BALIKPAPAN – Tingkat kecuraman di ruas jalan MT Haryono, khususnya di sejumlah tanjakan sekitar RS Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) telah berkali-kali disinyalir penyebab kecelakaan di kawasan itu. Derajat kecuraman jalan yang hingga 18 persen disebut jauh di atas standar. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menetapkan 10 persen sebagai standar kecuraman suatu tanjakan.
Menanggapi hal ini, pihak Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XII Balikpapan menyebut telah melakukan evaluasi. Kasi Perencanaan BPJN XII Balikpapan Rizal F menyebutkan, pihaknya menyadari persoalan tingkat kecuraman yang ada. Ia mengatakan, tidak masalah jika kecuraman melebihi standardisasi. Walaupun, akan ada risiko-risiko yang harus diantisipasi.
Meski begitu, dirinya mengungkapkan pihak BPJN XII Balikpapan telah mengajukan usulan terkait perbaikan jalan. “Sudah kita ajukan usulan (perbaikan jalan) ke pusat awal 2018. Tapi memang belum disetujui,” tuturnya.
Dia menambahkan perbaikan jalan utama memang perlu pertimbangan. Selain diperlukan alternatif lain, mengingat kawasan Jalan MT Haryono adalah jalan utama. Ia menyebut, kebutuhan dana juga menjadi pertimbangan.
Di mana, dana yang ada sering dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih prioritas. Misalnya terjadi bencana alam, maka dana tersebut akan beralih ke program bantuan dari kantor pusat.
Ia pun mengingatkan, pihaknya sebagai pelaksana saja. Jika suatu opini disampaikan, persetujuan tetap berada di tangan Kementerian PUPR.
Terkait rencana perbaikan yang telah diusulkan, ia berujar sudah diajukan berupa desain. Rencananya jalan di kawasan tersebut (MT Haryono) akan dipotong atau direndahkan.
Pihaknya tentu menarget pemotongan jalan akan mencapai ukuran yang ditetapkan. Akan tetapi, proyek besar tak akan lepas dari dana yang besar pula.
Juga, masalah pembebasan lahan yang sering kali melibatkan masyarakat. Permasalahan yang mestinya menjadi tanggung jawab pemerintah kota. “Intinya, perlu banyak pertimbangan untuk merealisasikan (usulan tersebut), singkat dia.
Perihal tingkat kecelakaan lalu lintas yang rentan terjadi, ia menyebut kondisi jalan bukanlah faktor utamanya. Ia berkata, hal tersebut jelas dipengaruhi perilaku pengendara. Pengemudi harusnya paham kondisi jalur yang akan dilalui. Serta memastikan kendaraan yang dibawa memiliki kualitas mesin yang baik.
Lanjutnya, pengkajian lalu lintas juga diperlukan. Sarana seperti lampu lalu lintas perlu diperhatikan, apakah dibutuhkan atau tidak.
Terakhir, ia mengatakan belum dapat memastikan kapan tepatnya perbaikan kondisi Jalan MT Haryono akan direalisasikan. Yang jelas, pihaknya mengakui perlu dilakukan perubahan di kawasan tersebut. (*/okt/ms/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria