SEMOGA ini sementara saja. Bila selamanya, daerah akan merasakan dampaknya. Dampak yang tak nyaman. Akan mengganggu penumpang yang mau liburan. Karyawan yang mau cuti. Juga warga yang mau pulang kampung.
Jumlahnya banyak sekali. Kalau penerbangan berangkat saja dua kali sehari. Sekitar 200 penumpang akan beralih ke penerbangan lain. Belum lagi penumpang yang akan ke Berau. Jumlahnya kurang lebih sama.
Sengaja saya ke Bandara Kalimarau kemarin (1/10). Hanya mau melihat suasana, setelah ramainya berita maskapai Sriwijaya Air tidak lagi beroperasi. Tiba pada jam tibanya pesawat dari Balikpapan. Nampak sepi. Tempat check in yang berhadapan dengan pintu masuk, juga terlihgat lengang. Tak ada petugas.
Semakin yakin, pesawat ini benar-benar tidak terbang lagi ke Berau. Perjalanan ke lantai dua, ruang tunggu keberangkatan, melewati ruang kecil. Ruang yang biasa digunakan para karyawan Ground Handling.
Ada beberapa orang terlihat duduk sambil memainkan telepon selulernya. Ada juga yang duduk berhadapan dengan petugas. Saya hanya menduga-duga. Mungkin mereka sedang melakukan refund tiket. Pembatalan perjalanan. Atau memilih maskapai lain.
Di ruang tunggu keberangakatan, juga tidak terlalu ramai. Hanya ada penumpang Garuda Indonesia dan penumpang Wings Air, pada pintu yang berbeda. Terasa memang sepinya. Jauh berbeda saat Sriwijaya masih terbang normal.
Tak lama di lantai dua, saya bergerak ke luar bandara. Juga melewati loket dalam perjalanan menuju tempat parkir. Di dalam ruangan, ada petugas. Tapi ada tulisan berwarna merah ‘TUTUP’. Semakin yakin, Sriwijaya tidak membuka tiket untuk beberapa rute. Juga ada tulisan ‘Delayed’ pada televisi untuk beberapa jurusan.
Mau mendapatkan informasi akurat, kepada siapa. Pastilah anak-anak yang ada di loket maupun ruangan kecil, tidak akan menjawab. Teman saya yang tugas di Sriwijaya, juga sudah pindah ke Banjarmasin. Bisa jadi, kondisinya juga sama.
Di pintu kedatangan, saya melihat puluhan warga yang menggunakan baju yang sama. Mereka dari Laskar Merah Putih. Pimpinan wilayahnya tiba dengan pesawat Garuda. Siang ini, teman saya Pak Udin yang kabarnya dipercaya sebagai Ketua Laskar Merah Putih Berau akan dilantik bersama jajarannya.
Perjalanan menuju tempat parkir, masih diliputi tanda tanya. Betulkan Sriwijaya akan berhenti terbang. Pesawat yang sudah melayani penerbangan reguler yang cukup lama. Bagaimana nasib karyawannya. Bagaimana perusahaan kargo yang sebagian besar barang titipannya menggunakan jasa angkutan Sriwijaya.
Bagaimana tetangga saya yang sudah akrab dengan penerbangan ini, bila ingin pulang kampung ke Makassar. Bagaimana karyawan perusahaan tambang batu bara dan perkebunan kelapa sawit, bila ingin pulang ke Surabaya. Mereka sangat akrab dengan pesawat Sriwijaya yang punya tagline Your Flying Partner.
Harus segera ada gantinya. Mengoperasikan pesawat jenis Boeing 737-300 atau seri 500. Ada beberapa kali pesawat Wings yang melakukan penerbangan reguler. Tapi mengoperasikan pesawat ATR-72. Solusinya, tambah jadwal penerbangan, agar semua penumpang bisa terakomodir. Peluang bagi maskapai lainnya.
Teman saya, yang setiap akhir pekan terbang ke Solo, dengan jasa angkutan Sriwijaya, mulai bertanya-tanya. Rupanya, ia sudah membuka tiket sejak jauh hari. Bagaimana harus mengembalikan tiket yang terlanjur sudah ia beli.
Istri saya juga lebih pusing. Ia sudah pesan ikan Koi dari Jember. Biasanya menggunakan jasa kargo yang diangkut pesawat Sriwijaya dari Surabaya. “Kalau begini, bisa tidak sampai pesanan saya,” kata istri saya.
Memang harus sabar. Moga saja ini sifatnya sementara. Beberapa hari ke depan, sudah normal lagi. Semua akan lancar lagi. Karyawan tidak ada rasa waswas akan dirumahkan. Juga ikan Koi pesanan istri saya, bisa tiba dalam kondisi masih segar. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post