SAMARINDA. Wakil Wali Kota Samarinda M Barkati mengapresiasi kegiatan haul jamak warga Gang 28 Jalan Cut Meutia eks Jalan Banjar di Masjid An Najahur Rahman, Rabu (25/12). Haul Jamak atau doa arwah bagi 384 anggota keluarga leluhur yang sudah wafat sejak 1970 ini sudah menjadi tradisi tahunan yang di tahun ketiga.
“Atas nama pemerintah kota, kami sangat mengapresiasi tradisi positif ini. Selain wadah silaturahmi sesama warga di Jalan Banjar ini karena sudah banyak tidak berdiam di sini lagi, juga utama untuk mendoakan orang tua dan leluhur kita,” ucap Barkati dalam sambutannya.
Menurut Barkati, baik yang masih hidup dan yang sudah mendahului untuk saling mengingatkan. “Yang hidup kita bersilaturahmi, bagi yang sudah mendahului kita dengan cara haul ini mengirimkan doa maupun surah Al Fatihah. Terlebih kepada orang tua kita minimal seusai salat, apalagi sewaktu beliau masih hidup tapi belum sempat membahagiakannya. Jadi lewat doa inilah,” tutur Barkati.
Sementara Ketua Dewan Pengurus Masjid An Najahur Rahman Djazuli Syukur mengatakan, tradisi ini dimulai sejak dua tahun lalu diperuntukkan bagi sanak keluarga, kerabat, orang tua, maupun guru sebagai bentuk bakti anak terhadap orang tua dan kasih sayang kepada keluarga yang meninggal dunia.
Melalui kegiatan ini, sebutnya, bisa memotivasi anak-anak muda atau generasi yang ada sekarang senantiasa berbakti kepada keluarga baik yang hidup terlebih yang sudah meninggal dengan cara mendoakan, memberikan sumbangan atas nama keluarga yang sudah meninggal dan menyambung silaturahmi dengan kerabat yang sudah meninggal.
Diharapkannya dapat diikuti semua warga muslim di Samarinda, terlebih tradisi ini tidak menyalahi ajaran agama karena dapat mempererat silaturahmi antarwarga terlebih mereka yang sudah tak berdomisili di sini. KH Bachtiar dalam tausiahnya diantaranya mengutarakan bahwa sebanyak 384 almarhum yang telah meninggal merasa bangga dan bahagia karena dikirimi doa.
“Semuanya senyum di alam barzah mendapatkan kiriman doa. Apalagi yang hari ini di dalam masjid ada pula anak-anaknya. Yang menyedihkan ketika dibaca namanya, tapi anaknya tidak ada,” tutur ustaz yang sedang berjuang membangun pondok pesantren di Sentosa Dalam ini.
Adapun prosesi diawali pembacaan ayat suci Alquran qari cilik dan tausiah dai cilik Nur Zaenab dipimpin Ustaz KH Bachtiar. Semua warga yang sebagian besar keluarga almarhum membacakan surah Al Fatihah disambung Surah Yasin, selawat, tahlil, tahmid, takbir dan doa bersama lebih kurang 3 jam. (*/s/kmf2/nin)
Editor : rusli-Admin Sapos