saya inginkan,” ujarnya. (sha/c10/dos)

 

 

Mereka yang Terbelah Kepribadiannya

 

– Shirley Ardell Mason memiliki kepribadian ganda karena sang ibu yang menderita gangguan jiwa kerap menyiksanya. Kisahnya diungkap dalam buku berjudul Sybil: The True Story of a Woman Possessed by 16 Separate Personalities.

Nama Mason disamarkan menjadi Sybil Isabel Dorsett. Buku itu lantas diadaptasi menjadi sebuah film. Belakangan, diagnosis Mason menderita dissociative identity disorder (DID) dipertanyakan. Dia diduga salah diagnosis.

– Juanita Maxwell melakukan pembunuhan Maret 1979, saat bekerja sebagai pelayan di Fort Myers Hotel, Florida, AS. Maxwell ternyata memiliki enam kepribadian. Yang membunuh adalah Wanda Weston, salah satu sosok di dalam dirinya. Maxwell dirawat di rumah sakit jiwa sebelum akhirnya keluar dan merampok bank. Lagi-lagi, Wanda Weston yang melakukan.

– Pada 14–26 Oktober 1977 terjadi tiga penculikan, perampokan, dan pemerkosaan di dekat Ohio State University. Para korban mendeskripsikan orang yang berbeda-beda, padahal pelakunya satu orang, yaitu Billy Milligan.

Setelah ditangkap, dia didiagnosis punya 24 kepribadian. Dia dirujuk ke rumah sakit jiwa. Kisahnya dibukukan dengan judul The Minds of Billy Milligan dan difilmkan dengan judul The Crowded Room yang dibintangi Leonardo DiCaprio.

– Truddi Chase mengeklaim punya beberapa kepribadian sejak usia 2 tahun. Ayah angkatnya kerap melecehkannya secara fisik dan seksual. Ibunya melukainya secara emosional selama 12 tahun. Dia akhirnya punya 92 kepribadian yang disebutnya sebagai The Troops. Dia dan terapisnya menulis buku berjudul When Rabbit Howls yang kemudian diadaptasi ke miniseri televisi pada 1990-an. Dia juga pernah diundang di acara The Oprah Winfrey Show.

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara