BALIKPAPAN– Konstruksi beton jalan tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) dinilai membahayakan pengendara. Permukaan jalan beton disebut menimbulkan panas yang lebih tinggi ketimbang jalan aspal. Sehingga dikhawatirkan membuat ban meletus saat melintas.
Penilaian itu disampaikan pengamat transportasi Universitas Balikpapan (Uniba) Rahmat Rusli. Dia mengatakan, lebih dari 90 persen konstruksi Tol Balsam merupakan rigid pavement atau pengerasan kaku. Atau lebih dikenal dengan beton. Menurutnya, konstruksi itu berbeda dengan kebanyakan tol di Indonesia. Dengan jarak sepanjang 99,3 kilometer, beton dianggap mempercepat tingkat keausan.
Sehingga ambang kecepatan maksimal dibatasi sampai 80 kilometer per jam. “Apalagi suhu permukaan rigid pavement lebih panas dari flexible pavement (aspal) saat siang hari. Jadi proses terkikisnya ban lebih tinggi. Dan bisa terjadi pecah ban yang bisa berakibat pada kecelakaan fatal,” katanya kemarin (26/12). Pria berkacamata ini melanjutkan, faktor lain yang bisa membuat ban cepat terkikis adalah tingkat kemulusan jalan beton itu sendiri.
Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Uniba ini pun menyarankan, agar lebih aman, konstruksi beton Tol Balsam dilapisi aspal di atasnya. Itu bertujuan mengantisipasi ban terkikis lebih cepat saat melintas di tol pertama di Kalimantan itu. “Saya belum bisa komentar berapa kali pakai. Tapi bisa mengurangi umur ban, daripada jalan aspal. Karena compound-nya lebih cepat terkikis. Sehingga bisa membuat permukaan ban menjadi licin,” ujar Rahmat.
Jika permukaan ban menjadi licin, sambung dia, bisa menimbulkan bahaya yang cukup tinggi saat berkendara di jalan beton. Apalagi, saat kendaraan melewati tikungan, bisa membuat gaya sentrifugal yang berakibat kendaraan oleng. Lalu terpaan angin di jalan lurus, juga mampu membuat kendaraan menjadi tidak stabil. Sehingga tingkat kecelakaan menjadi tinggi. Di mana berdasarkan data yang dia terima dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), jarak pandang pada Tol Balsam berkisar 250-300 meter. Dengan jumlah tikungan sebanyak 59 titik.
“Makanya penting untuk melapisi flexible pavement di atas rigid pavement untuk jalan Tol Balsam. Karena jalan aspal lebih halus, sehingga minim gesekan. Dan membuat ban lebih awet,” pesan dia. Sementara itu, Direktur Teknik dan Operasi PT Jasamarga Balikpapan Samarinda (JBS) Edy Nugraha mengatakan, penggunaan rigid pavement untuk tol merupakan hal yang biasa.
Menurutnya, hampir semua tol yang ada di Indonesia dominan menggunakan konstruksi rigid pavement. Dan sebagian besar konstruksi jalan di Tol Balsam menggunakan beton. “Jadi enggak ada yang berbeda soal ini dengan jalan tol yang lain,” ujarnya. Dikatakan, pada Seksi II-IV yang dikerjakan PT JBS semua menggunakan konstruksi beton. Lapisan aspal hanya digunakan untuk jalan beton yang di bawahnya ada konstruksi pile slab atau jalan pendekat.
Selain itu, konstruksi beton yang digunakan pada Tol Balsam juga sesuai standar dari Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR. “Intinya pembangunan Tol Balsam, sudah mengikuti gambar dan spesifikasi teknis yang ditetapkan pemerintah. Kami hanya mengikuti standar desain dari (Ditjen) Bina Marga (Kementerian PUPR) dan BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol),” katanya.
Terpisah, Kepala Satker Tol Balsam Bedru Cahyono menerangkan, standar desain yang ditetapkan Kementerian PUPR memang menggunakan konstruksi rigid pavement. Sehingga pihaknya hanya menjalankan sesuai desain yang telah ditetapkan tersebut. Mengenai jenis perkerasan permukaan beton atau aspal, dia menerangkan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
“Betul aspal memang lebih nyaman, tapi ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Misal umur konstruksi, ketahanan, kemudahan pelaksanaan dan lain-lain. Dan semua punya keunggulan dan kelemahan masing-masing,” jabarnya. Dia pun mengamini jika konstruksi aspal jauh lebih nyaman dan membuat usia ban relatif lebih panjang. Sementara konstruksi beton dinilai lebih memperpendek usia ban. Karena tingkat gesekannya yang jauh lebih tinggi.
Walau begitu tidak begitu memengaruhi aspek keamanan berkendara di tol. “Untuk aspek keamanan pada dasarnya sama. Asal ketentuannya dipatuhi. Misalkan mematuhi batas kecepatan dan selalu memerhatikan kondisi ban dan kendaraan,” pesan dia.
Bedru menambahkan, pada tol trans-Jawa yang sudah beroperasi, sebagian besar menggunakan konstruksi rigid pavement. Demikian pula pada tol trans-Sumatra. “Tapi ada lokasi spot-spot yang menggunakan aspal karena di atas tanah lunak,” kata dia.
Pada titik lokasi pemasangan konstruksi aspal itu, secara teknis dibolehkan. Penyebabnya, ada penurunan tanah dengan angka tertentu setiap tahunnya. Titik khusus yang menggunakan konstruksi flexible pavement itu sampai tidak ada penurunan tanah lagi. Dengan panjang sekira 3 kilometer, lokasinya pada Seksi V Tol Balsam. Di atas jembatan pendekat atau pile slab. “Nah dalam periode penurunan itu, kalau permukaannya aspal bisa lebih mudah dilapis ulang,” jawab kepala Satker yang mengurusi Seksi V Tol Balsam ini. (kip/riz/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria